Binanalar

Hastage dan Perlawanan Diam

SUARA 25 Dec 2017 21:40

Hastage dan Perlawanan Diam
google.com

binanalar.com

 

Teror seperti biji terbawa angin dan tumbuh tak beraturan. Kita seakan tidak pernah diberikan masa berpikir tenang atau mencita-citakan untuk damai berkempanjangan. Teror bom Manchaster atau Kampung Melayu Jakarta memang kita harus anggap sebagai destruksi kemanusiaan yang berdaulat dan bebas. Apapun alasan kritis dan kritik yang dibawa militan dari jaringan terorisme tetap saja penghilangan nyawa secara paksa bukan wilayah mutlak manusia dalam menjustifikasi seseorang.

Perlawanan kita pada hal semacam itu juga tidak kurang sebagai bias semata. Kata kecaman dan mengutuk bisa diukur sebagai tindakan normatif dan ketidak sepahaman kita pada peristiwa teror terjadi. Di media sosial tidak kalah ramainya, ungkapan simpati atau perasaan tersakiti sebagai manusia diungkapkan dalam berbagai instrumen media sosial dengan membubuhkah apa yang kita kenal dengan Hashtage (#). Setiap kata dan penekanan dalam hashtage memiliki kekuatan tersendiri terutama bagi mereka yang terbiasa mengadopsi informasi dari media sosial.

Kita akan dengan gampang menemukan tranding topik di twitter dengan hastage ini dan itu. Setiap hari memiliki segmentasi yang sangat fokus pada satu persoalan. Setelah Pilkada DKI Jakarta kita diramaikan #saveahok, #savepluralisme, atau #savebhineka. Hastage memiliki penekanan psikologis berdasarkan kuantitatif bukan kualitatif. Dalam hashtage tidak akan ditanya siapa yang menaruh suara dukungan atau penguhujatan semuanya sama. Salah satu situs chage.org juga seringkali membubuhkan hastage tertentu dalam memberikan penanda pasa persoalan. Dengan begitu, masa terspasialisasi dan teridentifikasi. Kita tidak bisa dalam media memiliki semua kasus. Karena masalah dalam media massa merupakan selera yang sangat khas. Setiap individu akan memiliki kecenderungan satu masalah yang pokok dalam kehidupannya.

Salah satu masalah yang mungkin bisa hadir dan akan bertanya benarkan kita telah melakukan sesuatu tindakan secara benar-benar di dunia virtual tanpa pembatasnya. Walau kita tak menampik bahwa peristiwa Arab Spring sekalipun yang merembet ke konflik Suriah yang menajam dimulai oleh gerakan media secara luas di Mesir saat itu. Ini konteksnya sangat berbeda, maka meraka yang menuruh hashtage pada dasarnya akan dihinggapi rasa opurtunis. Entah itu keseriusan atau meramaikan. Hashtage telah menjadi alat perlawanan dengan diam yang ampuh bagi maniak media sosial.

Simbolitas hashtage seakan menjadi mantra ampuh menjatuhkan atau melambungkan sesuatu walau di dunia labirin media sosial sarat terkadang dengan kepentingan dan kuasa ahli teknologi yang mumpuni. Hashtage sebagai alat penanda yang akan menunjukkan berbagai realitas yang khas. Kita diajak bermain acak dalam setiap fenomena dan dituntut untuk menemukan selera keterdekatan masalah di tengah-tengah kita. Terlalu banyak hashtage maka kita sedang mencatat masalah dan fenomena. Pada dasarnya kita diam secara wajar tinggal menunggu umpan hashtage kita dimakan oleh mereka yang merasa dekat akan kepentingan persoalan yang kita ikut alami.

 

Penulis: Anissa Seftriani (Tim Redaksional)



Terkait