Binanalar

Pembacaan Post Kolonial Nyai Dasima

KOLOM 16 Nov 2020 07:51

Pembacaan Post Kolonial Nyai Dasima

binanalar.com

Binanalar.com - Kisah Novel Tjerita Nyai Dasima terbit pertama 1896 hingga saat ini dapat dijadikan satu rujukan sastra yang tidak mengalami pasang surut untuk diulas. Perdebatan mengenai Nyai dan perangainya seolah sulit melepaskan jubah steriotip pada perempuan yang dipilih oleh bangsawan-bangsawan di masa kolonial. Nyai merujuk kepada kesan perempuan yang memiliki wajah menarik, tubuh yang bagus (merujuk selera), dan berasal dari kalangan rendah. Posisi Nyai merupakan satu lompatan posisi sosial tinggi yang digantungkan pada pengaruh lelaki yang memilikinya (selir).

Nyai Dasima dilukiskan berada dalam pilihan berat sebagaimana merujuk satu kondisi dirinya yang hanya terangkat ke kasta sosial lebih baik namun tetap tidak memiliki suara dominan. Kisah Dasima berpusat kepada satu kondisi kolonialisme di mana dominasi pengaruh dan kekuatan merujuk pada laki-laki. Dalam pandangan feminisme, posisi Nyai Dasima berada dalam persimpangan menjelaskan tujuan hidupnya atau melihat bahwa kolonalisme yang diderita oleh masyakat pribumi tidak seberuntung posisinya saat ini yang begitu diberikan kemudahan dan kasih sayang oleh Tuan W suaminya. “Diam” merupakan tindakan ketika seorang perempuam tertindak dan tidak dapat memikirkan langkahnya. 

Sekalipun tuan Edward W suami Nyai Dasima dilukiskan sangat baik dan penyayang. Namun memilih wanita pribumi sebagai Nyai nyaris sangat lumrah dalam menunjukkan status tuan dan pengaruhnya. Perempuan menjadi satu “alat pembeda” di mana seleksi perempuan sebagai seorang Nyai harus sesuai klateria pada umumnya yakni cantik dan menawan. Menurut Sunur (2006) perempuan menjadi mediator ke dalam dunia laki-laki dengan segala aktivitasnya.  Laki-laki berusaha menggunakan perempuan dalam menunjukkan dominan entah dalam batas sebagai suami atau untuk menarik kesan lain kepada lingkungan di luarnya.

Pada masa kolonial kesadaran kalangan perempuan atas batas-batas pengertian mengenai tubuh dan hegemoni kolonial yang mengusai citra negatif terhadap perempuan. Saat Nyai Dasima dirongrong oleh Samioen lelaki pribumi yang juga memiliki istri untuk lebih memilih pandangan mengenai penderitaan rakyat  di bawah pemerintahan kolonial. Nyai Dasima bahkan melupakan dirinya yang jauh lebih dahulu merasakan itu. Dorongan Samioen yang terpukau akan kemolekan Nyai Dasima menjadikan narasi nasionalisme sebagai alasan lain untuk mendapatkan keuntungan dengan menjadikan Nyai Dasima sebagai istri kesekiannya. Baik Tuan W dan Samioen menjadikan tubuh Nyai sebagai satu hasrat.  

Pandangan Leela Ghandi (1998) cukup menarik bahawa perempuan pada masa kolonialisme harus bekerja mandiri untuk menemukan sisi resitensinya. Pada masa kolonialisme tidak begitu banyak kaidah kepekaan gender dimiliki oleh laki-laki, alih-alih hanya menggantungkan kepada rasa nasionalisme dan bisa mendapatkan haknya, namun justeru relasi kuasa akan gender dan tubuh tetap hidup sekalipun kolonialisme selesai dan saat ini masih di rasakan di beberapa belahan dunia ketiga. 

Cerita saat Nyai Dasimah ingin  kembali ke suami lamanya akibat dibohongi oleh Samioen untuk mengejar cinta dan kasih sayang merupa satu tekat kuat dalam pembacaan Leela Gandi seperti Robert ungkapkan bahwa perempuan mendorong diri untuk menujukkan resistensi yang kuat dan berusaha menghadirkan harapan.  Perempuan dalam pembacaan post kolonial dapat melawan satu penindasan atas hak tubuhnya di saat dirinya yang sudah merasakan ketertekanan sehingga menuntut satu kesetaraan atau sepedanann memilih.

Resistensi Nyai Dasima memang harus dibayar oleh nyawanya sendiri, satu kisah dramatis ini menujukkan dua hal bahwa posisi sosial perempuan apapun tanpa kesadaran atas hak kehendak tubuhnya yang dibatasi kekangan dominasi laki-laki hanya akan melahirkan satu jalan kehidupan yang timpang. Selanjutnya, dari kisah Nyai Dasima sisa kolonialisme masih cukup awet, bukan budaya pernikahan poligami tetapi cara pandang kepada perempuan yang sangat digantungkan pada citra tubuh. Perempuan dicitrakan oleh Nyai Dasima bahkan tidak bisa menjelaskan cukup lama kenapa Tuan W memilihnya apakah dirinya sebagai sosok mandiri dan setara ataukah karena sebab yang jelas bahwa motivasi hasrat akan tubuh Nyai Dasima. Sekalipun Novel ini membungkusnya secara dramatis masih meninggalkan sebuah tanya apakah kematian Nyai Dasima menjadi sebuah resistensi perempuan atau cara Nyai Dasima untuk bertahan dalam status qou  dengan Tuan W hingga dirinya mendapatkan pengertian mengenai hak dan kewajibannya.

 

Penulis:

Milki Amirus Sholeh

(Pimred Binanalar.com)

 



Terkait