Binanalar

Bolehkah Aku Mengadu Pada Tuhan Kedua

VIRAL 30 Dec 2017 13:39

Bolehkah Aku Mengadu Pada Tuhan Kedua
google.com

binanalar.com

 

Televisi menyala terang kala malam pada berpulang. Acaranya seakan tak mau mengulang sesekali di waktu luang, pembaca acara di televisi pandai berbicara tanpa hambatan. Nampaknya dia mengejar target siar sama dengan stasiun televisi lainnya. Layaknya sebuah pertunjukkan, setelah membacakan naskah mereka akan tutup dan selesai semua perkara. Namun tidak dengan penonton yang menikmatinya.

Zacky tidak bisa tidur mendengarkan salah satu acara keagamaan yang sudah agenda tahunan dilakukan di televisi ketika bulan puasa. Ada yang membawakan agama dengan komedi, ada komedi disisipkan agama dan begitulah seterusnya. Bulan punya harus banyak ketawa begitulah ia menyimpulkan acara itu.

“Lucu yah acaranya?” Tanya Ibu Zacky

“Yang penting lucunya apa nasehatnya?” timpal Zacky

“Kalau ibu dua-dua saja, biar tidak jenuh kayak dipengajian?”

“Zacky mah inginnya acara semacam ini tak ada!”

“Kok gitu Ky,,,,bukanya itu baik bisa menjadi hiburan bulan puasa,”

“Ibu mau tidak jadi kalau jadi bahan uji coba iklan prodak setiap harinya, apa-apa mereka bicara disponsori ini dan itu, dan kita harus menerima kalau prodak itu baik dengan membelinya, Zacky tetap tak ingin”

“Zacky dengerin kata ibu dulu, itu tidak baik sekali jika menuduh demikian bukan!”

“Justeru saat ibu dengerin Zacky soal ini, apa tujuan mereka mengiklankan prodak makanan dalam acara itu, agar kita mengkonsumsinya kan. Tidak bisakan kita sedikit lebih sabar dan sederhana di bulan puasa ini bukan,”

Ibu Zacky memang faham tabiat anaknya jika soal pilihan dia tak mau mengalah pada siapapun. Walaupun membuat gusar tetapi ibunya merasa senang kerena dalam setiap persoalan dia bisa menjelaskan itu dengan caranya sendiri.

“Kalau Zacky sudah muak dengan acara itu kenapa tidak dimatikan saja?” suruhnya pada Zacky.

“Hehehehe…nunggu pertandingan bola bu…”

“Lah sama saja toh…itu ada iklan dan minuman keras merusak lagi,”

“Aku tidak menonton iklannya Bu…cukup pertandingannya saja,”

“Kamu yah gak pernah ngalah soal tontonan,” tegur ibunya.

## ## ##

Puasa sungguh meletihkan dijalankan ditengah ibu kota Jakarta. Begitu banya godaan mulai warung yang tak tutup sampai Pekerja Seks Komersial (PSK) yang masih mau mangkal demi bertahan hidup. Salahkah mereka? Zacky tak berani membuka sosial media di Handphone nya. Bukan hanya godaan makanan tetapi nafsu.

Tak lepas waktu lama, sebuah pasan masuk di Handphonenya. Di cek dari kawannya Safira “Jek..besok ketemuan yah ada perlu jam 3 siang sekalian kita buka puasa bareng di tempat biasa,” bunyi pesan singkat itu.

Kepala Zacky mulai berpikir jika tak datang merusak ukhuwah sebaliknya hadir ada beban yang tak tahan dibenak Zacky yaitu rasa. Dia beranikan diri menyanggupi permintaan Safira. Cukup sebagai kata jangan sampai menjadi fantasi. Di coba kemudian melakukan kegiatan agar mengalihkan dari pikiran pesan tadi. Kepalanya hanya berisi “ingat puasa….ingat puasaa..”

Siang setiang nanggala jajarnya dan panasnya menurun walau gerah masih mendesak kerongkongan dengan dahaga  yang masih menyiksa bagi mereka yang puasa. Zacky sudah duduk di kursi di mana Safira akan menemuinya, dia membaca buku ringan untuk menemani suntuknya kerana kantuk nyatanya lebih kuat menyergap pikirannya ketimbang janji bertemu Safira.

“Jek…woyy ngantuk lu..?” mata Zacky menoleh kaget menatap wanita yang masih meremang di lensa matanya. Dia coba menfokuskan matanya yang berselimut ngantuk dan dia dapati wanita semampai berkacamata dialah Safira.

“Lama lu….ane udah makan malah,” jawab Zacky.

“Songong bulan puasa mana berani lu,”

“Oh ya ada apaan nih kok ada agenda dadakan gini Fir?” mulai pembicaraan Zacky.

“Sabar dulu dong, kau tidak pernah tenang dari dulu kalau sedang berduaan gini denganku Jek,” ungkapan Safira sontak menyentak Zacky dan itulah kebenarannya.

“Hemmm bukan begitu, biar jelas saja dan pembahasan ini makin hangat dan panjang Fir,”

Safira mengambil selembar kertas dari tasnya. Bentuknya sudah kusut dan tidak terlihat begitu penting, lebih Nampak seperti bill pembayaran yang sudah seharusya dibuang. Safira pegang itu kertas dan coba membacakanya di depan Zacky.

Suara Safira tertahan dalam, kelu lidahnya menahan lidahnya. Mulutnya belum mengeluarkan bunyi apapun selain rengkuan napasnya yang terasa di kunyah makin dalam  di dadanya. Zacky gugup melihat bola matanya dipandangi dalam oleh Safira, dan dia pun berpaling.

“Jek…lihat aku, kenapa kau tak pernah bisa fokus kalau berduaan gini,”

“Ya salamm…takut batal puasa ane,”

“Salah satu dari kita harus batal ini atau setidaknya kita sama-sama batal,”

Perkataanya Safira agak megenyitkan dahi Zacky.

“Apaan sih kok belum faham, dan ada hal apa kok puasa kita harus batal Fir,”

“Dengarkan Jek,” Safira membua kertas yang sebagia masih terlipat rapih.

Di tangga Ramadan tak berbulan

Kusemai cahaya di balik jendela tak berkaca

Membias lalu melingkarkan pelangi di mata

Ramadan kini dan nanti

Di doa antara tasdid dan saktah tuhan

Kubungkus dia dalam ruang pesakitan dadaku

Kuselamatkan dia di sukma

Walau waktu menerbangkannya kemudian

Seolah diriku nelayan di tengah samudera nya

Dan engkau permata di dasar lautan

Terpisah antara gelombang dan arus

Kita bagai ombak dan pantai

Mengecup manis berjuata kali walau tau pernah abadi

Jalaku hanya memburu sesal lautanmu

Sedang kau terayun di kebingungan samudera nya

Kala Ramadan ini selesai

Dan setan-setan pulang

Kuingin dengan hati terbuka

Dengan apa caranya

Kau bisa membacanya

Dan tinggalkan pribadiku tetap ada.

(Kampus, 2014)

Zacky diam, hatinya bercampur kalut di saat suara lirih Safira menutupnya. Safira tak memperjelas dan berusaha tidak memulai pembicaraan setelah puisi itu selesai dibaca. Zacky masih kelu lidahnya, di tak bergerak dan berusaha menghindar di saat tatapan Safira makin bersiku ke Zacky.

“Weyy kau baca puisi bagus banget yah,,” Zacky mencoba memulai dengan sindiran canda.

Mata Safira justeru tidak tenang dan sedikit berkaca-kaca. Zacky kembali diam. Tak berselang lama Safira mengeluarkan satu binder dari tasnya dan dilemparkannya ke hadapan Zacky dengan keras. Tangan Zacky membukanya dengan pelan. Lagi-lagi dia tambah kaget dengan isinya.

“Kau dapat dari mana ini kertas-kertas?” nada Zacky meninggi terlihat dia mau marah tapi pada siapa.

“Yang harus jawab itu kau, kenapa kau menulisnya,” sergah Safira.

Dua pemudi itu sedang dalam kondisi tidak stabil. Yang satu mencari celah lari dan satunya menetap.

“Kau belum jawab Fir..ini sangat penting bagiku, kenapa bisa ada di dirimu. Dan kenapa kau bacakan puisi itu barusan,” kesal Zacky.

“Apa pentingnya itu bagimu kini dari pada kau berterus tengan pada orangnya langsung, lama aku mencari penulis puisi ini. Seenaknya saja lari setelah seoalah-seoalah dadaku itu baja,”

Zacky menarik nafas dan mencoba membetulkan posisi duduknya. Tanganya mengambil kertas dan pena dari dalam tasnya dan menulis sesuatu yang dirinya sendiri tak yakin dengan apa isinya. Dia tak menjawab di hadapan Safira yang seolah sedang mengintrogasi dirinya.

“Fir..aku tak bisa mengatakannya, semoga dalam kertas ini pertanyaanmu terjawab, semoga ibadahmu tidak batal,”

Zacky menyodorkan secarik kertas di depan Safira dan kemudian berlalu begitu saja dengan kepala tentunduk. Safira tak berucap apapun selain meraba kertas dan coba membukanya.

Aku harus tertawa lepas kini

Tak ada senang yang harus digembirakan

Dan tak ada haru disedihkan….

kata-kata itu telah menemukan muaranya

Selamat……..!

dan seakan lamaku menunggu

tertukas meminta jelas dalam singkat

sungguh bukan gula kutelan selama ini

karena pusaran waktu menggambil serta seleraku

aku akan berhenti menunggu

namun kata-kataku mendesaknya

sebab ia tahu setiap luapan tintaku

hilang akalku, jengah mentalku

itu semua sumur mandimu.

Safira tertawa namun air matanya menetes pelan. Dia buru-buru mengusap dan berhenti sebab takut puasanya batal. Dia kembali menatap Zacky yang sedang mengayuh langkahnya keluar pulang. Sebelum bernar-benar hilang, dia melipat kertas yang ditulis Zacky dia mendapati satu kalimat dibelakang kertas dan membacanya kembali.

Setelah Ramadan ini aku benar-benar menjadi setanmu

Menggodamu hingga kau satu langkah di samping selamanya….

Kini tangis itu sudah tak terbendung…15 hari di puasa menuju lebaran akan jauh lebih terasa lama baginya.

 

Penulis: Mochamad Marhaen (Penyuka Buku dan Kopi)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Terkait