Binanalar

Masyarakat Yang Tertidur Lelap

SUARA 26 Jan 2017 03:40

Masyarakat Yang Tertidur Lelap

binanalar.com

binanalar.com - Sudah hampir 80 tahun Bangsa ini merdeka, setelah perjuangan kemerdekaan kita proklamirkan kemerdekaan atas dasar kedaulatan dan bertujuan mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat di Bumi Pertiwi tanpa penjajahan Bangsa mana pun.

Sudah lebih dari 10 tahun Bangsa ini berada di era reformasi yang lahir dari perlawanan Mahasiswa yang didukung sepenuhnya oleh Rakyat dalam membebaskan Negeri ini dari otoritarianisme, menuju terjaminnya perlindungan hak asasi manusia Indonesia serta terciptanya keadaan ekonomi berkeadilan.

Masyarakat dibutakan dengan kecapean ideologis yang dibentuk dalam tatanan parlementer. Indonesia telah terlampau jauh memahami dan menjaga ideooginya sebagai masyarakat yang berkultur agraris. Kultur industriaisasi telah menghapuskan gagasan-gagasan masyarakat tentang bagaimana Indonesia berdikari dalam ekonomi, pertanian, politik, dan hukum. Masyarakat industri masuk dalam kategori pembunuh ideologi terbesar yang menjadikan masyarakat di beberapa Negara menjadi masyarakat yang konsumis (berebut Jiwa Bangsa: Franz Magnis- Suseno, 2006).

Pengalaman Negara Industri yang maju telah memmbunuh segala kencendrungan ideologis yang berada didalam masyarakat yang sudah menjadi budaya yang diadopsi oleh nenek moyangnya. Antony Giddens menjawab kesemerawutan ideoogis yang dapat dijadikan pembelajaran bagi kaum muda intelektual yang menginginkan Negara yang ideal, pembelajaran yang dapat diambil adalah perlawan atas kunkungan pemikiran ideologis dengan adanya perlawan dengan gagasan nilai yang nyata, aktif dan partisipastif dalam kehidupan masyarakat sehingga nilai yang disampaikan dapat terinternalisasikan dalam masyarakat.

Telah banyak diskursus dan telaah gagasan masyarakat yang timbul akan tetapi terkadang gagasan tersebut ketika diasumsikan dalam masyarakat menjadi unhistoris. Rasionalisasi adalah satu-satunya gagasan yang dapat disesuaikan dengan kehidupan masyarakat. Max webber berhasil menggagas rasionalisasi masayarakat yang memisahkan diri dari premis filsafat sejarah dan asumsi dasar dasar evolusionisme. Rasionalisasi yang disampaikan secara langsung terjadi dalam perkembangan kekuatan-kekuatan  produktif, yaitu dengan melakukan ekpansi pengetahuan yang empiris (tidak lagi berketergantungan dengan mistis), perbaikan-perbaikan teknik-teknis produksi, dan meningkatkan mobilisasi efektif, kualifikasi, dan pengorganisasian tenaga kerja yang berguna secara sosial (Jurgern Habermas: 2006).

Masyarakat sebagai tatanan sosial sebagai control sosial mempunyai peranan yang penting dalam pembentukan kebijakan. Sunyi dan senyapnya pemerintah melibatkan masyarakat dalam pembuatan kebijakan yang sesuai dengan histrorisnya. Moderenisasi membentuk tantangan bagi masyarakat di Indonesia terutamanya -   sehingga muncul dan timbulah pengetahuan dan pemikiran yang berkaitan dengan kasus-kasus perubahan sosial.

Jihad Iqtisodiyah adalah jawaban atas pertanyaan dari diskursus perubahan sosial.  Jihad sebuah arti dalam bahasa Indonesia merupakan sebuah aksiologi dan usaha dengan segala daya dan upaya untuk mencapai kebaikan. Indonesia mempunyai lima subsector industry yang tidak dapat dilupakan yakni: pertama, sub sektor manufaktor tradisional, kedua, sub sektor industri pertanian dan agribisnis, ketiga, industry padat pengetahuan (knowledge intensive industry),  keempat, Industri berdasarkan energy, kelima, sub sektor Industri jasa-jasa (perdagangan, perbankan, asuransi, konsultansi,dsb).

Swastanisasi merupakan suatu contoh yang menarik yang dirilis J. Panglaykim untuk memperingati ulang tahun Tempo Ke-5 di Jakarta mengenai peran, dan usaha swastanisasi di Era proses , privatisasi, dan sektor Swasta Nasional. Menurut pang, dewasa ini hampir semua Negara – lihat saja Inggris, Jepang, Malaysia – sudah mulai jenuh melihat penampilan perusahaan yang dikuasai oleh swasta. Selain dianggap kurang efisien. pada umumnya, swasta yang menguasai Negara hampir senantiasa rugi dalam operasinya. Japan National Railways, misalnya setiap hari rugi 20 juta dollar AS. Usaha menghemat pengeluaran dengan cara merampingkan karyawannya yang berjumlah 300-an ribu itu, selalu mendapatkan tantangan para politikus (J. Panglaykim: 2011).

Kelompok wirausaha dan kemampuannya haruslah dipacu dan dikembangkan dalam masyarakat millennia ini. Konsumsi wajib masyarakat hari ini adalah bidang pengembangan dan pemberdayaan bidang ekonomi khususnya wirausaha. Abad ke-20 mengalami sesuatu yang baru dalam sejarah. Munculnya gerakan-gerakan ekonomi yang ingin menjadikan masyarakat berdikari sendiri. Dengan jelas bahwa gagasan ekonomi berdikari telah digagas oleh Hatta, Hatta dengan jelas menolak liberalisme dan Hatta juga tidak mau mempertentangkan keadilan sosial dengan hak-hak demokratis. Dalam sebuah pidato di Aceh 25 tahun kemudian (sesudah 25 tahun, 1970), ia menulis : “apakah yang dimaksud dengan Indonesia yang adil ? Indonesia yang adil maksudnya tidak lain daripada memberikan perasaan kepada seluruh rakyat bahwa ia dalam segala segi penghidupannya diperlakukan secara adil dengan dibeda-bedakan sebagai warga Negara. Itu akan berlaku apabila pemerintahan Negara dari atas sampai kebawah berdasarkan kedaulatan rakyat.”

Zuyin Arwani ,  Mahasiswa UIN Jakarta



Terkait