Binanalar

Binatu Kesedihan

SUARA 24 Jun 2018 21:02

Binatu Kesedihan
gambar diambil di www. home.bt.com/images/sad-man

binanalar.com

Tak ada yang namanya hidup, yang ada hanya sebuah konsep sebelum kematian. Kata kehidupan hanya dipakai oleh manusia-manusia yang takut mati dan tak berani benar-benar hidup. Tapi apalah arti hidup bila tidak ada kebahagiaan. Semuanya hanya omongkosong para pemikir dan bujang-bujang yang terkadang sok mikir.

            Kebahagiaan, menurut prinsipku, didapat dari sebuah ketenangan. Dan ketenangan, lagi-lagi, hanya sebuah konsep yang ternyata tidak bisa dicapai manusia. Jadi hanya terbatas sebuah angan-angan belaka. Tapi setiap manusia akan selalu berjuang untuk dapat kebahagiaan, seperti:  mencari nafkah keluarga, lulus sekolah, menikah, bercinta lalu masturbasi, lolos dari polisi, dan masih banyak lagi jenis kebahagiaan yang ada di dunia. Malam ini aku mencari kebahagiaanku: berendam di atas bak mandi dengan air hangat dan busa yang menenangkan. Harum lavender dari sabun yang kupakai menyeruak ke tiap sudut kamar mandi, dan inilah bagian yang paling kusuka.

            Tidak ada tempat yang benar-benar menenangkan selain kamar mandi. Kita buang air di sana, kita mencukur kumis di sana, kita menangis di sana, dan bahkan kita bisa menentukan hidup-mati kita di sana. Dengan melepaskan setiap helai pakaian yang berbau keringat dan penuh daki, atau dengan kata lain ‘telanjang’, kita terlepas dari omongkosong dunia dan orang-orang yang penuh dengan bualan. Jadi aku nobatkan bahwa kamar mandi adalah tempat yang paling menenangkan di dunia. Di sisi lain, privasi juga terjaga penuh di sana, seperti ada tembok-tembok tebal yang akan menjaga kita untuk melakukan apa pun di dalam kamar mandi.

            Requiem: Lacrimosa and Piano Concerto No. 21dari Mozart mengalun indah di seisi ruangan rumahku dari piringan hitam di ruang TV. Kubiarkan pintu kamar mandi terbuka agar melodi dan alunannya bisa menembus celah-celah rumah, jadi semua makhluk bisa mendengarkan masterpiece ini. Aku sendiri saat ini, orangtuaku pergi selama beberapa hari untuk menghadiri acara tahunan ayahku dan aku memutuskan untuk tidak ikut, karena biasanya seluruh anak dari pegawai kantor tersebut akan menjadi seperti saudara sedarah yang saling kenal dengan bermain bulu tangkis, pinball, pingpong, dan permainan membosankan lainnya. Sambil berendam dan menenangkan pikiran yang sesak, kubakar sebatang Marlboro dan menegak bir dingin perlahan. Aku merenungkan banyak hal saat itu, apa pun: mati, hidup, jangkrik, balon, kapitalisme, lemari, dan masih banyak lagi. Sampai aku tertidur di sana tanpa sadar, tertidur dengan tubuh telanjang di atas bak mandi penuh busa. Inilah pencapaian kebahagiaan.

            Kenikmatan ini berlangsung sampai keesokan hari jam 8.17 pagi, dan air sudah tidak lagi hangat.

___

Matahari tidak terlalu tampak pagi itu, hanya sebersit cahaya yang menghangatkan. Setelah selesai merampungkan beberapa halaman dari the Catcher in the Rye sambil meneguk teh hangat di halaman rumah, aku pergi dengan jalan kaki ke kedai kopi di dekat perempatan jalan rumahku untuk sekedar bertemu dan berbincang dengan teman lama. Tak perlu kusebut namanya, untuk apa? Tidak ada pula gunanya aku sebut. Sebenarnya aku sempat menolak untuk bertemu, karena kupikir tidak ada yang benar-benar ‘teman’ di dunia ini. Tapi setelah ia membujukku, dan kebetulan perkuliahan sedang senggang, kuterima saja tawaran itu.

            “Hai, lama tak bertemu.” Sambutnya yang ternyata sudah datang lima belas menit lebih awal. Aku tak menjawab, hanya menaikkan alis dan bahu seakan berkata, “Ya, memang”. Kami bersalaman, lalu duduk berhadapan di kursi pojok kanan tepat di samping jendela yang menghadap ke suasana luar yang sejuk. Di kafe ini, dengan pengeras suara, terdengar Here Comes the Sun, dan selanjutnya album Abbey Road lainnya.

Ia berpakaian kemeja hitam bergaris-garis putih vertikal minimalis, dengan jeans hitam dan Vans kasual. Sedangkan aku hanya terbalut oleh Polo putih dan jeans biru langit, dengan All Star high-cut hitam-putih. Wajahnya tidak banyak perubahan, hanya rambutnya yang mulai memunculkan beberapa uban. Tubuhnya sedikit membuncit, tidak terlalu atletis seperti dulu.

Ada diam di antara kami selama sepuluh detik, lalu pelayan datang untuk meminta pesanan. Aku memilih kopi biasa, tanpa gula. “Kau masih seperti dulu, kopi hitam tanpa gula.” Aku hanya tersenyum dengan memorinya yang sekuat gajah. Setelah itu ada diam lagi, dan ia memulai perbincangan.

            “Aku sengaja mau menemuimu. Sudah lama sekali yah. Haha. Aku hanya berkunjung sebentar ke sini setelah pemakaman ibuku kemarin,”

            “Ibumu?”

            “Ya, aku sengaja tak menyebar pengumuman ini ke khalayak besar, hanya ke beberapa keluarga terdekat saja. Permintaan ibuku.”

            “Hmm, begitu. Aku turut berduka.” Lalu ia tersenyum mengiyakan.

            “Sekarang kau di mana?”

            “Di depanmu,”

            “Bukan, maksudku karirmu.”

            “Oh, aku masih kuliah.”

            “Kuliah? Di mana?”

            “Kau tak perlu tahu, tak penting juga untuk mengetahuinya.” Jawabku seadanya. Ia tersenyum lagi.

            “Aku masih kuliah juga di Australia. Dan hanya berkunjung sebentar.”

            “Baguslah.” Lalu pelayan datang. Wajahnya tersenyum ketika menyerahkan secangkir kopi yang menyembulkan uap. Kutaksir ia sekitar 19 tahun, setahun lebih muda dariku. Mungkin pekerja paruh waktu. “Terimakasih,” ucapku padanya. Ia menjawab sama-sama lalu pergi. “Berarti kau sekarang di tingkat S2?” tanyaku setelah mengingat-ingat beberapa hal mengenai umur.

            “Tidak, masih S1. Ini dikarenakan perceraian ayah dan ibu, lalu ayah memaksaku untuk ikut bersamanya ke Australia ketika kuliahku berjalan di semester dua. Jadi aku memulai seluruh perkuliahanku dari awal lagi.” Ia minum coffee late-nya, lalu melanjutkan, “Inilah hidup, ada pertemuan, ada perpisahan.”

            “Ya, pembicaraan yang biasa terjadi.” Kuseruput kopi pahit yang masih mengepul.

Kami menghabiskan pagi itu dengan pembicaraan nostalgia perihal SMA dulu—yang pastinya tidak akan kuceritakan detail karena itu sangat membosankan dan tidak memiliki keistimewaan sama sekali. Ia lebih tua dua tahun dariku, dan kami bertemu di klub mading saat itu. Kami pertama bertemu ketika suatu sore sebelum pertemuan tiap minggu berlangsung. Aku sedang membaca the Bell Jar, lalu ia bertanya mengapa aku membacanya. Aku menjawab, “Tidak ada alasan aku membacanya, ini karena aku ingin ‘membacanya’”. Dan mulai saat itu ia sering memulai pembicaraan perihal buku-buku yang aku dan ia baca. Cukup menyenangkan, walaupun terkadang juga membosankan. Ia adalah tipikal orang yang serius untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan aku tidak seperti itu, semuanya terlihat biasa saja bagiku.

___

Siangnya kami pindah ke restoran seafood yang aku lupa namanya, tapi aku ingat kami hanya butuh sepuluh menit dari kedai kopi tadi untuk pergi ke sana dengan Jazz hitamnya. Masakan di sana tidak buruk, kami cukup menikmatinya. Ia dengan kepiting saus tiram dan aku dengan cumi asam manis.

            “Kupikir aku akan menceritakanmu hal ini, kawan. Hal yang sering kumimpikan sebelum dan setelah kematian ibuku. Hal ini sedikit membuatku tertekan.” Ia melanjutkan pembicaraan selesai kami makan hidangan utama, dan saat itu kami sedang menikmati makanan penutup: ia dengan puding coklat dengan fla vanila, dan aku dengan kopi hitam tanpa gula dan sebatang rokok.

            “Akan kudengarkan.”

            “Ini terdengar aneh. Ya, sangat aneh, tapi aku harus meluapkannya kepada seseorang agar setidaknya aku merasa lega.”

            “Ceritamu memang selalu aneh.”

            “Aku sering bermimpi soal binatu, coin-laundry. Ini akan sangat aneh, tapi kuharap kaumengerti. Suatu pagi di akhir pekan musim semi, aku berjalan dari apartemenku dengan sekeranjang pakaian kotor yang tak sempat kucuci. Solusi yang masuk akal dan tidak terlalu mahal untuk mahasiswa tanpa pekerjaan sepertiku adalah mencuci pakaian kotortersebut di binatu dekat apartemen. Tempat pencucian pakaian itu tidak kecil dan juga tidak besar. Warna cat dalam dan luarnya cukup menarik, hijau toska dan merah muda, seperti yang sering ditunjukkan Wes Anderson dalam beberapa filmnya. Di depan pintunya—yang akan membunyikan lonceng selamat datang—tertulis ‘Welcome to Happy Freedom Laundromat’, seperti sebuah kombinasi kesenangan dan kegembiraan dengan warna-warni dan ukiran klasik di setiap sudut bangunan sederhana tersebut.

            “Tak cukup di situ kegembiraan yang kurasakan sebelum mencuci. Ketika masuk—sambil mendengarkan lonceng selamat datang—terdengar nada-nada sangat indah dari Symphony No. 9 karya Beethoven. Sebuah perpaduan yang sangat sempurna bukan? Ya, sangat sempurna. Happy Freedom Laundromat dengan desain Italia klasik dan Beethoven, itulah kesempurnaan abadi. Aku termenung sebentar di depan pintu masuk, lalu suara seorang wanita mengganggu kesenangan itu. Maksudku suara seorang wanita yang berdiri di belakang kasir. Ia wanita paruh baya—mungkin pertengahan 40—dengan wajah dan gaya berpakaian yang membosankan, kau tak akan suka wanita sejenis itu. Ia memperingatkanku untuk tidak berdiri di depan pintu karena itu mengganggu pelanggan yang ingin masuk dan keluar dengan suara serak basah. Tanpa jawaban apa pun aku menuruti peringatannya tersebut, lalu menuju ke salah satu mesin cuci.” Ia meminum air mineralnya, lalu menyendok puding coklatnya lagi dan mengunyahnya. Sambil mengunyah ia melanjutkan.

            “Di tembok tepat di posisi mesin cuci itu, ada sebuah papan kayu bertuliskan: FEELING A LITTLE DIRTY, PLEASE DO ME… by: the Laundry. Aku merasakan nada papan kayu itu berbicara seperti seorang peragawati yang menawarkan makanan saat penerbangan. Kumasukkan pakaian-pakaian kotorku ke dalam mesin cuci, memasukkan deterjen, selanjutnya memasukkan beberapa keping sen, dan memutar pengatur waktu ke angka 15 menit untuk babak pencucian pertama. Aku tak terlalu sering pergi ke binatu, hanya sesekali saja ketika sedang ada kesibukan. Lalu kau tahu apa yang terjadi? Ketika pakaian-pakaian itu berputar-putar dalam mesin cuci, di sana muncul dalam benakku dimensi yang ikut berputar dengan warna-warni yang indah, tapi menyedihkan. Kau tahu maksudku kan? Dimensi itu membuka gerbangnya untuk pembersihan setiap kotoran di sela-sela bahan pakaian, untuk membasmi noda-noda jahat yang berdiam diri di sana. Aku membayangkan—saat itu aku sedang banyak pikiran—bahwa adakah binatu untuk kita? Maksudku binatu untuk manusia, yang nantinya setiap hari, atau mungkin setiap minggu, kita akan pergi ke sana dan mencuci diri kita agar setiap kotoran, najis, dan noda bisa bersih, dan kita akan keluar menjadi seseorang yang meskipun tidak baru, tetapi mempunyai wangi dan suasana cemerlang.”

            “Lalu?”

            “Lalu setelah cucianku selesai dengan pewangi pakaian di putaran kedua, sebelum mengeringkannya, aku—maksudku tubuhku—masuk ke dalam mesin cuci, dan meminta salah satu pelanggan untuk memutar pengatur waktu dengan beberapa keping sen yang kuberikan kepadanya. Ketika mesin tersebut mulai berputar, dengan air yang memenuhi ruangan yang kutempati sehingga aku tak cukup bernapas, aku terbangun.”

            “Mimpimu terdengar detail dan sangat jelas.”

            “Tapi itulah yang kumimpikan. Dan tahukah kau satu hal lagi? Mimpi ini selalu berulang-ulang terjadi, setiap malam. Setiap malam sebelum dan setelah kematian ibuku, atau bisa dibilang sampai tadi malam aku terakhir tidur aku masih memimpikannya. Dan ini membuatku frustasi. Tadinya itu memang menyenangkan dengan berpapasan dengan ucapan selamat datang di depan pintu toko dan disambut dengan Beethoven, tapi itu terjadi berulang-ulang kali, dan aku muak dengan warna hijau toska-merah muda dan Beethoven sialan itu.”

            “Tepatnya, berapa hari atau minggu ‘sebelum kematian’ ibumu itu?”

            “Dua bulan.” Ia memastikannya lagi dengan hitungan jari, lalu berkata, “Ya, dua bulan lebih lima hari.”

            “Sejujurnya aku bukan ahli dalam hal ini. Aku bukan seorang ahli semiotik, atau penggemar Freud atau Jung yang bisa menerjemahkan mimpi, dan bukan juga seorang psikolog. Tapi, apa sebenarnya hubungan mimpi binatu pembersihan dosa itu dengan kehidupanmu yang bisa kau terka?”

            “Aku benar-benar tidak tahu. Aku sempat berpikir apakah ini sebuah wahyu? Tapi tidak mungkin, karena ibadah pun jarang kulakukan. Dan ketika berpikir seperti itu aku sadar bahwa ini merupakan peringatan untukku agar rajin beribadah, lalu kurajinkan ibadahku. Tapi tidak ada hasil, mimpi itu masih berdatangan seperti gagak yang menggerogoti bangkai prajurit perang.”

            “Hmm, sulit.” Jawabku singkat. Karena aku pun tak tahu perihal mimpi yang terdengar sangat spesifik dan aneh ini.

            “Kau tidak perlu mencari jawabannya, aku tidak mau membingungkanmu. Yang kuinginkan hanya bercerita perihal mimpi aneh ini kepada seseorang yang bisa kupercaya. Setidaknya aku lebih lega. Terimakasih, kawan.”

            “Ya, tak masalah.”

            Sebenarnya ada beberpa hal lagi yang kami bicarakan siang itu sampai sore menjelang, tapi semuanya membosankan dan hanya perihal binatu itu saja yang membuatku terus berpikir dan mengingatnya. Meskipun ia melarangku untuk memikirkannya, aku tetap memikirkannya. Mungkin saja bisa membantu, tapi aku melakukannya lebih karena aku penasaran.

            Setelah jam 4 sore datang, ia izin untuk kembali ke Australia. Pesawatnya akan berangkat pukul delapan, tapi ia mesti berkemas. Kami berpisah begitu saja setelah ia mengantarku pulang ke rumah. Dan aku masih memikirkan binatu kesedihan itu.

___

Kematian akan datang. Kematian akan tetap datang. Kematian pasti akan datang. Tak perlu dicegah dan tak perlu khawatir, ia akan datang.

            Sekarang pukul 22.00, dan aku merasa gerah karena sedari sore hanya duduk di sofa di ruang TV hanya untuk memikirkan binatu aneh itu. Karena gerah itu menyeruak, kuputuskan untuk mandi. Tapi pikiranku berubah, aku tidak hanya mau mandi tapi juga harus berendam dan tentunya sambil memikirkan binatu itu lagi. Tapi itu berubah lagi, sepertinya aku butuh jalan-jalan keluar rumah sebentar untuk mencari udara segar.

Udara malam itu sangat gerah, mungkin akan turun hujan, tapi tak terdengar dan terlihat tanda-tanda tersebut. Aku keluar dengan pakaian yang masih sama dengan yang kupakai pagi dan siang tadi. Sampai di depan rumah, aku menyadari bahwa malam ini sangat sepi. Aku berjalan lagi, mungkin menuju taman dan melihat danau, tapi tak tentu juga sih. Aku hanya mengikuti kaki ini kemana pun ia mau. Kuambil sebatang Marlboro, lalu membakarnya. Beberapa saat akan muncul angin sepoi yang menggoyangkan pohon pinus, tanjung, mangga, jambu, dan lainnya di sekitar jalan dan rumah-rumah. Sesekali akan lewat mobil yang kedengarannya lelah akan macet dan riuhnya kota.

Sesampainya di taman, aku berniat memperhatikan danau. Tidak tahu mengapa, tapi danau mengingatkanku akan bebek-bebek yang dipikirkan Holden Caulfield. “Kemana perginya bebek-bebek di danau saat musim dingin?” itu kiranya yang ditanyakan Holden. Lalu di tengah perenungan bersama danau dan bebek, sekelibat muncul memori itu: Tadinya aku sudah berubah menjadi orang yang sederhana, dan bisa menyederhanakan banyak hal. Memang aku sebelumnya adalah orang yang sering merumitkan sesuatu samapai titik tekanan yang terdalam. Sampai-sampai pada suatu waktu aku kehilangan kendali karena kerumitan hal-hal tersebut menjadi jaring laba-laba. Aku yang tadinya laba-laba, lalu malah menjadi lalat yang kena mangsa. Sedari saat itu kuputuskan untuk membiasakan diri untuk menjadi sederhana. Tapi binatu sialan ini memaksaku untuk masuk ke jaring laba-laba itu lagi. Dan perlahan ia mulai mengubahku menjadi lalat. Lalu tiba-tiba saja air mata jatuh ke pipiku, tidak tahu mengapa. Sudah lama aku tidak menangis. Aku juga lupa kapan terakhir aku menangis.

Selama satu jam aku berada di taman, selain melihat danau aku juga sedikit meregangkan tubuh sambil merokok dan melihat ikan-ikan di kolam di dekat taman bermain. Tapi tetap saja binatu itu datang menyergapku untuk terus memikirkannya. Jika saja masih siang, mungkin aku akan menyewa sekoci untuk menikmati arus danau dan membuang pikiran binatu ini ke dasar danau, tapi sekarang malam dan mungkin kraken atau makhluk danau malam lainnya bisa saja memakanku. Setelah itu semua aku pulang, berjalan kembali ke tempat yang lebih berperadaban.

            Kutaruh piringan hitam di atas gramopon, menaruh stylus di atasnya, lalu terdengar alunan Toccata and Fugue in D minor.Kubawa sebotol bir dingin dari kulkas ke kamar mandi, membakar sebatang rokok, dan melepas setiap helai pakaian. Aku berendam tanpa air hangat malam ini. Kusiapkan sabun agar bak penuh dengan busa, lalu kucelupkan sekujur tubuh berkeringat ini ke dalam bak. Segar, tapi tidak sega,r karena pikiran ini mulai rontok. Sialan. Jika saja aku tahu bahwa ceritanya memaksaku untuk menemukan jawaban, sudah kugagalkan pertemuan membosankan itu.

            Aku tetap berpikir, dan terus berpikir. Apa maksud binatu bodoh itu? Apa maksud komposisi Beethoven itu? Apa maksud warna hijau toska dan merah muda itu? Apa maksud pencucian manusia itu? Persetan, aku terjebak. Lalu tiba-tiba saja muncul putaran mesin cuci di bayang-bayang penglihatanku. Mulai terdengar dengungan mesin itu dan nada-nada Symphony No. 9. Mulai muncul gambaran indah binatu tersebut dengan desain Italia klasiknya. Mulai jelas bagaimana ‘Welcome to Happy Freedom Laundromat’ dan FEELING A LITTLE DIRTY, PLEASE DO ME… by: the Laundry tersampaikan di setiap tempatnya. Dan muncul sosok wanita paruh baya dengan wajah dan gaya berpakaian membosankan, meneriakiku: “Menjauhlah dari pintu, bodoh! Kau menghalangi pelanggan yang masuk dan keluar!” lalu aku terbangun. Dadaku sesak. Rokok masih menyala dan terselip di bibir. Sebotol bir masih di tangan. Tapi aku terlelap. Dan gambaran-gambaran itu muncul lagi dalam deretan acak, membuat kepalaku pusing, sangat pusing. Bahkan sakit seperti ada yang menusuk. Kampret!

            Kuhisap habis puntung rokok itu. Kuteguk habis bir dingin itu. Langkah terakhir adalah mencelupkan kepala ke dalam bak berisi air dingin penuh busa. Lantunan Bach masih terdengar menjerat sudut-sudut rumah, termasuk kamar mandi ini, meski dari dalam air. Sangat menenangkan. Binatu dan segala isinya kembali mengisi kepalaku. Putaran mesin cuci membuatku sedih, sangat sedih walaupun aku tak tahu alasannya. Lalu aku menangis. Aku bisa merasakan air mataku menyatu dengan air bak mandi. Putaran itu memusingkan, sampai cahaya kamar mandi perlahan menghilang. Semua cahaya mulai redup. Dan hilang. Perasaan ini menenangkan, dan setelah tenang pasti ada kebahagiaan. Inilah pencapaian kebahagiaan.

 

Hafizh Pragitya

Penggemar Sastra



Terkait