Binanalar

Minimnya budaya `tabayyun` generasi mileneal Ciputat

MILENIAL 26 Mar 2018 16:31

Minimnya budaya `tabayyun` generasi mileneal Ciputat

binanalar.com

www.binanalar.com, - Belakangan, kota yang di huni oleh sebagian besar kaum akademis dari berbagai latar belakang dan ini pun  diliputi suasana yang tak biasa terjadi. Ciputat kalau demo itu sudah biasa, kali ini yang terjadi bukan soal demonstrasi masa di jalan protokol Ciputat, tetapi yang terjadi adalah maraknya informasi mengenai kejahatan seksual yang hilir mudik beredar. 

Isu yang mencuat adalah berkaitan dengan kejahatan seksual dengan motif relasi kuasa, belakangan prosesnya sudah masuk ke wilayah otoritas birokrat kampus. Lantas saya bertanya, apa dasar hukumnya ? Bukankah itu merupakan wilayah pidana? Harusnya diserahkan ke pihak berwajib toh dan pelapor harus mendapatkan advokasi yang massif dari organisasi keperempuanan atau aktivis perempuan yang konsen di bidang tersebut atau juga seorang psikiater. Pertanyaan ini semakin membuat spekulasi-spekulasi baru prihal kelanjutan dari penanganan kasus ini. Rumor hebat sedang menghantui kota yang katanya kiblat pemikiran Islam Indonesia, tapi penulis sadar ternyata minat serta passion mahasiswa sekarang tak se-heroik kisah masa lalu. Bahkan untuk dapat menganalisa informasi yang keluar dari mulut-mulut atau redaksi-redaksi orang yang tak bertanggung jawabpun insan akademis kota ini sudah terlihat 'impotant' justru menjadi santapan nikmat para konsumen informasi yang memberi keuntungan produsen. Kata Rocky Gerung (lebih kurang) "Rendahnya minat orang membaca buku berbanding lurus dengan tingginya kepercayaan manusia terhadap persebaran HOAX". Apakah ini yang terjadi di generasi mileneal mahasiswa Ciputat sekarang?

Penulis memiliki pertanyaan besar terhadap penyebaran isu ini. Apakah yang memframing isu ini tak berfikir bagaimana nama baik si korban? atau malah menikmati permainan kotornya demi menguntungkan pihak atau kelompok tertentu. Hal ini merupakan potret kasus hukum yang digandrungi oleh berbagai kepentingan. Potret ini sama halnya yang terjadi di isu-isu nasional beberapa waktu belakangan, contohnya saja kasus Novel Baswedan atau kasus ketua DPR-RI dan banyak kasus-kasus hukum lainnya yang di determinasi oleh kepentingan politik. Oh ya, satu hal yang pernah penulis dapatkan dari senior ketika menginjakkan kaki di kota ini. "Ciputat adalah miniatur Bangsa ini", lantas penulis berfikir apakah ini yang dimaksud dengan miniatur bangsa ini? Apakah potret minimnya analisa mahasiswa Ciputat dan tingginya konsumen HOAX juga menjangkit Ciputat seperti halnya yang terjadi belakangan, atau malah penegakan hukum yang didalamnya ada penumpang gelap terjadi di tengah-tengah habitat akademis kota ini? Penulis kira miniatur yang disampaikan diatas merupakan miniatur dalam segmentasi positif bukan malah kebobrokan bangsa ini yang kita tiru. 


Salam Mahasiswa!!!
Penulis merupakan mahasiswa jelata semester akhir yang jalan sambil melata dan ngomong terbata-bata



Terkait