Binanalar

RADIKALISME DALAM DUNIA MAHASISWA

SUARA 16 Jun 2018 01:44

RADIKALISME DALAM DUNIA MAHASISWA
Peran Mahasiswa

binanalar.com

Menyoal  terminologi tentang radikal tentunya akan menemukan berbebagai segmentasi yang tergantung dengan bagaimana kebutuhan akan memaknai radikalisme itu apa. Memulai dengan makna apa itu “Radikalisme”? apakah “Radikalisme” selalu mengarah kepada Islam? Apa hubungannya dengan dunia kemahasiswaan? Apakah berpengaruh dengan cara berfikir mahasiswa saat ini?.

Secara garis besar dijelaskan oleh KBBI ( Kamus Besar Bahasa Indonesia ) bahwa  “Radikalisme” adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis dan sikap ekstrem dalam dunia politik. Namun secara bahasa “Radikalisme” berasal dari kata latin radix yang artinya akar. Dalam bahasa Inggris “Radikal” artinya bermakna ekstrim, fanatik, revolusioner, ultra dan fundamental. Sedangkan pengertian radicalism adalah doktrin atau praktik penganut paham radikal atau paham ekstrim. Sedangkan menurut Sartono Kartodirjo “Radikalisme” adalah gerakan sosial yang menolak secara menyeluruh tertib sosial yang sedang berlangsung dan ditandai oleh kejengkelan moral yang kuat untuk menentang dan bermusuhan dengan kaum yang memiliki hak-hak istimewa yang berkuasa[1]. Dari pengertian di atas bisa dipahami bahwa “Radikalisme” lebih mengarah kepada pengertian yang negatif, padahal “Radikalisme” itu tidak selalu mengarah kepada hal-hal yang negatif, namun ada pengertian positif yang sering dilupakan.

Radikalisme tidak muncul begitu saja, dalam teori sosial “Radikalisme” muncul karena adanya faktor lain. Dalam pandangan kaum fakta sosial bahwa ada tiga asumsi yang mendasari keseluruhan cara berfikirnya, yaitu terdapat keajegan atau terdapat keteraturan sosial, terdapat perubahan sekali waktu dan tidak ada fakta yang berdiri sendiri kecuali ada fakta penyebabnya. Akar dari radikalisme dapat dilitik dari beberapa penyebab antara lain: pertama, adanya tekanan politik penguasa terhadap keberadaannya, di beberapa belahan dunia, termasuk Indonesia fenomena radikalisme atau fundamentalisme muncul akibat adanya otoritarianisme. Sebenarnya “Radikalisme” itu mempunya sisi positif dari segi bahasanya. Radikalisme dilihat dari pengertian bahasa di paragraf awal yaitu diambil dari kata radix yang artinya akar, yang dimaksud akar adalah cara berfikir maupun bertindak harus mengakar. Yang dimaksud mengakar dalam artian berfikir adalah tidak cepat dalam mengambil kesimpulan, tidak mudah terprovokasi, tidak mudah tercemar berita-berita hoax. Seharusnya pengertian positifnya yang lebih diketahui orang banyak daripada pengertian yang agak condong ke negatifnya.

Selanjutnya adalah pembahasan mengenai mahasiswa yang sekarang-sekarang ini diberitakan tercemar “Radikalisme” di kampusnya. Seharusnya tindakan yang diambil bukanlah tindakan yang condong untuk menekan pelaku ataupun korban dari “Radikalisme” tersebut. Namun tindakan yang lebih baik adalah khususnya pemerintah yang punya kuasa lebih untuk mengatur kurikulum pendidikan, sekiranya menekankan pada wilayah itu. Pemerintah seyogyanya lebih berperan aktif di wilayah isi dari pendidikan tersebut, lebih merancang kurikulum agar pelajar maupun mahasiswa tidak tercemar oleh paham “Radikalisme” yang condong negatif. Dan juga peran dari mahasiswa agar bisa menjelaskan pengertian “Radikalisme” yang seharusnya itu seperti apa, yaitu cara berfikir mengakar pada setiap persoalan atau permasalahan. Walaupun sebelumnya pernah ada kasus mahasiswa yang juga ikut terlibat dengan aksi terorisme karena paham “Radikalisme” yang agak condong negatif. Kondisi ini diperparah dengan adanya kebijakan kampus yang sifatnya terlalu mengekang mahasiswa, membuat mahasiswa jengah, bosan, dan juga stres yang akhirnya membuat mahasiswa mengekspresikan kejengahannya dengan caranya sendiri.

Dari sini bisa saya ambil kesimpulan bahwa pemerintah, kampus dan instansi-instansi yang bersangkutan harus bisa melihat keadaan yang ada dan menampung sekaligus mencarikan solusi atas aspirasi mahasiswanya, bukan malah memperkeruh keadaan dengan membuat peraturan atau keputusan yang telah ada sekarang, seperti Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor: 26/DIKTI/KEP/2002 Tentang Pelarangan Organisasi Ekstra Kampus atau Partai Politik Dalam Kehidupan Kampus. Dengan adanya peraturan ini malah memperburuk kondisi mahasiswa yang tidak bisa mengutarakan aspirasi dan keilmuannya masing-masing. Padahal sudah jelas di dalam peraturan tersebut dibuat dengan menimbang berbagai alasan, salah satunya berbunyi, “untuk perkayaan pengetahuannya, mahasiswa perlu untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilakukan, baik oleh organisasi intra maupun organisasi ekstra”. Jadi peraturan ini dibuat dengan pertimbangan yang kontradiksi, disamping tidak boleh mengekang aktivitas mahasiswa tetapi malah dibuat peraturan untuk mengekang aktivitas mahasiswa

Pada intinya instansi terkait dunia pendidikan khususnya di wilayah kemahasiswaan haruslah melihat realita yang ada, bukan hanya membuat peraturan dengan segala kuasanya namun peraturan yang dibuat seharusnya bisa membantu mahasiswa untuk mencapai apa yang dibutuhkannya. Karena mahasiswa adalah Iron Stock, maka pemerintah sekarang dan selanjutnya harus peka dengan apa yang dibutuhkan mahasiswanya, karena merekalah yang nantinya akan menggantikan pejabat-pejabat yang sekarang lagi memegang amanah. Buatlah mahasiswa berkembang bukan membangkang, caranya adalah dengan melihat realita yang ada sebelum membuat peraturan yang mengekang aktivitas mahasiswa.

Penulis:

Ferdian Mahmuda

Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta

 

[1] Sartono Kartodirjo, Ratu Adil (Jakarta: Sinar Harapan, 1985), hal.38.



Terkait