Binanalar

Tidak lulus sarjana, Pria ini mampu sarjanakan 11 anaknya

KRONIK 28 Dec 2018 20:03

Tidak lulus sarjana, Pria ini mampu sarjanakan 11 anaknya

binanalar.com

Binanalar.com - Pendidikan pada hakikatnya mempengaruhi kesejahteraan hidup seseorang, apalagi kehidupan seseorang yang sudah berkeluarga. Pentingnya pendidikan dan tingkat pendidikan itu sendiri juga menjadi hal yang sangat penting bagi kehidupan dan keberlangsungan hidup. Bagi sebagian orang, menguliahkan anaknya mungkin menjadi bagian yang mudah, dengan kecukupan ekonomi seseorang bisa saja menguliahkan anak nya tinggi-tinggi bahkan sampai ke luar negeri. Tetapi tidak bagi sebagian orang, bisa jadi seseorang hanya mampu menyekolahkan anakya sampai tingkat Sekolah Menengah Akhir (SMA) bahkan ada yang  hanya sampai tingkat Sekolah Dasar (SD). 

Begitu pula dengan kisah hidup seorang pria bernama Omar Alattas. Pria berketurunan darah Arab ini tinggal di Jakarta, ayahnya berasal dari Hadhramaut, Yaman. Kisah ini dimulai ketika ia dan saudara-saudaranya di kuliahkan oleh kedua orang tuanya. Semasa kuliahnya, ia sering ikut teman-temannya yang tidak berkuliah untuk pergi bekerja sebagai supir oplet (sebutan angkutan umum pada masa itu). Karena sering bekerja dan merasa asyik dengan pekerjaannya, Omar memutuskan untuk meninggalkan kuliahnya dan memilih untuk bekerja.

Seiring berjalannya waktu, Omar mampu menghasilkan banyak uang. Omar memutuskan untuk menikah dengan seorang wanita berketurunan darah Arab-Sunda. Namanya Zahra. Wanita ini tinggal di Lemahabang, Cikarang. Ibu Zahra, seorang pribumi asli Lemahabang, sedangkan ayahnya berketurunan Arab, Hadhramaut-Yaman. Bersama istrinya, Omar membangun rumah di daerah Kramat Jati Jakarta Timur.

Pada masa itu, sekitar tahun 1961 belum tenar dengan istilah Keluarga Berencana (KB). Setelah menikah, setiap 2 tahun Omar dikaruniakan anak. Anak pertamanya lahir pada tahun 1963 pada tahun-tahun berikutnya lahirlah anak selanjutnya. Karena merasa kerepotan dengan banyaknya anak, dan juga kondisi ekonomi yang kurang mencukupi, Omar menitipkan beberapa anaknya kepada saudara-saudaranya.

Omar dikenal sebagai lelaki tangguh, soleh dan juga bertanggung jawab. Omar melakukan beberapa pekerjaan yang selama pekerjaan tersebut halal untuk Ia lakukan. Omar pernah menjadi supir oplet, pernah juga menjadi pedagang keliling. Omar pernah berdagang keliling dari rumah ke rumah, pintu ke pintu, untuk menjual pakaian-pakaian Muslim. Tak hanya itu, Omar juga membolehkan pelanggan nya untuk mengutang, sehingga Omar hampir setiap minggu ke rumah pelanggannya untuk menagih utang. Apapun Omar lakukan, selama itu halal, untuk menghidupi keluarganya.

Di sela-sela hari nya mencari nafkah, Omar tidak pernah meninggalkan sholat. Bahkan Omar selalu berusaha bangun di sepertiga malam nya untuk melaksanakan sholat tahajud. Omar membiasakan kepada anak-anaknya untuk selalu bangun malam dan sholat tahajud, melaksanakan puasa senin kamis, dan sangat menegaskan kepada anak-anaknya untuk tidak pernah meninggalkan sholat. Begitulah Omar sebagaimana yang diceritakan oleh beberapa anaknya.

Omar mendidik anak-anaknya sebaik mungkin, menanamkan didalam pikiran anak-anaknya bahwa pendidikan sangat berarti bagi kehidupan. Dari masa lalu nya yang meninggalkan kuliah, Omar sangat menyesali perbuatannya tersebut. Pada saat itu Omar belum menyadari pentingnya pendidikan dalam kehidupan. Bahwasanya pendidikan memiliki porsi tersendiri untuk menjadikan hidup ini lebih bermanfaat. Omar tidak mau penyesalan di masa lampaunya itu terjadi kepada anak-anaknya. Omar ingin anak-anaknya bisa melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya dan menggapai cita-cita. Omar ingin anak-anaknya bisa menjadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain.

Anak pertamanya berhasil Omar kuliahkan di Al-Azhar, Cairo. Walau dengan bantuan beasiswa dari LIPIA (Lembaga Ilmu  Pendidikan Islam dan Arab). Anak keduanya Omar kuliahkan di Universitas Islam Swasta di Jakarta. Anak-anaknya yang selanjutnya Omar kuliahkan di perguruan tinggi yang berbeda-beda dengan jurusan yang berbeda-beda. Dengan perjuangan yang keras, anak tengah nya ada yang menjadi Dokter lulusan dari Universitas Diponegoro. Anak tengah nya juga ada yang menjadi dosen dan melaksanakan pascasarjana nya di Universitas Indonesia. Dan dan anak terakhirnya ada yang menjadi Notaris lulusan dari Universitas Diponegoro. Namun sayang sekali, sebelum anak terakhirnya ini menikah dan menjadi Notaris, Omar telah meninggal dunia.

Memiliki kehidupan yang tidak dilatar belakangi dengan pendidikan yang baik, mungkin bagi Omar menjadi suatu hal yang sangat luar biasa. Yang mana ia harus menyekolahkan ke-12 anaknya. Saat itu anaknya masih 12, namun ada 1 orang yang meninggal dunia karena panas demam tinggi lalu step dan meninggal dunia. Saat itu usia nya masih  7 tahun. Tidak hanya menyekolahkan, menghidupi 12 anak dengan dirinya dan istrinya menjadi tantangan bagi Omar sendiri karena hanya ia yang mencari nafkah. Hal itu menjadi perjuangan yang sangat besar bagi seorang ayah untuk bisa menghadapi semua ini.

Berbagai cacian, hinaan, makian, tak jarang Omar dengar dari orang-orang di sekitarnya. Beberapa orang menganggap Omar sangat miskin karena tidak bisa mengurus anak-anaknya dengan baik, sehingga harus dititip kesana-kesini. Namun hal itu tidak menjadikan Omar putus asa untuk terus mencari nafkah, menghidupi keluarganya. Tidak menggetarkan kokoh jiwa Omar yang sungguh-sungguh ingin menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin.

Omar mengajarkan banyak hal terhadap anak-anaknya, bahkan kepada kita semua sebagai para pembaca. Bahwa kehiudupan ini tidak seenak dengan apa yang hanya dilihat oleh mata kepala. Terkadang kita harus mengubur dalam-dalam penyesalan masa lalu, kemudian menjadikan itu semua sebagai bahan introspeksi diri untuk menjadikan sesuatu menjadi lebih baik lagi di masa yang akan datang. Terkadang kita harus gunakan cacian, hinaan dan juga makian sebagai alat untuk memotivasi diri kita untuk semakin semangat mengejar apa yang kita tuju. Dan bahkan terkadang perjuangan tidak pernah ada hentinya sampai akhir hayat. 

 

Penulis: Raihana Ummu Kulsum (Mahasiswa Jurusan KPI UIN Jakarta)

 



Terkait