Binanalar

Drama Korea : Fitnah, dan Kapitalisme yang Menjelma dalam Cinta

SUARA 08 Mar 2018 16:54

Drama Korea : Fitnah, dan Kapitalisme yang Menjelma dalam Cinta

binanalar.com

Beberapa Minggu ini saya terpaku di hadapan laptop mengamati (bukan menikmati) film yang tak sengaja saya tonton. Seingat saya, terakhir kali saya menjadi penikmat film saat saya duduk di bangku SMA. Waktu itu saya masih di pesantren dan diam-diam membawa portable DVD untuk menonton film. Biasanya film koleksian saya adalah sejarah Indonesia atau film tentang tokoh dunia.

Saya kurang tertarik dengan “Monkey The Luffy” yang tenar dengan 'Gomugomuno' atau “Naruto” yang hebat dengan 'Rasenggan'. Saya lebih tertarik untuk menonton film layar lebar yang dapat mengantarkan saya mengenal dunia. Maklum, saya anak SMA yang dididik di Pesantren (Santri), jadi harus menjaga diri dari hal-hal yang dilarang oleh agama.

Tapi, beberapa minggu lalu. Berawal dari niat saya membuat Curriculum Vitae (CV) untuk mendaftar di sekolah Politik Kebangsaan Akbar Tanjung Institut, tanpa sengaja mengklik folder tak bernama yang disimpan adik saya dilaptop. Setelah membuka beberapa folder, jari saya  mengklik folder yang berjudul “W” Awalnya saya kira file itu berisi foto atau file sholawat, karena sebagai anak pesantren kami selalu memiliki bahan banyak bahan pelajaran yang islami untuk dipelajari. 

Setalah saya buka, Folder “W” berisi video dari film drama serial korea yang sempat keluar pada tahun 2016 lalu. Saya  mengamati film yang berisi belasan episode itu dari episode 2, di menit 32. Rata film ini berdurasi 50 sampai 60 menit. 

Setelah saya tonton selama 30 menit, ternyata ada hal yang saya rasa janggal dan saya rasa harus menonton dari awal agar  bisa mengetahui latar belakang film ini secara utuh. Saya pun menonton ulang dari episode pertama.

Rupanya film “W” ini menceritakan tentang seorang komikus yang bekerja untuk situs komik (semacaM webtoon) di Korea Selatan dan memiliki karya  yang begitu tenar dan laris. Bahkan bukan hanya versi online. Edisi cetak pun dibuat karena keberhasilan komik ini mengambil hati masyarakat korea. 

Aktor utama komik ini hidup dalam dunia yang variabelnya berbeda dengan dunia si pengarang. Si pengarang komik memiliki seorang anak yang cantik dan berprofesi sebagai dokter. Dia dan anaknya pun terseret masuk kedalam dunia komik melalui laptop dan alur cerita komik pun berubah dengan dendirinya. Dari genre laga yang berisi bunuh-bunuhan menjadi drama cinta yang melakonlis dan kemudian sedikit horor. 

Singkat cerita, saya menyelesaikan film ini selama 8 jam. Saya pun teringat sebuah film yang banyak didubbing di Internet. Dubbingan sebuah film Korea yang diisi dengan suara orang Padang (baca; Minang) yang lumayan menghibur.  Saya pun menaruh rasa penasaran dengan film tersebut. “Descendant Of The Sun...” Itulah nama film yang pernah saya lihat dubbing-annya.

Tapi saya tetaplah saya, bukan penikmat film korea yang ingin menyaksikan adegan percintaan fiktif yang penuh rekayasa. Ataupun menikmati ketempanan Oppa-oppa dan pria yang bertulang lunak. Tidak! Saya hanya mengamati dan tidak menikmati film tersebut.

Maka, jadi jugalah saya amati film “Descendant Of The Sun” (DOTS) yang berjumlah 16 Episode ini. Film yang dibintangi oleh Song Joong Ki (di film ini menjadi Kapten Yoo, komandan pasukan khusus) dan pasangannya Song Hye Kyo (di film ini menjadi Dokter Kang, ahli bedah) yang menceritakan tentang kehidupan cinta mereka dan perjuangan bersama di Urk (negara bagian belanda) dalam misi perdamain PBB. 

Setidaknya ada beberapa point yang saya ambil dari film korea ini. Mulai dari Informasi yang berharga tentang strategi pertempuran, penyelundupan senjata ilegal yang dilakukan oleh mantan prajurit keamanan PBB untuk melakukan kudeta di sejumlah negara, nampaknya cukup memuaskan hasrat saya menganalisa film korea ini. Belum lagi konspirasi,  hubungan diplomatik dan politik yang diselipkan, menurut saya menambah kualitas film ini menjadi semakin berbobot. 

Terlepas dari betapa “seksinya" dokter Kang saat melakukan operasi Presiden Liga Arab, atau betapa gagahnya Kapten Yoo yang bertempur dalam Black Mission, bagi saya itu semua hanya script sebuah film. Sebagaimana film Ada Apa Dengan Cinta (AADC)  disaat Rangga dan Cinta ingin mengembalikan kebenaran janji mereka yang dipisahkan jarak saat itu, lalu muncul episode 2 setelah 14 tahun. 

Film ini nampaknya tak lebih seperti produk Kapitalisme. Bukan hanya menyusup pada pasar global dan cukup bicara pada persoalan ekonomi, kapitalisme ini menawarkan  ruang di mana hasrat cinta mengalir bebas bersamaan dengan kapital (bisnis perfilman).

Menonton film ini, nampaknya saya sadar Nyatanya Cinta Saat ini pada satu sisi juga menjadi epidemi (penyakit) yang lebih memandang kenyataan cinta harus dirongrong dari layar bioskop bukan lagi dari keberanian diri kita untuk memilih cara mencinta secara sadar. 

Terlebih, bahwa cinta adalah masalah eksistensi manusia yang dibentuk oleh kondisi sosial. Cinta hanya akan dapat dijelaskan dengan menganalisa manusia dan menelisik bagaimana hubungan sosial dibangun.

Sepertinya kita harus belajar dari Plato, terutama dalam bukunya yang berjudul Politeia, cinta haruslah ditafsirkan sebagai keadilan dan kebenaran. Perpaduan dua hal itu lalu akan menghasilkan kebahagiaan. Jika cinta disamakan dengan emosi sesaat atau dorongan seks belaka, maka jawabannya pasti “tidak”. Namun, saya merasa, kata “cinta” mesti diberikan makna baru yang lebih mendalam disini. Entahlah... Mungkin itu hanya analisa saya. Yang lebih memilih untuk mengamati film korea dibanding menikmatinya. 

Ada benarnya perkataan Junior saya Hardian Indra (Direktur HIKMAD) bahwa Indonesia seharusnya belajar dari Jepang dan Korea Selatan dalam memanfaatkan Bonus Demografi dan bangkit dari keterputukan.  Bukan sebaliknya, malah menanti Jepang dari film vulgarnya dan Korea dengan Drakor oppa-oppanya. 

Entah apa yang salah. Sepertinya sudah ribuan bahkan jutaan pemuda Indonesia yang menggandrungi tokoh maupun film dari kedua negara tersebut. Padahahal, hidup ini tak seindah drama korea bukan? 

Korea Selatan yang saat ini masih bersiteru dengan Korea Utara, memungkinkan  terjadi konflik setiap waktu. Pemerintah Korsel mengadakan wajib militer  (di Indonesia ada program  Bela Negara, tapi bukan Wamil)  nyata masih mampu menunjukkan eksistensi kepada dunia bahwa konflik tersebut tidak banyak berpengaruh bagi negaranya. Termasuk film dan pendidikan.  Bahkan pendapatan perusahaan elektronik asal Korea, Samsung mengalahkan APBDN sejumlah negara kecil di Benua Afrika.

Tapi saya rasa, tak seharusnya juga saya larang mereka untuk menonton drama korea. Sebagaimana hanya sedikit yang tahu bagaimana Karl Marx sesungguhnya seorang yang humanis dan romantis, serta konsisten dalam perjuangan kemanusiaan.

 

 

Mochammad Hanafi

ketua Adilah Bangsa dan Aktifis HMI Ciputat

 



Terkait