Binanalar

Seni Revolusi

SUARA 24 Dec 2020 16:02

Seni Revolusi

binanalar.com

Binanalar.com - Revolusi Lebanon merevolusi Hayat Nazer. Berhenti dari pekerjaannya dengan PBB, perempuan Lebanon ini turun ke jalan. Berbekal bakat dan kreativitas seni, Hayat bergabung dengan saudara-saudara sebangsanya yang menentang kezaliman pemerintah.

Ketika patung simbolik Phoenix dibakar, gairah berkeseniannya sebagai praksis revolusi malah semakin berkobar. Ketika sebuah ledakan mengguncang pelabuhan Lebanon, Hayat bukan saja mencemplungkan diri membantu para korban, tapi pun mengolah puing-puing dan menjadikannya sebuah patung yang menyimbolkan Beirut: perempuan cantik yang terluka.

Di bawah ini, wawancara Hayat dengan Jessica Stewart. Hayat mengungkap bagaimana revolusi merevolusi dirinya sampai membuat patung perempuan secara bersama-sama. Selamat membaca dan semoga menginspirasi.

Seniman Lebanon Menciptakan Patung Kuat Dari Reruntuk Ledakan Pelabuhan Beirut

Pada Agustus 2020, ledakan besar di pelabuhan Beirut mengguncang kota itu. Menyebabkan lebih dari 200 kematian dan 6.500 cedera, insiden itu terjadi setelah hampir setahun protes yang menyerukan diakhirinya pemerintahan sektarian di Lebanon. Seniman Hayat Nazer, yang sangat terlibat dalam Revolusi, menggunakan puing-puing dari ledakan untuk membuat patung kuat yang menyuarakan penderitaan bangsa. Karya ini adalah yang terbaru dari serangkaian patung yang terinspirasi oleh Revolusi yang telah menyoroti perjuangan negara di dunia internasional.

Meski beberapa pahatannya, semuanya dibuat dengan bahan daur ulang, dihancurkan oleh aktivis pro-pemerintah, Nazer tidak tergoyahkan. Bahkan, keinginannya untuk menciptakan seni yang berbicara kepada massa makin tumbuh dan memuncak dengan patung perempuan tanpa judul yang dengan bangga berdiri di pelabuhan. Meski patung itu sekarang telah dipindahkan karena takut akan dihancurkan, Nazer berharap dengan dana yang memadai dia akan dapat membuat tugu peringatan permanen yang lebih besar, untuk semua orang yang hilang atau terluka dalam ledakan tersebut.
Kami mendapat kesempatan mengobrol dengan seniman Lebanon tentang apa yang memotivasinya untuk menciptakan seni revolusioner ini dan simbolisme di balik patung yang kuat ini.

Patung Terbuat dari Puing-puing Ledakan Pelabuhan Beirut. Apa yang mendorong Anda untuk mulai membuat patung ini?

Aku dulu bekerja dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa, lalu berhenti dari pekerjaanku sebagai seniman karena aku merasakan kebutuhan — bukan keinginan, tapi kebutuhan — untuk melukis dan menciptakan karya seni. Jadi aku berhenti dari pekerjaanku sekitar tahun 2016 atau 2017. Aku mulai melukis dan menjual beberapa lukisan di beberapa negara. Kemudian selama Revolusi, aku turun ke jalan pada hari pertama, dan kami melakukan semua yang kami bisa, tetapi kemudian aku merasa bahwa aku perlu mengekspresikan lebih banyak, untuk berbuat lebih banyak. Dan cara terbaikku untuk mengekspresikannya adalah melalui seni.

Aku melihat beberapa orang, beberapa pengunjuk rasa pro-pemerintah. Mereka datang dan mereka merusak tenda kami — tenda pengunjuk rasa — di Martyrs Square. Dan orang-orang telah meletakkan tenda-tenda yang rusak di bawah Tangan Revolusi. Jadi aku mendapat ide untuk membuat burung phoenix dari tenda-tenda yang rusak karena aku tidak bisa melihat barang-barang rusak yang berhubungan dengan Revolusi. Aku tidak ingin mereka menghancurkan kami. Dan aku ingin melawan melalui seni. Dan aku belum pernah membuat patung dalam hidupku sebelumnya. Aku tidak tahu bagaimana melakukannya, tapi aku sangat ingin melakukannya.

Kemudian, pada hari kemerdekaan, aku bangun dan melihat beberapa orang pro-pemerintah datang dan membakar tangan revolusi karena mereka ingin mengakhiri revolusi kita. Jadi aku berkata pada diriku sendiri, hari ini burung phoenix harus lahir dan akan bangkit dan aku pergi ke jalan dan ketika pergi ke Martyrs Square dan mulai melepaskan logamnya. Kemudian orang-orang — karena itu adalah Hari Kemerdekaan dan itu hari libur — yang datang dari seluruh Lebanon untuk berpartisipasi dalam sebuah acara protes mulai bertanya kepadaku, kenapa Anda melepas logam itu? Apa yang akan kamu lakukan? Aku berkata kepada mereka bahwa aku ingin membuat burung phoenix darinya karena burung phoenix adalah burung yang setiap kali dibakar akan bangkit kembali dari abunya sendiri. Lalu tiba-tiba, orang-orang mulai membantuku membuat Phoenix — tua, muda, anak-anak, perempuan, laki-laki dari seluruh Lebanon. Semua agama, sekte, semua bidang,

Kami membuat Phoenix bersama dan itu menjadi simbol besar Revolusi. Itu mendapat banyak perhatian dan liputan media dan semua orang mengambil gambar di sebelahnya — bahkan turis datang ke Lebanon untuk berpartisipasi dalam Revolusi dan mengambil gambar Phoenix. Tapi beberapa hari lalu, orang-orang pro-pemerintah menghancurkan dan membakar Phoenix. Mereka mematahkan sayapnya dan mencuri kepala Phoenix, yang sebenarnya menghancurkan hatiku. Itu patung pertama yang pernah aku buat. Banyak orang menangis ketika kami membangunnya karena sangat emosional dan banyak orang menangis dan meneleponku ketika rusak.

Bagaimana Anda mengumpulkan bahan untuk membuat patung pelabuhan?

Ledakan itu terjadi dan aku menghentikan semuanya. Aku turun ke jalan dan mulai membawa kasur, tenda, makanan, semua yang bisa aku kumpulkan untuk membantu orang-orang yang terkena dampak ledakan. Dan itulah yang kulakukan di awal. Kemudian kami mulai membersihkan rumah-rumah penduduk dan jalan-jalan agar orang-orang dapat kembali ke rumah mereka karena rumah-rumah tersebut dipenuhi pecahan kaca, perabotan rusak, dan lain-lain. Jadi aku meminta sukarelawan di Instagramku. Banyak orang bergabung denganku dan kami pergi dan membersihkan rumah. Dan aku tidak ingin membuang puing-puing. Aku mengemasnya ke dalam tas. Aku membawanya ke rumahkua yang juga merupakan tempat kerjaku.

Bisakah Anda menjelaskan beberapa hal yang membuatnya?

Aku telah memulai membuat patung perempuan sebelum ledakan. Aku tidak tahu kenapa  melakukannya. Tetapi terkadang aku tidak tahu kenapa aku menjalankan proyek. Dan kemudian, setelah melakukannya, aku menemukan kenapa aku melakukannya. Dan, tahukah Anda, Beirut telah dihancurkan berkali-kali. Ini bukan pertama kalinya. Jadi aku merasa perjuangan harus menjadi bagian dari penciptaan patung perempuan dan aku merasa Beirut adalah seorang perempuan. Dan bagi banyak orang, Beirut adalah seorang perempuan, dan dia perempuan yang cantik.

Jadi aku mulai membuat patung yang terbuat dari puing-puing. Aku ingin dia terlihat cantik karena Beirut cantik, tapi ia harus menunjukkan rasa sakit mereka yang meninggal dan mereka yang terluka. Ada garis tipis antara membuatnya terlihat cantik karena Beirut cantik. Beirut sangat indah, sehingga semua orang menginginkan bagian dari Beirut. Dan itulah yang terjadi ketika seorang perempuan begitu cantik dan semua orang menginginkannya dan itu terkadang menyakitinya dan itulah yang terjadi di Beirut. Jika Anda melihat wajahnya, itu terluka; kakinya terbuat dari pecahan kaca, gaunnya dari pecahan logam dan tembaga yang juga kutemukan. Semuanya didaur ulang. Ada juga cermin pecah yang memantulkan cahaya.

Bisakah Anda mendeskripsikan patung dengan kata-kata Anda sendiri dan proses berpikir Anda dalam komposisi?

Aku menurunkan satu tangan. Ia terlalu lelah, tangannya terlalu lelah bahkan untuk diangkat. Dan kakinya hanya berdiri diam seolah ia tak ingin bergerak. Rambut terlihat seperti masih terurai di udara. Dan, tahukah Anda, saat ledakan terjadi ada banyak gaya dan tekanan dari udara. Jadi aku ingin rambutnya terasa seperti ledakan masih terjadi. Di bawah semua itu di sebelah kanan, ada jam rusak yang kutemukan di jalanan dan telah berhenti pada pukul 6:08 atau 6:07, yang merupakan waktu ledakan.

Aku memasukkannya ke dalam patung karena begitu banyak dari kami yang merasa tidak bisa melanjutkan hidup. Kami masih terjebak dalam waktu saat ledakan, kami belum selesai, kami masih trauma. Dan bagian ini mengungkapkan rasa sakit yang kami alami dan trauma yang kami alami. Di sebelah kiri, Anda melihat tangan terangkat karena ia ingin bangkit, ia ingin terus bangkit lagi, ia menginginkan kekuatan. Juga kaki di sebelah kiri. Jika Anda melihatnya, itu agak bengkok seolah ia baru saja akan berjalan — ia baru saja akan bergerak untuk bangkit. Dan inilah yang ingin aku tunjukkan. Itu kenyataan. Kami ingin bangkit, tapi kami kesakitan.

Awalnya, aku menyuruhnya membawa cermin pecah berbentuk huruf V karena aku ingin orang melihat diri mereka sendiri dalam pantulannya. Tapi sayang, saat memindahkan patung ke pelabuhan, cermin di tangannya pecah. Pada 17 Oktober, orang-orang membawa obor dari seluruh Lebanon untuk menyalakan obor besar, jadi aku juga menyuruhnya membawa obor. Jadi mula-mula ada cermin pecah dan kemudian ia membawa obor dan kemudian aku harus melepaskan obor dari tangannya pada hari peringatan pertama Revolusi. Selama acara itu, aku mengambil obor, yang mewakili obor yang dibawa oleh orang-orang dari seluruh Lebanon, dari tangannya dan menggunakannya untuk menyalakan obor besar yang juga ada di pelabuhan.

Ia menyalakan obor Revolusi. Saat aku melepas obor, tangannya kosong. Seseorang datang dan bertanya apa ia bisa meletakkan bendera Lebanon di tangannya, jadi kami menyuruhnya membawa bendera Lebanon. Keesokan harinya, karena angin, bendera berkibar. Jadi ia ditinggalkan dengan tongkat kayu dan terlihat seperti sedang membawa pedang. Jadi di beberapa gambar, Anda melihat ia membawa pedang, di beberapa gambar ada obor, di beberapa bendera, dan beberapa hanya cermin. Aku suka itu interaktif.

Bagaimana reaksi orang terhadap karya seni tersebut?
Begitu banyak orang telah menghubungiku — mereka yang kehilangan orang dalam ledakan, keluarga yang kehilangan ibu atau anak-anak mereka, beberapa yang punya luka yang sama di wajah mereka, mereka menghubungi dan mereka mengatakan kepadaku bahwa mereka menangis. Ketika melihat patung ini, mereka berkata kepadaku bahwa mereka tidak dapat mengungkapkan perasaan mereka di dalam. Terkadang kata-kata tidak dapat mengungkapkan perasaan yang begitu dalam dan luar biasa di dalam. Dan mereka berkata kepadaku bahwa patung ini mewakili dengan tepat bagaimana perasaan mereka. Itu sangat emosional bagi mereka.

Karena Phoenix dibakar, Anda memutuskan untuk memindahkan patung ini untuk melindunginya. Bisakah Anda berbicara sedikit tentang itu?

Beberapa hari lalu, beberapa orang datang dan membakar serta menghancurkan Phoenix. Orang-orang sangat khawatir seseorang akan menghancurkannya, karena ia sekarang mewakili orang-orang dan rasa sakit mereka dan impian mereka dan segalanya. Jadi aku harus mengeluarkannya dari pelabuhan. Tapi rencanaku, dan apa yang sebenarnya diinginkan orang-orang, adalah membuat tiruannya — yang sangat besar. Yang ini tingginya kurang dari tiga meter. Apa yang ingin kami lakukan adalah membuat replika besar yang akan bertahan lama, yang akan berfungsi sebagai peringatan bagi semua orang yang meninggal dan semua orang yang terluka — secara fisik, emosional, dan psikologis. Dan untuk itu, aku perlu mengumpulkan dana untuk membuat patung tahan lama yang mewakili ledakan terbesar pertama — ledakan nonnuklir — di dunia, dan terbesar ketiga di dunia.

Apa yang Anda harapkan agar orang-orang di Lebanon dan sekitarnya menyerap pekerjaan Anda?

Aku seorang seniman dan bahkan aku tidak tahu efek dan pentingnya seni sebelum Revolusi. Aku menyukai seni, tapi dulu aku merasa bahwa aku tidak dapat membuat perubahan melalui seni dan aku adalah seseorang yang percaya bahwa kita punya tujuan hidup dan kita perlu membuat perubahan di dunia ini. Aku didorong oleh perubahan positif dan saya merasa bahwa melalui seni aku tak akan mampu melakukan itu. Tapi selama Revolusi ini, itu benar-benar mengubah hidupku.
Jadi ketika aku mulai, banyak orang bertanya kepadaku. Mereka berkata, ini hanya seni, ayo pergi dan lakukan hal-hal yang lebih baik seperti memblokir jalan dan semua itu. Beberapa orang  sangat sedikit — seperti, oh, itu tidak ada artinya. Anda tahu, itu hanya seni. Bagaimana cara membuat perubahan? Tapi kemudian mereka melihat pembuatan film media internasional dan mereka melihat bagaimana kami dapat menyampaikan pesan kami ke seluruh dunia melalui seni. Mereka seperti, oke, Anda benar tentang membuat patung. Dan kemudian, ketika pemerintah mengirim orang untuk memindahkan semua tenda dari Martyrs Square karena COVID-19, satu-satunya yang tersisa adalah karya seni. Dan orang-orang yang sama ini, mereka menelepon aku dan mengatakan bahwa mereka salah. Itu satu-satunya yang tersisa, yang masih meneriakkan revolusi.

Dan beberapa pengunjuk rasa yang bahkan tidak pernah tahu apa-apa tentang seni atau yang tidak peduli tentang seni, mereka adalah orang-orang yang membantuku membangunnya, yang terus melindungi Phoenix. Aku menerima telepon dari orang-orang yang tidak pernah peduli tentang seni, mereka seperti, mari kita bangun lagi, kita tidak bisa membiarkan mereka menghancurkan kita. Kami siap, kapan pun Anda mau. Merekalah yang memotret. Dan mereka mengirimiku foto diri mereka sedang membersihkan sekitar Phoenix, meski rusak, tapi mereka sedang membersihkan dan mencoba memperbaikinya. Inilah orang-orang yang tidak pernah tahu apa-apa tentang seni atau industri. Sekarang, melalui seni, mereka tersentuh.

Penulis: 

Hikmat Gumelar (Seniman  Budayawan Bandung)



Terkait