Binanalar

Perang Topat, Menjadi Tradisi Unik Ala Lombok Barat

KRONIK 02 Dec 2018 13:42

Perang Topat, Menjadi Tradisi Unik Ala Lombok Barat

binanalar.com

Binanalar.com - Perang Topat adalah perang dengan cara saling melempar ketupat antara umat Hindu dengan umat Islam di kawasan Pura Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Kata perang sangat identik dengan kekerasan, perpecahan, kerusakan, korban jiwa dan segala kerugian lainnya. Namun berbeda dengan perang yang terjadi di Lombok Barat. Justru perang ini menjadi ciri khas di kota tersebut dan dijadikan tradisi serta atraksi budaya.

Perang Topat adalah sebuah acara adat yang diadakan di Pura Lingsar. Perang ini merupakan simbol perdamaian antara umat Muslim dan Hindu di Lombok Barat. Dengan menggunakan pakaian adat khas Sasak dan Bali ribuan warga Sasak bersama-sama merayakan perang ini. Acara ini dilakukan setahun sekali setiap bulan Desember. Tepatnya setiap hari ke-15 bulan ke-7 yang disebut purnama sasih kepitu, penanggalan masyarakat adat suku Sasak. Sedangkan berdasarkan penanggalan umat Hindu Bali, bertepatan dengan hari ke-15 bulan ke-6 yang disebut dengan purnama sasih kenem.

Pada malam purnama merupakan waktu yang tepat bagi umat Hindu untuk melaksanakan ritual Pujawali. Pujawali merupakan upacara sebagai ungkapan rasa syukur umat manusia yang telah diberikan keselamatan, sekaligus memohon berkah kepada Sang Pencipta. Sedangkan bagi umat Islam merupakan waktu yang tepat untuk melaksanakan napak tilas di bangunan Kemalik untuk mengenang jasa-jasa seorang penyiar agama Islam di Pulau Lombok yang bernama Raden Mas Sumilir.

Prosesi Perang Topat dimulai dengan mengelilingkan sesaji berupa makanan, buah, dan sejumlah hasil bumi sebagai sarana persembahyangan yang kemudian ditempatkan di dalam Pura Kemalik. Prosesi ini didominasi oleh masyarakat Sasak dan beberapa tokoh umat Hindu yang ada di Lombok. Kemudian dilanjutkan dengan Perang Topat, bertepatan dengan gugur bunga waru atau dalam bahasa Sasaknya “rokok kembang waru” yakni menjelang tenggelamnya sinar matahari.

Kedua kubu akan berkumpul pada masing-masing titik yang telah ditentukan. Umat Hindu berkumpul di Halaman Pura Gaduh dan umat Islam berkumpul di halaman bangunan Kemalik. Secara simbolis saling melempar ketupat dimulai ketika tokoh yang dihormati kedua kubu melempar ketupat untuk pertama kalinya. Kemudian, perang pun pecah. Masing-masing kubu saling mengintai sasaran. Riuh tawa pun tak terhindarkan. Rasa kebahagiaan jelas terpancar dari wajah kedua kubu yang berperang.

Setelah itu ketupat yang sudah dipakai untuk perang ini dibawa pulang oleh masyarakat khususnya petani, karena diyakini dapat dipergunakan sebagai bubus untuk dijadikan pupuk yang ditaburkan di sawah dan kebun pada saat malam hari seraya memohon doa pada Yang Maha Kuasa untuk mendapat kesuburan bumi dan hasil pertanian yang melimpah.[Red/ Mae]



Terkait