Binanalar

Bentengi Dari Radikalisme, Yayasan Ayo Mengajar Indonesia ajak pakar lawan Iawan Intoleransi serta terorisme di dunia Pendidikan

KABAR 24 Apr 2021 18:52

Bentengi Dari Radikalisme, Yayasan Ayo Mengajar Indonesia ajak pakar lawan Iawan Intoleransi serta  terorisme di dunia Pendidikan

binanalar.com

Binanalar.com - Radikalisme disara tidak akan kehabisan akal untuk melakukan tindakan dengan menyerang dari nilai-nilai yang sudah stabil. Dunia Pendidikan juga berpotensi dihinggapi oleh gerakan ini, jika tidak dibentengi bersama maka radikalisme menyusup dalam lembaga pendidikan menjadi mungkin.

Ayo Mengajar Indonesia menggelar dialog publik dalam program Ayo Bahas Vol.9 dengan tema “Tolerance, Yes! Radicalism, No! Cegah Intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme di Dunia Pendidikan“, kegiatan tersebut digelar di Meeting Room, Favehotel Gatot Subroto Jakarta, pada hari Sabtu (24/04/2021). Dialog tersebut berjalan dengan konsep Hybrid secara online dan offline dengan cara dialog paralel serta tanya jawab antara Narasumber dengan Peserta.

Salah satu Cendikiawan Islam Azyumardi Azra menurutnya Kita selalu dibayang-bayangi oleh radikalisme, dan seolah-olah Indonesia itu jauh lebih buruk dari negara lain, karena jika dibombardir dengan isu radikalisme maka kita sebagai bangsa akan merasa minder dengan negara lain, walau memang benar ada gejala radikalisme tapi jangan dilebih-lebihkan.

“Coba kita perbandingan dengan negara di timur tengah, atau di negara di eropa, pasca reformasi gereja, itu juga penuh dengan konflik panjang, maka dari itu sekarang lahir negara kecil di eropa berdasarkan sekte yang ada di nasrani,” urainya.

Ahmad Nurwahid Direktur Pencegahan BNPT menguraikan Jika kita berbicara teroris itu bicara hilirnya, namun tidak bisa kita lepas radikalisme atau ekstrimisme. Teroris karena motif persaingan bisnis narkoba, karena mereka meneror atau membunuh, itu terkena di amerika latin, dan indonesia baru sekali di aceh, tu di tangani BNN.

“Semua teroris pasti berfaham radikalisme, namun yang berfaham radikalisme belum tentu menjadi terorisme, ada juga terorisme yang takiyah atau bersiasah untuk mengelabui  ummat bahwa mereka inklusif, karena terorisme memiliki faham takfiri atau yang mengkafirkan orang lain,” urainya.

Dia menambahkan Aksi terorisme tidak ada kaitannya dengan agama apapun,  tetapi sangat terkait dengan pemahaman yang menyimpang oleh oknum dalam memahami ajaran agama. Upaya teror sudah kami tangaani 1100 semenjak 2018,  Kami di BNPT hanya ingin mencari ridho allah dalam menjaga NKRI dan pancasila. saat ini yang belum terpapar 87,8% radikalisme, namun rentan untuk terpapar, maka haurs diajarkan spritualitas yang rahmatan lil alamin, dan juga jangan memfollow ustad yang berfaham radikal, seperti ustad yang berfaham salafi wahabi, dan juga jangan mengeneralkan salafi wahabi semua teroris.


“Tolong hentikan menbidahkan orang lain atau mensesatkan orang lain dalam berdakwah. Tapi ada 12,2% yang terpapar radikalisme,   kita harus optimis karena skala indeks radikalisme turun dari tahun sebelumnya.Deradikalisasi untuk orang yang sudah terpapar, program kegiatan merehabitasi, mereorganisasi ideologinya,” pungkasnya.

Iif Fikriyati Ihsani perwakilan dari Setara Institute mengutarakan temuannyab bahwa, intoleransi terjadi di perguruan tinggi, ketika meneliti 10 kampus, kami menemukan tingkat intoleransi cukup  tinggi sapai 20-30 %, Ketika penelitian di sekolah pun sama cukup tinggi tingkat inteloransi, dan bukan tumbuh tiba tiba, tapi memang ada peningkatan dari zaman di sekolah sampai ke perguruan tinggi.

“Darahnya Indonesia itu adalah Intoleransi, seperti sejarah yang ada, Ini bukan sesuatu yang tumbuh tiba tiba, tapi tumbuh secara perlahan dan dari pola pola kecil, bahwa orang itu cendrung radikal karena dalam keluarganya tidak memberikan ruang interaksi,” terangnya. [Red]



Terkait