Binanalar

NU Meruwat Ukuwah, Sebuah Harapan

SUARA 29 Nov 2021 17:20

NU Meruwat Ukuwah, Sebuah Harapan

binanalar.com

Binanalar.com - Kehendak untuk selalu berjalan cepat dalam satu baris kemajuan memang sudah jadi nubuat setiap orang. Semua ornamen sosial dipaksa mau tidak mau mengikuti gaya, bentuk, dan susunan sosial baru itu. Lalu di mana mencari Nahdlatun Ulama (NU) masa kini? saat pencarian keberadaan itu NU selalu berhadapan langsung dengan konstituen yakni masyarakat ahlus sunnah wal Jamaal yang setiap waktu mengalami tantangan. Sebagai payung tidak salah jika masyarakat Nahdliyin akan menyasar keorganisasian ini. NU tidak lagi harus dipandang organisasi masyarakata keagamaan semata, masyarakat Nahdliyin mentut lebih banyak. Perjuangan NU mesti memiliki daya lenting pada zaman ini ancaman perombabakan persaudaraan Islam menjadi dengung yang laten

Sebagai kiasan ingatan pembentukan Jam'iyah Nahdlatul Ulama dilatarbelakangai oleh dua faktor dominan;  pertama, adanya kekhawatiran dari sebagian umat Islam yang berbasis pesanten  terhadap gerakan kaum modernis yang meminggirkan mereka. Kedua, sebagai  respons ulama-ulama berbasis pesantren terhadap pertarungan ideologis yang terjadi  di dunia Islam pasca penghapusan kekhilafahan Turki, munculnya gagasan Pan-Islamisme yang dipelopori oleh Jamaluddin Al Afghani dan gerakan kaum Wahabi di  Hijaz. Gerakan kaum reformis yang mengusung isu-isu pembaruan dan purifikasi  membuat ulama-ulama yang berbasis pesantren melakukan konsolidasi untuk  melindungi dan memelihara nilai-nilai tradisional yang telah menjadi karakteristik  kehidupan mereka.

Sejumlah peristiwa kekerasan berlatar  belakang intoleransi meluas di Indonesia dalam sekian tahun belakangan. Pelakunya kebanyakan menyuarakan gagasan radikalisme agama oleh organisasi  kemasyarakatan atau kelompok berlatar  belakang Islam. Aparat negara juga menjadi aktor dalam sejumlah kasus kekerasan. Beberapa kegiatan yang berkaitan dengan kebebasan berekspresi juga dipaksa  bubar. Setidaknya sepanjang 2015 terjadi 119 kasus pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan, naik 23 persen dari tahun sebelumnya.

Fenomena di atas juga mesti ditambah caruknya mengenai persoalanan pemerataan kesejahteraan dan pelayanan. Kaum Nahdliyin yang umumnya menetap di tepi-tepi pedesaan memang mengalami keterangkatan akses dan informasi. tetapi jelas itu hanya stimulan ringan saja. Warga NU juga seringkali berhadapan bagaimana akses ekonomi. di mana masalah itu harus dicarikan formulasinya. Ingat bahwa rata-rata masalah disintegrasi pada hal sosial dan keagamaan sekaligus bermuara pada masalah “sandang dan pangan” rakyat yang tidak tersedia. Rasa keadilan selalu berakhir dengan kritik dan mudah sekali ditumpangi oleh golongan. Formulasinya ialah mendistribusikan konsep dan praktis ekonomi ummat. Memang bagi NU tidak mudah membalikkan telapak tangan, tetapi mayoritas Nahdliyin telah menunggu gagasan itu segera dilakukan.

Konsolidasi Keummatan

Mewujudkan persaudaraan atau dalam bahasa agama disebut silat-u ‘l-rahm (saling memberi kasih-sayang atau saling cinta) adalah kewajiban setiap umat beragama. Biasanya istilah ini dipakai dalam hubungan keluarga, maupun kelompok. Tapi bisa juga diperluas dalam bingkai kemanusiaan. Dasar silaturahmi adalah persaudaraan (ukhuwwah), yang biasanya dipakai dalam konteks persaudaraan sesama orang beriman (ukhuwwah islamiyyah), merentang kepada persaudaraan sesama manusia (ukhuwwah insaniyyah atau ukhuwwah basyariyyah).

Dalam internal NU ada sejumlah masalah;  Pertama, kecenderungan budaya adaptif yang lebih memberikan peluang kepada dunia luar lebih luas. Terutama dalam proses pengayaan pendidikan keagamaan akan menjadi tentangan bagi dunia pendidikan tradisional seperti pesantren. Warga muda NU lebih mudah mengakses sumber ilmu kapan saja. Hal ini akan secara perlahan dapat mengurangi pengetahuan dan keilmuan yang memang memiliki hubungan dengan tradisi NU.

Kedua, kaderisasi NU seringkali menghadapi penyempitan dari ruasan terdampaknya masyarakat NU dari digitalisasi 4.0. Tidak ada yang tahan dengan semangat budaya digitalisasi. Alhasil, pekerjaan dan kekaryaan menjadi barang murah meriah. Muskil untuk melibatkan organisasi untuk mendapatkan pekerjaan dan kelompok baru yang satu bingkai. Di sinilah, NU mesti mengukur diri, saat ini harus ada titik tekan bahwa kaderisasi bukan menbonsai tetapi juga harus memiliki daya tawar. NU bisa berdaya dan bersaing adalah hal pasti jika tidak perkaderan hanya sebatas menujukkan identitas kader dan bukan mendorong kader.

Mungkin kita akan sepakat pada apa yang dinyatakan Greg Fealy (2003) wujud paling mencolok dari militansi itu adalah terbentuknya paramiliter di tubuh NU. Munculnya kekuatan semacam paramiliter di tubuh NU dengan kondisi umum warga Nahdliyin yang saat itu masih relatif terbelakang merupakan persoalan tersendiri yang berdampak jauh terhadap terbengkalainya penguatan masyarakat dan budayanya; yang bahkan berlanjut terus NU sampai saat NU telah menarik diri dari politik pragmatis.

Terbengkalainya kerja kultural NU dan terseretnya organisasi ke dalam militansi Islam membuat kehidupan komunitas NU dan budayanya, terutama di tingkat akar rumput, benar-benar tidak mengalami pencerahan. Misalnya, nilai-nilai keadaban menjadi memudar dari kehidupan mereka. Mereka memetamorfosis menjadi semacam kekuatan yang sampai batas tertentu mengusung “keberingasan” sosial-agama dan budaya. Dengan demikian, NU kurang mampu lagi menyikapi realitas secara akomodatif, kritis, dan kreatif. Akibatnya, visinya menjadi mandul, tidak viable dan jauh dari nilai-nilai transformatif. NU hanya disibukkan dengan gerakan reaktif yang bersifat ad hoc dan kehilangan sifat kearifannya.

Meskipun realitas semacam itu bukan merupakan fenomena tunggal, tapi NU harus membayar ongkos sosial-keagamaan cukup mahal. Kekurangmampuan dalam menerjemahkan dan mengemban visi dan misinya telah menyudutkan warga NU menjadi kelompok periferial yang hanya diperhitungkan karena aspek kuantitasnya, bukan kualitasnya. Meminjam ungkapan KH Musthofa Bisri (Tashwirul Afkar No. 6 Tahun 1999: 76), orang lain sering menggunakan potensi NU, sedangkan masyarakat NU sendiri sangat sedikit mendapat manfaat dari organisasi. NU dan warganya sekadar dijadikan alat oleh oknum dan kelompok tertentu –termasuk penguasa –untuk meraih kepentingan, dan mereka meninggalkan NU dan warganya ketika merasa tidak dibutuhkan. Pungkasnya harus ada penguatan bagi NU dalam beberapa sisi; Pertama, Memperkokoh dakwah Islamiyah. Kedua, Meningkatkan pendidikan. Ketiga, Pemerataan kesejahteraan social. Keempat, Memperkuat konsolidasi pegkaderan, dan menggalang kekuatan dari semua komponen.

 

Penulis:  

dr. Umar Usman (Ketua Tahfidziyah PCNU Kabupaten Malang)



Terkait