Binanalar

Menafsirkan Makna Kebahagiaan

KOLOM 09 Jun 2018 07:15

Menafsirkan Makna Kebahagiaan
Menafsirkan Kebahagiaan

binanalar.com

Beberapa hari lalu saya terbangkitkan dengan perkataan  Yudi Latif yang dituliskan dalam Kompas. “bahwa satu-satunya tujuan berharga dari negara, pasar, dan komunitas keilmuan adalah untuk meningkatkan kebahagiaan global.”ucapnya.

Berusaha memaknai makna kebahagiaan global  dalam hal ini dihadapi dua hal yang bersinggungan dengan bulan puasa dengan bulannya pancasila. Ada dua hal pertanyaan yang patut diajukan: apakah sesungguhnya yang kita kejar dengan beragama dan bernegara ? adalah psikolog  Willian James yang menyatakan bahwa “motif terbesar dari seluruh tindakan manusia adalah mengejar kebahagiaan.”

Sejumlah pemikir, menghabiskan tenaganya untuk menafsirkan makna kebahagiaan itu sendiri. Mulai dari masa awal Yunani, kita dapati Epicurus yang menyatakan bahwa kebahagiaan adalah satu-satunya tujuan hidup. Pada akhir abad ke-18, Filusuf Inggris , Jeremy Bentham, mendefinisikan kebajikan terluhur sebagai kebahagiaan terbesar dari jumlah yang terbesar (the greatest happiness of the greatest number). Bahkan Sokrates pun dalam sabdanya mengucapkan bahwa kehidupan yang tidak terji tidak layak dihayati.

Tentunya ada padangan yang berbeda dengan pandangan-pandangan lainnya bahkan sampai bersebrangan dengan pandangan tersebut. Katakan kaum hedonis yang serba-serbi duniawi. Paham tersebut memiliki akar yang luar bahkan menjadi panutan bagi kalangan muda saat ini. Relevansinya kian menguat manakala dunia terpanggang api kusumat dan kebencian. Jutaan manusia mengalami kekeringan jiwa dan kekosongan makna hidup. –Jumlah orang yang mati bunuh diri lebih banyak daripada korban perang. Jumlah orang yang mati karena ‘kekenyangan’ lebih banyak daripada orang yang mati kelaparan. Dunia yang kering kerontang tersebut, “Kebahagiaan” menjadi agenda terbesar dalam kehidupan beragama dan bernegara hari esok.

Perspektif tentang kebahagiaan tidaklah beku. Para pemikir terdahulu memandang kebahagiaan sebagai masalah perburuan pribadi. Sedangkan para pemikir terkini cenderung melihatnya sebagai proyek perburuan kolektif. Pandangan terdahulu masih terlihat jejaknya  pada deklarasi kemerdekaan Bangsa Amerika Serikat. Bangsa tersebut Merdeka pada 1776, para pendiri bangsanya menempatkan hak untuk mengejar kebahagiaan sebagai salah satu dari tiga hak asasi yang tidak dapat direnggut, bersama hak untuk hidup dan hak untuk bebas.

DEKLARASI KEBAHAGIAAN

Yang dijamin dengan adanya Kemerdekaan bukan hanya saja kebahagiaan sebagai asas utama namun lebih dari itu, bisa menjelma menjadi rasa memiliki dan saling berbuat agar bisa berbahagia. Dalam arti yang lain bahwa deklarasi itu tidaklah memandatkan kepada Negara untuk bertanggung jawab atas kebahagiaan warganya. Hak untuk meraih kebahagiaan malah dimaksudkan sebagai usaha membatasi kekuasaan Negara; dengan memberikan ruang privat bagi pilihan-pilihan pribadi yang dirasakan membahagiakan dirinya (Hariri, 2016).

Visi dan misi negara sebagai proyek mewujudkan kebahagiaan kolektif itu bisa menjadi ukuran untuk menakar keberhasilan pembangunan. Pada abad ke-20, tingkat produk domestik bruto (PDB) menjadi alat evaluasi keberhasilan. Kunci utama dalam mencapai kebahagiaan bukanlah terdapat pada pemenuhan syahwat bersenang-senang dan berkuasa, melainkan pada kesanggupan dalam memberi dan meraih makna hidup. Kebahagiaan tertinggi bisa diraih manakala kita bisa menjadi lebih besar dari diri sendiri; terhubung dengan realitas keagamaan, berbagi sejahtera bagi sesama, bergotong royong menumbuhkan nilai-nilai kemuliaan dan keadaban publik yang memberikan makna bagi kehidupan bersama.

MERAIH KEBAHAGIAAN

Hidup yang lebih besar dari diri sendiri itu adalah hidup yang terkoneksi dalam relasi “tiga arah (triadik). Dalam kosmologi Batak Toba dan “I La Galigo” Bugis Makasar, tiga relasi triadik diarahkan memberikan dan membangun relasi dengan dunia (pencipta), dunia tengah (manusia), dan dunia bawah (alam). Dalam pandangan dunia “Tritanggu” (tiga kepastiaan) sunda, relasi triadik dikembangkan dalam kerangka Aji Luhung (asah keluhuran ketuhanan), Aji Komara (asah Aura antar manusia), Aji Wiwaha (asah perawatan semesta).  

Dalam kosmologi Hindu-Bali, Relasi triadik  ini bernama Tri Hita Karana (tiga penyebab kebahagiaan), yakni keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhanannya (Sanghyang Jagatkarana), manusia dengan alam sekitarnya (buana), dan manusia dengan sesamanya (manusia). Dalam kosmologi Islam, relasi triadik ini diarahkan untuk menguatkan ikatan kasih manusia dengan Allah (hablum minallah),  dengan sesamanya (habluminannas),dan dengan alam semesta (hablum minal alam).

Kemacetan dalam relasi triadik itu merupakan pangkal dari sesak nafas (kehampaan dan kekalutan) dalam kehidupan. Untuk memulihkannya, diperlukan pengisian udara segar dan cahaya sukma dengan rongga jiwa bangsa. Pelatihan ini disebut spiritualitas; berasal dari bahasa latin spritus, yang berarti ‘bernafas’ atau ‘bercahaya’. Alhasil, kebahagiaan hidup bersama akan terengguh manakala kita bisa menyegarkan dan menyalakan pelita jiwa dengan membangun konektivitas penuh cinta dengan sang cipta, dengan sesama manusia, dengan sesama alam.



Terkait