Binanalar

Krisis yang Tak Lekang Waktu

VIRAL 20 Feb 2017 13:33

Krisis yang Tak Lekang Waktu

binanalar.com

Judul          : Krisis Ekonomi dan Kapitalisme

Penulis      : Mohammad Hatta
Penerbit     : Soetan Lembaq Toeah & Fa, Batavia-C, 1935
Tebal          : 89 halaman

 

Pada tahun 1934, sebuah buku ditulis dari balik jeruji sebuah penjara di Glodok, Jakarta. Buku yang dimaksud berjudul Krisis Ekonomi dan Kapitalisme, buah pena Mohammad Hatta yang kelak begitu dikenal sebagai proklamator kemerdekaan Indonesia. Buku tersebut lahir pada saat dirinya mulai ditahan untuk selanjutnya dibuang ke Digul.

Krisis Ekonomi dan Kapitalisme ini adalah sebuah buku tipis yang merupakan gabungan antara teori dan pengetahuan umum tentang perekonomian dunia pada masa tahun 1930-an. Penulisnya sengaja memilih menulis tentang krisis ekonomi dan kapitalisme tersebut di dalam sebuah buku tipis yang hanya setebal 89 halaman karena Hatta ingin buku tersebut dapat dibaca kalangan luas. Dalam pengantar, ia menyebutkan sebagai buku yang "...memberi pemandangan yang berdasarkan ilmoe dan populair...". Istilah ilmiah populer atau populair wetenschappelijk memang diketahui banyak diangkat oleh media massa pada masa tersebut.

Lebih lanjut diungkap, tujuan ditulisnya Krisis Ekonomi dan Kapitalisme adalah untuk memberi penerangan dan pengajaran. Oleh sebab itu, dalam menguraikan persoalan yang hendak dikaji, yakni kaitan antara krisis ekonomi dan kapitalisme, Hatta memulai dengan memberi pengertian tentang beberapa hal, seperti krisis dan tingkat-tingkat zaman perekonomian. Dalam pengantar buku, Hatta menjelaskan metode penguraian tersebut dengan: "...methodik jang memperkenalkan pembatja dari sedikit ke sedikit dengan masa-alah jang hendak diketahoei...".

HATTA mulai pembahasan secara bertahap, yaitu dengan menerangkan terlebih dahulu tentang pengertian krisis, khususnya yang berkaitan dengan perekonomian. Ia memulai dengan memberi gambaran tentang kesulitan yang terjadi pada masa tahun 1930-an di Indonesia. Diterangkan tentang kesulitan perekonomian yang dialami oleh hampir seluruh kalangan, di antaranya kaum buruh, terpelajar, tani, pedagang, dan industri. Hatta mengungkap, sedemikian "dekatnya" kata krisis di hampir setiap orang sehingga kata tersebut tidak hanya dapat dijumpai pada kamus-kamus ekonomi, tetapi kaum buruh kecil dan tani buta huruf pun bisa merasakan makna kata tersebut. Ditambahkan, selain krisis, satu lagi istilah yang dikenal masyarakat luas pada masa itu adalah zaman malaise, yang diartikan sebagai "zaman meleset".

Menarik untuk mengamati bagaimana Hatta menulis. Hatta penganut sistem skolastik yang khas, yang selalu mengawali tulisannya dengan memeriksa etimologi. Disebutkan, kata krisis berasal dari kata Griek krisis/krinein yang artinya keputusan. Lebih lanjut diuraikan, kata krisis ini sering digunakan pada bidang kedokteran ("...membawa kepoetoesan antara hidoep dan mati..."), politik ("...kepoetoesan tentang nasib soeatoe lembaga..."), dan ekonomi ("...membawa kepoetoesan tentang harta benda mereka jang berekonomi, menjatakan keroesakan dan keroegian jang boekan sedikit...").

Mengenai krisis, diungkap dua jenis fenomena yang biasa dibedakan, yaitu krisis dan konjunktur (kata konjunktur ditulis tetap seperti tercantum dalam buku-Red). Disebutkan, krisis sudah ada sejak zaman purbakala, sedangkan konjunktur adalah suatu gejala baru muncul seabad sebelumnya dan semata-mata berhubungan dengan kapitalisme. Di sini, Hatta mulai mengaitkan krisis dengan kapitalisme. Kata konjunktur sendiri disebutkan berasal dari bahasa Latin yang berarti menghubungkan. Yang disebut dengan satu edaran konjunktur identik dengan ombak di laut, yaitu satu kali gelombang perekonomian naik (aufschwung) dan satu kali gelombang turun yang disebut depresi (malaise atau "meleset").

Dengan membaca bab awal Krisis Ekonomi dan Kapitalisme, dapatlah disadari, betapa krisis perekonomian yang dialami Indonesia merupakan cipratan dari krisis dunia dan bersifat abadi. Dalam buku diuraikan, pada tahun 1930-an krisis perekonomian serupa menimpa Indonesia. Bila Hatta menulis Krisis Ekonomi dan Kapitalisme dengan latar belakang krisis dunia yang berawal dari hancurnya pasar modal New York tahun 1929, maka akibatnya bagi Hindia Belanda (Indonesia) pada waktu itu tidak berbeda dari Indonesia tahun 1998 sebagai akibat jatuhnya baht di Bangkok. Perusahaan-perusahaan gulung tikar, keterpurukan perbankan dan bursa, laju inflasi yang tinggi, angka pengangguran meningkat hingga menyangkut soal peningkatan tindak kriminal, menjadi "warna" abadi krisis sepanjang masa.

DENGAN menggunakan tanda-tanda pada setiap zaman dalam sejarah perekonomian atau idealtypus yang diperkenalkan oleh Max Weber, diuraikan tiga zaman perekonomian. Tiga zaman yang berdasarkan teori yang dicetuskan oleh Werner Sombart adalah Eigenwirtschaft, Handwerk, dan Kapitalisme. Zaman Eigenwirtschaft ditandai dengan manusia memproduksi sendiri barang-barang kebutuhan dan belum ada pertukaran barang. Dengan kata lain belum ada aktivitas yang bersifat ekonomi. Zaman kedua, yakni Handwerk ditandai dengan dimulainya aktivitas ekonomi berupa proses produksi dan pertukangan. Dan terakhir, Zaman Kapitalisme, aktivitas ekonomi berkembang dengan penggunaan kapital. Sejak membahas pembagian tiga zaman inilah Hatta mulai memperkenalkan juga pengertian kapital maupun kapitalisme.

Selanjutnya, dengan kembali menggunakan teori Sombart, disebutkan, pada masa sebelum kapitalisme, aktivitas ekonomi berdasarkan pada cita- cita untuk nafkah hidup (Idee der Nahrung). Tujuan ini kemudian berubah di masa kapitalisme, di mana perekonomian benar-benar untuk mendapatkan keuntungan. Hatta mengungkapkannya dengan: "...Nafsoe hendak ’mengedjar’ keoentoengan itoe, jaitoe memperbesar pokok permoelaan, adalah toedjoean jang oemoem...". Sebagai catatan, yang dimaksud Hatta dengan pokok permulaan adalah modal dasar usaha.

Setelah dunia benar-benar memasuki era kejayaan kapitalisme atau disebut dengan Zaman Kapitalisme Raya, aktivitas dan struktur ekonomi berubah sama sekali. Mengejar keuntungan menjadi tujuan yang tak mengenal batas (Unendlichkeitsdrang). Unsur rasionalisme, industrialisasi, perkembangan pasar yang sudah tak mengenal kendala waktu dan jarak, menjadi beberapa tanda perkembangan perekonomian di masa kejayaan kapitalisme.

SETELAH "mengenalkan" terlebih dahulu tentang krisis dan perkembangan perekonomian secara periodik, pembahasan masuk pada pokok persoalan yakni menguraikan lebih lanjut soal konjunktur dan siklusnya, depresi, serta politik konjunktur.

Dengan mendasarkan pada pemikiran ahli ekonomi Albert Aftalion, disebutkan, konjunktur, "saudara dekat" krisis yang baru muncul sejak era kapitalisme, memiliki wajah (physionomie) sendiri. Selanjutnya diungkap, ditinjau dari hebat dan lamanya krisis, kerasnya guncangan, sedikit atau banyak dampak kelanjutannya, tiap-tiap masa konjunktur memiliki ciri masing-masing. Dengan kata lain, menurut Hatta, meski setelah melihat krisis yang telah terjadi sebelumnya orang dapat memprediksi kapan bisa terjadi krisis lanjutan, tetap saja seberapa besar dampak dan di mana garis depresi akan muncul, tidak dapat diduga. Diungkapkan, yang dapat diduga hanyalah, setelah melalui masa konjunktur naik, pasti akan terjadi krisis. Sebaliknya, sesudah depresi, akan mengalami masa konjunktur naik kembali.

Waktu edaran atau masa konjunktur, dikatakan berlangsung selama waktu tujuh hingga sebelas tahun, atau menurut Hatta, tepatnya sebelas hingga tujuh tahun. Dikatakan berlangsung selama sebelas hingga tujuh tahun karena semakin lama masa konjunktur semakin cepat. Dalam hal ini, Hatta setuju dengan pemikiran Karl Marx dalam Das Kapital yang menyatakan bahwa waktu berlangsungnya konjunktur semakin lama semakin singkat. Pendapat serupa, menurut Hatta, juga diucapkan oleh ahli ekonomi Gustav Cassel.

Pada satu edaran konjunktur, telah disebutkan, ada masa naik (Aufschwung) dan masa turun atau depresi (Niedergang). Pada saat naik, ada enam fenomena yang terjadi, yaitu kenaikan harga barang dengan cepat, terutama harga besi, batu bara, mesin, rumah dan kapal; kenaikan keuntungan secara cepat; peningkatan produksi besi dan batu bara; banyak perusahaan baru didirikan; kurs surat-surat berharga naik secara cepat dan masa berspekulasi meningkat; dan terakhir, barang-barang perdagangan besar pertambahannya. Pada saat depresi (Niedergang), dikatakan, terjadi kebalikannya.

Kegiatan pembahasan masuk ke masa konjunktur dan depresi yang terjadi selama tahun 1822-1913. Selama hampir seabad, terdapat dua masa gelombang turun (tahun 1822-1842 dan tahun 1874-1894) serta dua masa gelombang naik (tahun 1843-1873 dan 1895-1913). Masa gelombang turun pada tahun 1874-1894 inilah yang dikenal dengan masa the great depression. Kemudian, dibandingkan dengan masa depresi yang terjadi pada tahun 1930-an, diungkap memang belum berusia selama masa the great depression. Namun, Hatta menduga, depresi yang terjadi pada tahun 1930-an ini akan berlangsung lebih lama lagi dan lebih dahsyat lagi. Alasannya, menurut Hatta, karena seluruh dunia ditimpa krisis pada tahun 1930-an tersebut. Pengaruh masa the great depression hanya benar-benar dirasakan sebagian besar di negara-negara Eropa.

Hatta menutup pembahasan tentang krisis ekonomi dan kapitalisme dengan menekankan, krisis maupun konjunktur memanglah "penyakit" yang dibawa setelah dunia masuk ke era kapitalisme. Negara-negara yang menggantungkan sepenuhnya pada dunia industri yang sudah pasti akan mengandalkan keberlangsungan usaha pada permodalan, akan rentan terhadap krisis maupun konjunktur. Untuk itu, sektor- sektor yang sifatnya tidak membutuhkan modal tinggi untuk berusaha harus dipertahankan, seperti industri kecil (Hatta mengungkapkan dengan sektor pertukangan) ataupun pertanian. Ia juga mengutip pemikiran Friedrich Aereboe seorang ahli ekonomi pertanian yang menyatakan tentang persekutuan (kooperasi) di sektor pertanian. Bagi Indonesia, memperkuat sektor pertanian sangat penting menurut Hatta, karena ia melihat karakter masyarakat yang sesuai dengan struktur pertanian.

DALAM menguraikan tentang krisis ekonomi dan kapitalisme, Mohammad Hatta banyak menggunakan teori yang dikembangkan oleh ahli-ahli ilmu sosial dan ekonomi dari Eropa, khususnya Belanda, Jerman, dan Perancis. Lebih banyak digunakannya pemikiran dari Eropa oleh Hatta dalam Krisis Ekonomi dan Kapitalisme tidaklah mengherankan. Pada saat buku ini ditulis, memang sebagian besar rujukan ilmu masih berkiblat ke Eropa. Ditambah lagi, Hatta sendiri memang pernah menjalani studi ekonomi di salah satu negara di Eropa, yaitu Belanda.

Setiap konsep maupun pemikiran yang ia kutip dari para ahli di bidang sosial maupun ekonomi dicantumkan pada catatan-catatan kaki. Hatta biasanya mencantumkan nama lengkap ahli, judul dan halaman buku yang dikutip. Keberadaan nama-nama banyak ahli seperti Max Weber, Werner Sombart, Gossen, Friedrich Engels, Albert Aftalion, Karl Marx, John Maynard Keynes beserta catatan-catatan kaki dalam buku tak pelak mengesankan Mohammad Hatta sang penulis benar-benar telah membaca, mencatat, dan merangkum dengan cermat. Kecermatan Hatta menulis menjadikan buku tipis ini padat informasi dan nyaris tak lekang dimakan waktu. Demikian buku bersama penulisnya.

 

Penulis: Nova Christina (Wartawan dan Litbang Kompas Kompas)

 



Terkait