Binanalar

Perbankan Syariah Stabil di Tengah Pandemi, Kok Bisa ?

SUARA 06 Jan 2021 23:38

Perbankan Syariah Stabil di Tengah Pandemi, Kok Bisa ?

binanalar.com
Binanalar.com - Bisnis keuangan syariah tampil mengesankan di tengah bencana non alam Covid-19. Sri Mulyani mengungkapkan dalam acara Sharia Business and Academic Strategy (SBAS) 2020 bahwasanya, meskipun di tengah pandemi Covid-19 kinerja perbankan syariah tetap dalam kondisi stabil cenderung tumbuh positif meninggalkan perbankan konvensional yang tertekan akibat dampak wabah. 
 
Kinerja mengesankan perbankan syariah ditunjukkan dengan pertumbuhan signifikan dari sisi aset, yakni tumbuh 10,97% dengan total aset kini Rp 575,85 triliun hingga September 2020. Sementara perbankan konvensional hanya tumbuh 7,77%. Kemudian, Dana Pihak Ketiga (DPK) pada perbankan syariah juga mengalami pertumbuhan 11,56%. Angka tersebut lebih dari tingkat dana pihak ketiga di perbankan konvensional yang hanya tumbuh 11,49%. 
 
Dalam acara tersebut, Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia yang sekarang menjabat sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia melanjutkan bahwasanya, penyaluran kredit perbankan syariah mengalami pertumbuhan lebih tinggi mencapai 9,42% sementara perbankan konvensional dari segi penyaluran kredit hanya tumbuh 0,55%. Lebih dari itu, rasio kecukupan modal bank syariah mencapai 23,5% dan rasio kredit bermasalah (NPF) sebesar 3,31%.  
 
Kemudian salah satu indikator yang mengakibatkan stabilnya bisnis syariah di Indonesia adalah jumlah investor yang tumbuh 108%. Selain daripada itu, transaksi saham syariah yang mengalami peningkatan mencapai 26% dengan nilai Rp 6,2 miliar, angka tersebut naik dari sebelumnya yang hanya Rp 3,9 miliar. Lebih lanjut, Bendahara Negara yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) itu menjelaskan pencapaian sektor keuangan syariah Indonesia menempati posisi ke-5 pada tahun 2019 yang sebelumnya hanya menempati posisi ke-10 pada 2018. 
 
Bukan hal baru, perbankan syariah tetap eksis dan stabil dalam kondisi krisis, hal itu terlihat dari kondisi krisis 2008 yang menumbangkan sektor perbankan konvensional. Mengutip pernyataan Bambang Brodjonegoro, Menteri Keuangan pada masa itu mengungkapkan bahwa alasannya adalah, bank syariah cenderung bermain aman dan menghindari transaksi spekulatif. Kemudian daripada itu, bank syariah juga lebih menekankan aspek kehati-hatian. Sedangkan perbankan konvensional lebih bermain pada sektor high spekulatif. 
 
Tren positif yang ditunjukan oleh kinerja perbankan syariah dan sektor bisnis syariah memberikan gambaran keuangan syariah yang memiliki potensi sangat besar di masa depan. Sebab, mayoritas penduduk Indonesia merupakan muslim. Lebih lagi, nilai universal Islam yang mendasari kegiatan perbankan syariah yakni keadilan, kejujuran, dan amanah merupakan pondasi kuat yang menjadi nilai tambah image  di masyarakat.  
 
 
Penulis:
Bhahari Abdul Gani
(Mahasiswa Perbankan Syariah dan Kader HMI Kafeis UIN Jakarta)
 


Terkait