Binanalar

Imbas Covid-19 terhadap Pasar Modal di Indonesia

SUARA 06 Jan 2021 23:29

Imbas Covid-19 terhadap Pasar Modal di Indonesia

binanalar.com

Binanalar.com - Pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia termasuk Indonesia berimbas kepada beberapa sektor penunjang perekonomian suatu negara. Hal tersebut diakibatkan oleh adanya beberapa pembatasan yang dilakukan negara tertentu demi memutus rantai penyebaran virus Covid-19.

Seorang ekonom sekaligus mantan menteri keuangan, Muhammad Chatib Basri menilai krisis ekonomi yang diakibatkan pandemi COVID-19 lebih parah dibandingkan krisis moneter pada tahun 1998. IMF dan Bank dunia juga mempredikasi bahwa pandemi Covid-19 telah memicu resesi ekonomi global. Lebih lanjut, BI  dan Menteri  Keuangan  RI, Sri Mulyani  ikut  berpandangan  bahwa  masa  depan  ekonomi  Indonesia  akan mengalami kemerosotan drastis,  setidaknya  sampai  awal  tahun  2021.  Pertumbuhan  ekonomi  pada kuartal II tahun 2020 tertekan  sampai minus 5,32 persen.

Pasar modal sebagai instrument keuangan juga terkena imbas akibat pandemic Covid-19. Menurut anggota Komite Investasi Bidang Komunikasi dan Informasi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rizal Calvary Marimbo, penurunan nilai investasi akan sangat terlihat menilai dari hubungan dagang yang melibatkan negara-negara penyebaran virus Covid-19 seperti Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Pergerakan indeks saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta dipengaruhi oleh kondisi internal (kondisi pandemic Covid-19 dan kebijakan social  distancing) dan eksternal (pandemic Covid-19 di Cina dan Spanyol). Dilansir dari kontan.co.id Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada rabu, 12 desember 2020 IHSG melemah 57,10 poin atau 0,95% ke 5.979,07 pada akhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dengan penurunan tersebut, IHSG mengakumulasi penurunan 5,09% sepanjang 2020.  

Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) memprediksi, Indonesia akan kehilangan investasi senilai Rp. 127 Triliun akibat pandemic Covid-19, mengingat pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang semakin tertekan. Pemerintah juga menyatakan bahwa hubungan perdagangan dengan China mengakibatkan penurunan nilai ekonomi yang dialami RRT akan berimbas terhadap penurunan pada ekonomi di Indonesia. 
Berimbasnya penurunan nilai ekononomi China terhadap Indonesia dikarenakan RRT adalah negara dengan realisasi investasi asing terbesar kedua di Indonesia pada tahun lalu. Tidak main-main, nilai investasi RRT di Tanah Air tidak kurang dari USD 4,7 miliar. Nominal itu setara dengan hampir 17% total nilai investasi keseluruhan asing di Indonesia.

Namun, Mandiri Sekuritas memperdiksi IHSG tembus 6.850 pada tahun 2021. Dennies Christoper memperkirakan bahwa IHSG akan terus menguat, ia menyatakan bahwa sentimen dari Amerika Serikat setelah Donald Trump meneken kesepakatan stimulus AS mendorong bursa di asia naik secara keseluruhan.  

 

Penulis:

Rita Safitrie

(Mahasiswa dan Kader HMI Kafeis UIN Jakarta)

 

 



Terkait