Binanalar

Metafora Malam Diujung Senja

SUARA 06 Dec 2018 19:34

Metafora Malam Diujung Senja

binanalar.com

Binanalar.com - Aku mengenalmu ketika senja menampakkan dirinya, dengan warna kuning kemerahan merona, wajahnya elok dengan balutan angin sepoy-sepoy dan burung-burung yang terbang di depannya. Matahari menunjukkan warna keemasan, pancarannya memantul membentuk bulan, yang samar-samar juga menampakkan kecantikan dirinya. Seolah-olah alam telah mengutus mereka untuk saling mempercantik dirinya.

Orang-orang yang melihatnya berbondong-bondong mendekatinya, mencari celah dan ruang, menyaksikan dan mengabadikan momen yang sangat jarang ditemui, bahkan mungkin tak pernah terjadi. Aku hanya duduk melihat dan menunggu kecantikan yang sesungguhnya, kecantikan yang membuatku tergila-gila ingin memilikinya.

            “Ayo sayang kita abadikan momen yang tak pernah terjadi ini, nanti keburu hilang.” Sepasng kekasih saling berdempetan membelakangi senja yang tak lama lagi akan hilang.

Larut mulai datang, sang surya mulai menenggelamkan dirinya diufuk barat. Senja yang tergelincir menerpa cakrawala dan perlahan merubah warnanya, menandakan akan adanya sebuah pertemuan. Rembulan tampak melengkungkan dirinya, mununjukkan wujud yang sebenarnya. Kesunyian dan kesepian akan datang menghampiri setiap yang didekatnya, orang-orang tak lagi ada yang berkeluyuran. Bahkan bintang-bintangpun enggan menampakkan dirinya.

Semilir angin mengantarkan kecantikan yang sebenarnya, Rembulan mendekat berlagak manja menyinari wajahnya yang bertabur Bintang. Terlihat rambutnya tergerai lurus berwarna hitam pekat seperti dalam iklan shampo. Aku yang menunggunya sejak senja menghilang, takjub melihat kecantikannya. kali ini tampak berbeda, malam tampak cantik seperti seorang putri yang akan mendatangi sebuah pesta, mengenakan gaun hitam, dibalut awan dan kesunyian yang mencekam.

Namun, benarkah malam akan datang ke acara pesta? didampingi kekasihnya rembulan yang akan meneranginya? Mungkinkah ini akan menjadi cerita konyol, malam menjelama seorang putri, menghadiri undangan makan malam, kemudia berdansa mengikuti alunan musik, dan kembali sebelum lonceng berbunyi. Ah ini sangat tidak mungkin.

Aku terkesima melihat kecantikannya malam ini, meskipun bukan hanya kali ini saja aku melihatnya, hampir disetiap malam aku tak pernah melewatkannya, bahkan semenjak aku dilahirkan ditengah malam. Dan sejak itu pula aku telah jatuh cinta kepada malam. Meskipun sesungguhnya aku juga heran, kenapa aku sangat mencintai malam dan ingin memilikinya. Orang tuaku pernah membawaku kepada seorang dokter spesialis.

“Dok, ada keanehan dengan anak saya.”

“Ada apa dengan anak Ibu?”

“Ia selalu bilang kalau ia sangat mencintai malam.”

“Itu wajar Ibu, bukan sebuah keanehan.” Jawab dokter santai.

“Banyak orang-orang mencintai malam, hidup disepanjang malam, disepertiga malam, hanya untuk mendekatkan dirinya melalui doa-doa yang mereka panjatkan. Ini hal yang wajar Ibu.” Lanjutnya.

“Tidak Dok,ini tidak wajar, ia tak seperti orang pada umumnya. Ia mencintai malam dan ingin memilikinya. Mana mungkin seorang manusia bisa memiliki malam, atau bahkan hidup bersama sebagai sepasang kekasih.” Dahinya mengkerut, ucapanku kembali diucapkan Ibu.

Dokter itupun heran mendengar perkataan Ibu “Mungkinkah ini sebuah kutukan Dok.” Ibuku berbisik kepada Dokter itu. “ahh... jangan menghayal Ibu.” Mereka saling memandangiku heran.

Melihat kecantikannya malam ini, semakin aku ingin berada dalam kutukan itu. Mungkinkah ini akan seperti kisah cinta seekor laba-laba dalam cerita pendek, yang mencintai manusia, kemudian manusia itu menjelma menjadi laba-laba. Mungkinkah malam akan menjelma manusia? Atau mungkin sebaliknya? Ah entahlah…

Waktu semakin larut dalam kegelapan, kesunyian semakin mencekam, Malam semakin menunjukkan kecantikannya. Kelelawar, sinar rembulan, dan bintang-bintang gemerlapan semakin menghiasi kecantikannya. Aku semakin takjub melihatnya, ingin sekali aku merenggutnya, mempersuntingnya, mempunyai anak-anak darinya, dan hidup bahagia bersamanya sepanjang malam.

“Wahai engkau yang setiap malam menyaksikanku, janganlah kau bermimpi merebutnya dariku.” Rembulan yang melengkung itu berbicara padaku.

“Biarlah Ia terus bermimpi untuk merebut malam dari kita.” Bintang yang tak begitu terang manambahkan.

“Kau hanya akan hidup dalam kutukan itu, kau hanya akan menyaksikan kecantikan malam dari kejauhan, kau hanya akan terus menyaksikanku bercumbu dengan malam sepanjang malam.”

“Hahaha…” Suara itu sudah tak asing lagi ditelingaku, suara bintang yang setiap malam menertawakanku. Namun, semua itu semakin membuatku selalu ingin datang untuk menyaksikan malam, hatiku telah tertutup kegelapan cintanya. Keikhlasan cinta memacuku untuk tak pernah berfikir agar malam juga mencintaiku. Aku fikir itulah yang sebenar-benarnya cinta.

Aku mengenal rindu ketika embun bercucuran membasahi segala yang tumbuh. Sayap-sayap ayam jantan saling beradu menghasilkan suara dan membangunkan setiap yang mendengarkannya. Fatamorgana terselip diufuk timur membesitkan keelokan warnanya, nan kicau burung mengusik embun, saat itupun aku tenggelam dan terpejam.

******

Seperti biasa, aku telah duduk di tempat dimana aku biasa menunggu sebuah pertemuan dan berpisah ketika semua kembali terang. Melihat gang kumuh kota, melihat tikus jalang berlalu-lalang, dan melihat kecantikanmu diujung pandang.

Riuh kota mengusik kedamaianku, orang-orang berhamburan bagai air yang bercucuran, melihat malam yang tak lagi petang. Bingung, dimana senja yang sedari lama nampak nan tak kunjung hilang. Sore itu gaduh seluruh setasiun televisi tidak lagi menyiarkan gosip-gosip penggerebekan atau para pemuda yang biasa disebut mahasiswa berteriakan di tengah jalan. Namun, menyiarkan berita tentang menghilangnya malam dan tak datangnya petang.

Sore itu juga para peneliti dari berbagai negara mengadakan pertemuan dadakan untuk meneliti kejadian membingungkan ini, para astronot diluncurkan untuk melihat bagaimana keadaan di luar angkasa sana, meski pada akhirnya tak satupun juga menghasilkan apa-apa, seisi kota semakin gaduh dan rikuh, bahkan bulan dan bintangpun tak sadar mereka terlihat bertelanjangan, semuanya kebingungan melihat hari yang tak juga petang.

            “Mungkin malam tak ingin tergesa-gesa untuk keluar, atau Ia sedang di dandani oleh make over terkenal agar terlihat lebih cantik dari sebelumnya” Gumamku tenang sambil meluruskan kaki yang sudah lama tertekuk.

Senja memancarkan cakrawala mengantarkan seorang perempuan berambut hitam panjang tergerai bak seorang putri yang keluar dari istananya. Perangainya tak asing dimataku. Ia berjalan melangkahkan kakinya, dan perlahan berakhir disampingku.

Aku fikir mungkin Ia juga sama denganku, ingin melihat kecantikan malam yang bercumbu dengan bulan disaksikan bintang.

            “Siapa kamu?” tanyaku lebih heran dari gaduhnya seisi kota.

            Ia melihatku tak hirau “Aku Maulia Madunisha” kata demi kata keluar dari bibir merahnya.

            Tak pernah kudengan  nama itu, “Aku yang engkau pandangi diantara gemerlap bintang-bintang dan rembulan yang menghiasiku, aku yang engkau lihat dari bola matamu di penghujung senja itu.”

            “Apakah kamu malam?” Aku tak percaya, benarkah dia adalah malam yang menjelma seorang putri seperti saat ini?!

            “Orang-orang mencarimu, apa yang membuatmu tidak datang malam ini?”

            “Apa pula yang mengantarkanmu ke sini?”

            “Doa yang mengantarkaku ke sini” Aku semakin kebingungan saja, semakin tak mengerti dengan yang perempuan bicarakan itu, apalagi dengan keadaan. Semua orang berbondong-bondong memedati tempat ibadah memohon ampun, mereka kira dunia akan berakhir sore itu.

            “Ya..” Ia menlanjutkan.

            “Doa seorang perempuan yang kamu sebut Ibu, yang Ia panjatkan di sisa sudut sepertiga malamku. Ia memintaku untuk memenuhi kegilaanmu untuk memiliki aku.”

Aku tertegum, tak bisa berkata-kata. Bukan karena mendengar kata seorang perempuan tadi, tapi melihat Ibu yang datang bersama Penghulu. Ibu ingin menikahkan Aku dengan perempuan yang bernama Maulia Madunisha itu, yang tak satupun orang tahu darimana asal-usulnya, dan tak satupun malam datang setelahnya, kecuali di malam pertamaku.

 

Penulis:  Alfatoni (Mahasiswa Universitas Nahdlatun Ulama Jakarta)



Terkait