Binanalar

Pan Islamisme yang Ramah

SUARA 03 Dec 2016 14:15

Pan Islamisme yang Ramah

binanalar.com

Geliat demonstrasi Aksi Bela Islam jilid III menggambarkan animo masyarakat muslim Indonesia sebagai entitas mayoritas luar biasa adanya. Belum pernah terjadi di negara islam sekalipun situasi seperti 2 Desember begitu mengaharu biru di tengah jantung kota Jakarta. Islam gerakan yang dibangun justeru tidak memperlihatkan bagaimana wacana berkembang akan terjadinya makar begitu kuat saat sebelum aksi. Nyatanya, massa aksi sangat menjunjung semangat ketertiban. Berkumpulnya ratusan ribu muslim ini mendakan adannya semangat Pan Islamisme. Hal itu ditandai, dari agama melakukan opsi atas gejala politik yang ada.

Walaupun beberapa orasi hanya menjurus pada penindaklanjutan hukum pada Ahok. Namun, komponen ormas yang memadati justeru merupakan kelompok Islam yang secara langsung juga punya keterkaitan dengan agenda politik. Entah itu masih konstituonal legal atau akomodatif belum sampai pada tahap oposisi. Kelompok yang sejak awal mengusung purifikasi islam dan fundamentalisme agama tak ada penampakan akan adanya gerakan islam politik langsung pada benturan institusi. Hal ini, harusnya dipikirkan lebih dalam dengan adanya Aksi 212 nyatanya menjadi forum dialog kebangsaan dan pelekat akan semua kalangan. Sejak awal, kelompok Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan tokonhnya Ulil Abshar Abdalla sering kali sikut persilangan pendapat soal  fikih keagaman dengan Front Pembela Islam (FPI), atau peristiwa penghalalan darah musisi Ahmad Dhani oleh FPI saat dituduh melakukan penistaan agama dengan menginjak lapat Allah dalam logo album Bala Dewa seolah  dalam Aksi 411 sebelumnya justeru terlihat mesra.

Massa yang bergerak ratusan ribu kita juga harus pikirkan. Bahwa, telah timbul ideologisasi Islam di Indonesia secara massif. Walaupun aras paradigmatiknya masih beragam karena masih terbelah fiqh dan konsep syiyasah nya satu sama lain. Daniel Bell The End Of Ideology telah lama memperkirakan bahwa era emas ideologi Nasionalisme yang menjadi perekat kekuatan di negara pasca kolonial pada abad 21 telah berakhir, kini telah masuk di mana Primordialisme, Pan Islamisme, dan Sektarianisme menjadi ideologi yang berpengaruh. Tidak ada ideologi yang menyelesaikan suatu negara sepanjang kekuasaan terlalu dinamis dan absolut. Apa yang terjadi di Timur Tengah sebelumnya, perang yang menyebabkan 4 Juta orang pengungsi disebabkan oleh kisruh agama terlalu ekslusif serta silang sengkarut sektarianisme pada suku-suku Arab menjadi perang asimetris.

Kenyatan keberagaman bangsa dalam bernegara menjadi tantangan tersendiri. Kemungkinan untuk terjadi chaos antar kelompok bisa sangat kuta. Keberagaman agama sama halnya juga dipikirkan sebagai kemungkinan-kemungkinan. Islam sebagai mayoritas jelas bisa saja mempunyai tuntutan lebih, apalagi masyarakat Islam di Indonesia dilihat dari Indek Pembanguan Manusia (IPM) hanya 25 Persen saja berasal dari kalangan menengah. Selebihnya masih berada dalam perekonomian bawah. Jelasnya masukan ummat Islam untuk kedaulatan jelas bukan tidak didasarkan. Kebangkitan ideologi islam secara massif bukan harus dilihat dari berbagai faktor.

Pertama, situasi politik tidak menunjang terciptanya suasana demokrasi yang kondusif. Kedua, adanya lokus elit yang menyebabkan mandegnya birokrasi dan pembangunan yang membuat membangunan secara luas tidak terjadi. Ketiga, tuntutan akan adanya Islam sebagai agama yang sering dideskreditkan di dunia Internasional, menyebabkan rasa keislaman menjadi gejala sentimen politik. Keempat, Indonesia merupakan negara yang sangat kondusif untuk mengadakan kelompok dan organisasi keagamaan.

            Fenomena demokrasi yang gagal diciptakan di kasus Timur Tengah telah menyebabkan peran agama menampilkan sentimen politik bahkan pada separatisme. Kasus di Indonesia memang tidak mengarahkan ke arah sana. Ini semestinya yang menjadikan gejala Pan Islamisme tidak begitu menampilkan pada tindakan makar. Walaupun, Indonesia pernah berhadapan pada polemik ke tingkat militeristik saat NII melakukan tindakan makar. Nyatanya kelompok Islam masih sangat intent dalam melakukan dialog. Ini merupakan sikap bahwa Islam politik yang ditampilkan masih sebagai radikalisme wacana tidak sampai gerakan radikal. Tapi bukan tidak mungkin juga situasi diperparah dengan ketimpangan elitisme di negeri ini, sikap keagamaan akan menjadi benturan.

            Lebih jauhnya, gejala Pan Islamisme di Indonesia masih memungkinkan terjadinya sebuah dialog. Dengan adanya saluran untuk menerima masukan itulah setidaknya stabilitas politik kita saat ini masih terjamin. Radikalisme agama yang dilakukan terorisme, jelas tidak dilakukan oleh kelompok mayoritas ormas muslim yang ada di Indonesia. Kelompk radikalis memang memiliki sentimen agama yang diarahkan pada kepentingan politik. Namun mereka tidak melakukan dialog dan hanya menempatkan pada pembenaran sepihak. Apa yang dilakukan oleh FPI dan Mungkin HTI justeru sebaliknya. Sekalipun adanya upaya untuk membumikan nilai ajaran Islam tidak tidak serta merta menargetkan negara sebagai lawan secara langsung.

            Kebhinekaan yang sejatinya diperlihatkan ialah upaya untuk terus menerus menyediakan dialog yang disusul dengan daya penyelesaian kongkret. Karena bagaimanapun, sentimen agama jauh lebih kuat dan sukar dimatikan karena melekat pada nilai pandang yang dianggap telah berada dalam manusia. Walaupun secara sosialogis, sentimen itu diwariskan oleg ajaran dan doktrin ketat. Tinggal bagaimana, sentimen yang masih ramah ini tidak menjadi batu ganjalan yang menyebabkan benturan antar sesama warga Negara.

Penulis: Bayu Setiawan [ Ketua Forum Muda OPSI 47]



Terkait