Binanalar

Tan Malaka Bicara Islam

VIRAL 15 Dec 2016 01:26

Tan Malaka Bicara Islam

binanalar.com

 

Judul               : Islam dalam Tinjauan Madilog

Pengarang       : Tan Malaka

Penerbit           : Komunitas Bambu, 2000

Tebal Buku      : xxii + 69 halaman

Peresensi         : Mochamad Marhaen

Kisah bapak bangsa yang dianggap paling misterius, bukan saja jasadnya yang entah tahu kemana saat ini, tetapi dari pemikirannya sosok Tan Malaka selalu disebut-sebut pelopor gerakan revolusioner pertama bagi bangsa ini. hal demikian diungkapkan oleh Ongkoham seorang Indonesianis serta pakar sejarah kenamaan bangsa ini yang kemudian terextradisi ke luar negeri dikarenakan, sikap subversif pemerintah atas kritik-kritik terbuka dalam tulisannya. Dari beberapa buah renungan kritis Tan Malaka, barang kali Magnum Opus Madilog (Matrealisme Dialektika Logika) lah yang dianggap karya fenomenalnya. Di dalamnya, tinjauan mulai filsafat, politik, sejarah dan ekonomi diterangkan lugas dengan bahasanya yang tangkas. Buku ini pertama kali diterbitkan oleh penerbit “Widjaja” pada tahun 1950. setelah begitu lama dilarang terbit pda masa orde baru, akhirnya buku ini diterbitkan lagi seiring dengan berhembusnya angin reformasi.

Dari berbagai banyak tema yang dikandung didalamnya, ada bahasan menarik bagaimana matrealisme sebagai gagasan penting dalam Madilog juga menjelaskan perihal islam. Yang pada saat itu, perdebatan panjang pergesekan paham konsepsi agama dan matrealisme yang banyak dianut pengikut Maxisme hingga kemudian banyak berafiliasi dengan PKI pada saat itu, dikemas dengan baik oleh Tan Malaka hingga kemudian tulisannya pada tahun 1950 pertama kali terbit Islam dalam Tinjauan Madilog. Penerbitan itu mempunyai alasan tersendiri terkait pendanaan mahalnya kertas untuk naskah tebal Madilog. Bagian Islam dalam Tinjauan Madilog dipilih menjadi bagian yang pertama kali naik cetak. Di dalamnya berisi tulisan Tan Malaka  “Islam” serta “Kepercayaan Asia Barat”. Ditambahkan pula tulisan yang ditulis oleh beberapa tokoh mengenai Tan Malaka yaitu “Tan Malaka dan Islam: Dalam Pandangan Filsafat” (Bagus Takwin), “Tan Malaka dan Islam: Tinjauan Sejarah” (Kunto Purboyono), “Revolusi dan Islam: Perjuangan dan Pemikiran Tan Malaka” (Ahmad Suhelmi) untuk melengkapi buku terbitan Komunitas Bambu ini.

Menurut Tan Malaka, kepercayaan Asia Barat ialah agama Yahudi, Kristen atau Nasrani, dan Islam. Ketiganya pada umumnya disebut Monotheisme, kekuasaan Tuhan. Agama Yahudi terbatas hanya untuk bangsa Yahudi saja, sedangkan agama Nasrani dan Islam dipercaya oleh berbagai bangsa di dunia. Tetapi menurut Tan Malaka, agama Yahudi mengandung inti dan pokok ketiga agama itu yang merupakan pelopor Monotheisme dilihat dari segi sejarah. Ia juga mengkritik kaum orthodox Kristen tentang konsep ke-Esa-an (ialah ke-Esa-an Tuhan, Maryam, dan Yesus). Muhammad S.A.W dengan ikhlas dan terus terang dari awal mengakui Tuhannya Yahudi, Yahwenya Nabi Ibrahim, sebagai Allah Yang Maha Kuasa dan mengakui Nabi Musa, Daud, Sulaiman, dll dengan kitab suci dan segala artinya. Tetapi dengan terang-terangan pula Nabi Muhammad menentang beberapa peraturan Rabbi ( pendeta Yahudi) untuk memuja dan memuji Tuhan oleh peraturan dan kaum Rabbi.

Dipandang dari kacamata Madilog, ketiga agama tadi mesti dianggap sebagai Tiga Sejiwa yang terletak di atas ladang yang datar. Tak ada yang lebih tinggi dan tak ada yang lebih rendah. Ketiganya berdasarkan kepercayaan dan kepercayaan ini lahir pada masyarakat Yahudi. Begitu pula dengan pengaruh yang ditimbulkan satu sama lain. Tidak mudah menentukan mana yang lebih tinggi dan mana yang lebih rendah dari tiga agama tersebut. Tetapi terhadap intisari kepercayaan itu, yaitu kepercayaan tentang ke-Esa-an Tuhan, adanya jiwa manusia yang terpisah dari badan dan dari akhirnya jiwa ini, dll.Terakhir menurut Tan Malaka, agama Yahudi, Nasrani, dan Islam yang ketiganya lahir di masyarakat bangsa Semit ( Yahudi dan Arab) itu dianggapnya Tiga Sejiwa bukan Tiga Serangkai. Jiwa ialah inti pokok ketiga agama itu sama, hanya cabang dan rantingnya saja yang berlainan.

Bagi Tan Malaka islam dalam sejarahnya dalam pengetahuannya belum mempunya cacatan sejarah karena belum ditulis, dikarenakan buku Foundation of Christianity untuk agama islam belum ada. Dia melihat sebelum kelahiran islam, arab masih dilanda berbagai kisruh sosial tentang hukum yang tak logis misalnya, mengubur hidup anak perempuan, perampokan dan penyembahan berhala di setiap sudut kota Makkah. Hingga kemudian dari sanalah Lalu diuraikan tentang kehidupan Muhammad dari kecil hingga dewasa yang penuh dengan hikmah dan pelajaran berharga bagi diri manusia itu.

Memang, masyarakat Arab asli ketika itu membutuhkan ke-Esa-an pimpinan sekurangnya sama dengan kebutuhan yang dirasa oleh Nabi Musa dan Nabi Daud. Pada masa Nabi Muhammad, bangsa Arab terdiri dari berbgai suku dan menyembah berbagai macam berhala. Muhammad bin Abdullah merenung dan memikirkan tentang keadaan masyarakat Arab serta mencari jalan keluar atas berbagai persoalan kehidupan pada saat itu. Ia mencari keberadaan Tuhan. Ia tertarik oleh Tuhan Esa-nya Nabi Ibrahim, Musa, dan Daud. Disini

Masyarakat Arab yang percaya Allah sebagai Tuhannya dan Muhammad sebagai Rasulullah ternyata belum cukup kuat mempersatukan suku-suku Arab yang berseteru. Bahkan hal itu menimbulkan ejekan, kebencian, caci maki, dan segala bentuk gangguan kepada Muhammad. Di dunia fana inilah harus dicari sesuatu yang bersifat kenikmatan atau kesengsaraan yang dapat mendorong manusia untuk takut berbuat jahat dan gemar berbuat baik. Itulah surga dan neraka. Inilah kemudian alasan, bagaimana kemudian Tan Malaka melihat konsepsi agama rohaniah islam juga menumbuhkan spirit hidup. jika Syiria, Mesir dan negara lain yang arab berusaha beradu untuk berebut surga dunia. Maka islam rupanya jauh dan meninggalkan kehidupan surgawi fatamorgana dengan ajar rasul dan perintah tuhan yang Esa, islam telah mampu melampaui kejigjayaan arab yang hingar-bingar tak beradab menjadi bangsa yang sederhana yang lebih beradab.

Kekuasaan tuhan menjadi logika pertama pembuktian kekuasaanya, jika tak demkian maka sulit rasanya iman bisa hadil tanpa logika dasar tersebut. Dalam Islam hal ini dinamakan Takdir Tuhan, di dunia Barat hal ini dikenal sebagai pro-destination. Calvin, bapaknya mazhab Protestan, pada abad ke-17 juga mengemukakan hal ini. Oliver Cromwell di Inggris dan tentaranya yang diakui paling nekat pun oleh ahli sejarah barat juga mengikuti kepercayaan ini. Dalam hal ini tidak dapat dibantah pengaruh Islam pada dunia Kristen. Oleh karena itulah Tan Malaka mengatakan bahwa monotheismenya Nabi Muhammad-lah yang paling konsisten dan konsekuen, terus dan lurus. Maka itulah sebabnya menurut logika, bahwa Muhammad-lah yang terbesar diantara nabi-nabi monotheisme. Begitu juga dengan konsistensi memegang dasar nilai itu Muhammad tidak ketinggalan. Ketika seluruh Mekah memusuhinya, mengancam jiwanya dan dalam keadaan seperti itu musuh-musuhnya menawarkan harta dan pangkat bila mau menghentikan propagandanya.

Muhammad berkata: “Walaupun di sebelah kiriku ada bintang dan di sebelah kanan ada matahari yang melarang, saya harus meneruskan perintah Allah”. Tetapi sekali lagi dapat dikatakan bahwa pada Islam masalah ke-Esa-an Tuhan itu juga mengalami pertentangan banyak pendapat dan sifatnya sampai ke puncak.

Jadi, menurut Madilog, Yang Maha Kuasa itu bisa lebih berkuasa daripada hukum alam. Namun selama alam ada dan selama alamraya itu ada, selama itu pulalah hukumnya alam raya yang berlaku. Jika membandingkan dengan hukum alam raya, materilah yang mengandung kekuatan dan menurut hukum, dengan itulah caranya materi itu bergerak, berpadu, berpisah, menolak, menarik, dan sebagainya. Kekuatan materi dan hukum alam jelas masuk dalam pembahasan ilmu bukti. Begitulah pandangan Tan Malaka, sekian.

 



Terkait