Binanalar

Tamatnya Makhluk Pencerita

SUARA 02 Dec 2018 13:51

Tamatnya Makhluk Pencerita

binanalar.com

Binanalar.com - Manusia adalah makhluk pencerita terbaik di alam semesta ini. Sejarawan telah membuktikabn bagaimana manusia mulai bercerita dari bentuk gambar dan tulisan sampai para arkeolog meyakinkan kita sehingga menafsirkan banyak kisah dari peninggalan sejarah. Hingga hari ini, manusia masih menjadi pencerita nomor satu di dunia di mana kemampuan berceritanya sudah bertransformasi ke media baru. Di balik itu, apakah manusia juga merupakan makhluk penyimak yang pandai? Siapakah yang paling utama, pencerita hebat atau penyimak yang mampu memahami cara penyampaian pencerita?

Teori komunikasi yang paling dikenal oleh para mahasiswa jurusan ilmu komunikasi adalah bagaimana si komunikator berhasil mengemas pesan yang disampaikan ke komunikan. Awalnya kita hanya memahami bagaimana seorang komunikator harus pandai sehingga komunikan mampu memaknai pesan yang disampaikan. Teori ini seakan membebankan kepada komunikator dalam menyampaikan pesannya harus baik. Namun, teori berikutnya justru melihat bagaimana penerima pesan (komunikan) juga sebagai penentu bagaimana pesan dimaknai. Karena komunikan yang menentukan bagaiman pesan dimaknai. Maka, sangat picik jika kita hanya menyalahkan penyebar hoaks (berita bohong) yang menanamkan bencana pada nalar kaum milenial. Padahal, di saat yang sama para ahli media juga sedang dipadati undangan seminar menjadi pengguna media sosial yang baik untuk menangkal hoaks, sedangkan tawaran diskusi menjadi jurnalis yang idealis masih sepi agenda.

Selain perlu memahami hukum tentang penebar hoaks yang dikenakan KUHP, UU No. 11 Tahun 2018 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), sebaiknya sebagai makhluk pencerita, termasuk pencerita di dunia maya, juga harus memosisikan diri sebagai penyimak yang baik. Di samping untuk mengupgrade cara kita berkomunikasi di era pesatnya teknologi komunikasi ini, menjadi penyimak yang cerdas akan membuat kita lebih berharga dan mulia. Orangtua akan senang dengan anak yang lebih banyak menyimak, seperti itu pula kebahagiaan mereka ketika menyimak anak atau menantunya bercerita di layar kaca, mimbar publik, dan panggung sosial karena keinginan banyak orang. Beberapa individu juga harus bolak balik memenuhi panggilan hukum karena ucapannya, bukan karena ia sebagai makhluk pencerita.

Dalam kehidupan yang sederhana, menjadi komunikator dan komunikan yang baik perlu kita perhatikan. Sebab, seorang penunjuk jalan di German dan Indonesia memiliki jawaban berbeda jika ditanyai sebuah alamat. Jika kita tidak memahami mengapa pentingnya menyimak, maka seseorang yang baru di Jakarta akan mengira seruan tukang sol sepatu adalah penjual makananan yang sedang bercanda. Sama perlunya untuk kita share before sharing di dunia maya, tanpa menyatakan bahwa sebagai makhluk pencerita, kita telah tamat. Sebab, kepicikan ilmu kita mampu menanamkan fobia (rasa takut yang berlebihan) jika ada saudara kita baru mengenal media sosial. Ya, fobia media sosial akan menjadi fenomena baru jika naluri menyimak kita mulai terpuruk dan akibatnya akan membuat kita semakin takut bercerita.

 

Penulis: Husnul Khuluk (Mahasiswa Magistes KPI UIN Jakarta)

 



Terkait