Binanalar

Sejajar Demi Kekuatan Berdikari

VIRAL 16 Dec 2016 01:47

Sejajar Demi Kekuatan Berdikari

binanalar.com

Judul            : PUTRI MELAYU

Penulis         : Amiruddin Noor

Penerbit       : Bntang, Pustaka Mizan Press

Halaman       : 450 halaman

Tahun           : januari 2014

Peresensi     : Anissa Seftriani

Diakui atau tidak budaya serta adat istiadat melayu telah menjadi warisan dunia, dalam keberlanjutannya kehidupan masyarakat melayu telah banyak melahirkan kisah serta hikayat masyrakat yang sangat melegenda, sebut saja Maling Kundang, sebuah cerita masyarakat yang sangat membekas dalam masyarakat nusantara hingga saat ini, bagaimana sebuah cerita tersebut masih membekas mendalam dalam ingatan kita kalaupun hal demikian sebatas persinggahan cerita dongeng, kita belum tahu benar atau salahnya perisriwa tersebut, yang pasti budaya melayu merupakan suatu khazanah yang harus dijaga keberadaannya.

Berangkat dari kesadaran dan kecintaan pada budaya Amiruddin Noor sang putera tanah melayu dan dibesarkan dengan semangat melayu, menyajikan sebuah kisah yang berawal dari cerita kecil sebelum tidur dari ibunya, yang kemudian di tulis menjadi buku saat ini, dengan lihainya penulis mengaduk irama sendu dengan kisah yang dramatis karena Novel ini memang mengangkat semangat perlawanan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), yang saat itu masih terjebak dalam rengkuhan penjajah belanda.

Tengku Farida sebagai tokoh utama dalam buku ini di ukiskan sebagai kalangan terpandang karena berasal dari bangsawan langkat, dalam kehidupannya terpikat oleh kesederhanaan Letnan Farid akan tetapi saat revolusi terjadi justeru membuatnya banyak kehilangan orang yag sangat dicintainya, keluarganya banyak terbunuh, hal itu di karenakan oleh kemunculan kelompok bersenjata yang menagatasnamakan rakyat, yang kemudian berusahan menjatuhkan kalangan Feodal, Satu demi satu, para bangsawan diculik dari kediamannya. Sebagian besar tewas dipancung, sebagian lagi pulang dalam kondisi mengenaskan karena disiksa. Belum terhitung juga harta benda yang dirampas, atau anggota keluarga lainnya yang diperlakukan dengan tidak hormat oleh kelompok-kelompok liar itu.

Dalam kisahnya yang di lukiskan oeh penulis dengan tak mengurangi sedikitpun isi tentang kehidupan melayu nya, penulis menukaskan penanya dengan kecintaan nya, bahkan pemilihan katanya, membuat Novel ini menghadirkan Roman-roman melayu yang sulit diketahui, kisah yang di awali oleh pertemuan Tengku Farida dengan Kolonel Umar yang menyelamatkannya dari tangan pemimpin pemberontak yang mencoba menggagahinya, membuatnya bimbang dalam memilih siapa kelak pelabuhan kisah asmaranya nanti.

Penulis yang juga Mantan Duta Besar RI untuk Norwegia ini, penghayatannya yang digunakan sangat dalam, hal ini terlihat pengangkatannya sebuah cerita rakyat yang sulit diketahui khalayak, diangkatnya sebagai protes keras sekaligus melindungi hasanah kebudayaan sastra Inidonesia yang kian hari tererupsi kemajuan, dengan pengulasan yang mendalam inilah, penulis, ingin membuka lebar-lebar prasasti sastra nusantara yang kian hari mulai tak mendapatkan tempat di dunia fiksi, secara keseluruhan dunia Fiksi masih dikungkungi oleh buku-buku teenits, yang di latar belakangin branding image serta pangsa pasar, tanpa pesan kesejarahan yang diramu dengan budaya, dengan bahasanya yang khas, melayu bukan saja membuktikan dari hikayat-hikayatnya yang bertahan dari godaan kisah praduga dan curiga seperti masa kini, bahasa melayu sebagai lingua franca (bahasa perdagangan) yang kemudian dipakaI sebagai bahasa resmi negeri ini, menjadi bukti masih banyak galian sastra yang belum diungkapkan secara mendalam.

Dengan gaya bahasa yang memadukan ciri khasnya, pembaca mampu masuk dalam ruang sempit kisah Tengku Farida dan ruang luas sastra melayu tentunya, hadirnya novel ini mejadi pesan bahwa sastra nusantara dari latar belakang kisah melayu masih perlu di jaga keberadaannya, terutama dengan menuliskannya dalam bentuk karya seperti yang terterahkan di dalam buku Putri Melayu ini.



Terkait