Binanalar

Libur Saat Pandemi Global, Dulu Dirindukan Sekarang Menyebalkan

SUARA 31 May 2020 11:28

Libur Saat Pandemi Global, Dulu Dirindukan Sekarang Menyebalkan

binanalar.com

Binanalar.com - Kurang lebih sudah tiga bulan lamanya masyarakat Indonesia dianjurkan agar melakukan semua aktivitas #dirumahaja. Semua aktivitas itu meliputi segala sektor gerak sosial warga, tujuannya adalah untuk mendukung program pemerintah dalam mencegah penularan virus corona (Covid -19) yang saat ini sudah ditetapkan sebagai pandemic global oleh World Health Organisation (WHO).

Saya dan keluarga termasuk warga Indonesia yang tetap mengikuti program pemerintah, yaitu dengan melakukan semua aktivitas di rumah aja selama pandemi global berlangsung. Sebagai salah satu anggota keluarga yang masih berstatus pelajar saya justru merasa ini adalah lingkungan serta keadaan baru yang bisa dipelajari bagaimana memanfaatkan situasi dengan gerak yang serba terbatas. 

Berada dalam situasi yang perubahannya sangat cepat ini dan kita dituntut untuk segera beradaptasi dengan keadaan. Selama melakukan aktifitas serba dirumah aja, saya teringat buku yang ditulis oleh Kang Jaya Setiabudi, waktu itu pernah membaca bukunya waktu di pesantren dulu, judulnya The Power of Kepepet.

Bagi sebagian orang, hidup dengan situasi dan serba dirumah aja ini mungkin menjadi hantaman keras yang tidak bisa dilepaskan. Sayapun juga merasakan demikian, tapi dengan membaca buku the power of kepepet dan dikomparasikan dengan lingkungan sekitar saya jadinya memutar otak agar tetap kreatif selama di rumah aja. 

Semua serba kepepet dan perubahannya sangat cepat sekali serta serba daring.  Saya mulai melakukan semua itu di rumah, belajar di rumah, melakukan semua aktifitas kantor di rumah, melakukan silaturahmi di rumah, berdiskusi di rumah pokoknya semua aktifitas saya semua di rumah selama pandemi. Saya senang melakukan itu semua.

Setidaknya, dalam keadaan yang serba kepepet ini ada beberapa alasan yang membuat saya tetap bisa bertahan di rumah. Salah satunya adalah bersyukur kepada Tuhan yang telah memberikan kenikmatan waktu yang cukup lama kepada saya dan keluarga untuk selalu berinteraksi tampa kesibukan apapun. Waktu yang selama ini belum sama sekali kita rasakan seumur hidup. Bisa dibayangkan selama ini keluarga saya banyak yang merantau ke kota. Ya, walaupun ada juga sih yang tingal di rumah sejak kecil dengan aktivitas sehari-hari bertani.

Hidup Bersama orang tua Dengan waktu yang cukup lama

Saya termasuk anak kedua dari keluarga bersaudara, umi saya asli orang Bujur Tengah, Kecamatan Batu Mar-Mar, Kabupaten Pamekasan, Madura. Selama ini orang tua saya beserta keluarga yang lain hidup sebagai TKI di Malaysia. Kurang lebih diperkirakan sampai sekarang sudah 17 tahun kita belum bertemu dan Alhamdulillah umi yang baru pulang kampung tahun ini, dan hanya tahun ini sejak kecil saya bisa merasakan bulan puasa dan lebaran bareng umi.

Virus Corona tentu menjadi Ilham tersendiri bagi keluarga kita. Saya yang selama ini sejak kecil kurang lebih 9 tahun lamanya berada di pondok pesantren setelah itu 1 tahun menjalani pengabdian di Kalimantan Barat, dan sudah 3 tahun berjalan sampai sekarang menyelesaikan kulliyah di Jakarta dan jelas tidak ada waktu bersama keluarga karena mereka selama ini di Malaysia. 

"Alhamdulillah tuhan ini menjadi tahun paling spesial dalam hidup saya. Terimakasih Corona sebab karena kamu semua aktifitas menjadi libur dan saya bisa berkumpul dengan keluarga di rumah," dalam hati saya bersyukur.

*Membantu orang tua bertani di kebun*

Meskipun sekarang saya sedang berstatus aktif bekerja, melakukan aktifitas belajar di rumah aja. Alhamdulillah tahun ini saya bisa membantu umi berladang di sawah. 

Tahun ini kebetulan lagi musim panen padi, cabai, kacang dan jagung. Dengan waktu liburan yang cukup panjang saya bisa membantu ummi dan tetangga di kampung untuk bertani. 

Bagi saya tentu ini menjadi aktifitas yang sangat menyenangkan, sebab selama ini berada di kota. Di kota kita jauh dari perkebunan, ladang dan penghijauan yang serba alami seperti di kampung. Disana, saya pribadi selalu disibukkan dengan kluster sosial yang serba daring.

Sesuai profesi, saya selama dua tahun belakangan ini memang di Jakarta aktif bekerja di salah satu media daring  nasional, TIMES Indonesia. Kantor saya di Daerah Menteng dan profesi saya reporter lepas dan sering di lapangan. Kebetulan sejak musim Corona ini saya diberi desk tugas peliputan untuk mengawal semua kebijakan pemerintah di Kementerian Desa. 

Hampir setiap dua hari sekali, saya mendapatkan undangan Konferensi pers virtual dengan Gus Menteri, sapaan akrab Gus Halim. Tentu ini saya lakukan dengan semangat dan bahagia sesuai instruksi kantor serta selalu berkordinasi dengan Staff Kemendes PDTT, mas Ivanovic. 

Hampir setiap melakukan konferensi pers virtual, Gus Menteri selalu menyampaikan ketahanan pangan Indonesia sampai saat ini masih relatif aman. Pemerintah saat ini terus mendorong petani agar menggalakkan semangat kedaulatan pangan di setiap pelosok Indonesia. Selain itu, Gus Menteri juga menyampaikan terkait nasib masyarakat di tengah pandemi global. 

Gus Menteri menuturkan bahwa untuk mendukung masyarakat miskin di berbagai daerah. Maka pemerintah pusat memberikan berbagai macam bantuan salah satunya adalah Bantuan Langsung Tunai atau biasa disebut BLT Dana Desa. Bantuan tersebut jumlahnya 600 per Kepala keluarga (KK) dan cair setiap bulan selama tiga bulan.

Ketika membantu ummi dan tetangga melakukan panen cabai di ladang, saya selalu teringat semangat yang selalu disampaikan Gus Menteri saat konferensi pers virtual. Dan saya menyadari betul pangan kita di Indonesia masih aman karena masyarakat di bawah tetap semangat bertani.

Saat di ladang, saya sering melakukan aktifitas sembari mengambil hikmah dari dua sisi hidup yang berbeda. Di satu sisi saya langsung mendengar langsung kebijakan pemerintah dari sumbernya dan merasakan langsung hasilnya di desa. Satunya lagi, saya sering menerima keluhan dari tetangga kadang bantuan tak kunjung sampai. Ini hikmahnya sebagai anak petani desa yang terus berjuang di ibu kota Jakarta.

Belajar Etika kepada masyarakat di kampung halaman

Di Madura hampir 85% pemudanya pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Termasuk masyarakat di sekitar rumah saya, semua dari bapak dan keturunannya memiliki tradisi memondokan putra-putri mereka ke pesantren. 

Ketika pulang kampung, saya merasa dihadapkan dengan masyarakat yang sangat kental sekali keagamaan nya. Tak jarang ketika berkumpul bersama di situatu tradisi koloman keluarga, ada santri yang tiba-tiba ditegur ditempat umum. Saya merasa berada di tengah-tengah masyarakat sebagai kulliyah umum. Sebab setiap ucapan dan perilaku bahkan cara berpakaian pun harus rapi, salah sedikitpun bahaya.

Saat pandemi covid-19 ini berlangsung masyarakat di kampung saya, semua taat aturan. Mereka selalu mematuhi setiap kebijakan dan himbauan dari pemerintah pusat. Ini justru menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya sebagai anak yang berasal dari desa Bujur Tengah, Kampung Tengginah. 

Tidak cuma sampai di situ saja, masyarakat di kampung saya adalah percontohan kampung yang lain di seluruh Indonesia. Mereka tidak berebutan bantuan pemerintah, mereka mandiri. Salah satunya adalah ketika ada Bantuan Langsung Tunai atau BLT Dana Desa, satu kampung hanya terdata sebanyak 15 yang mendapatkan BLT. Termasuk tetangga saya bersebelahan dengan rumah. 

Yang saya tau, Masyarakat di Desa saya tidak terlalu berharap dengan bantuan tersebut, mereka meskipun hidup seadanya tetap merasa mampu dan tidak kelaparan walaupun tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat. 

Tentu ini selaras dengan semangat mereka untuk menjaga kedaulatan pangan di Indonesia. Justru pemerintah pusat harus memerhatikan masyarakat desa seperti di Bujur Tengah ini yang tetap semangat memperjuangkan pangan Indonesia dari Kampung ke kampung lainnya. Misalnya dengan memberikan bantuan alat-alat pertanian secara gratis setiap musim.

 

Penulis:

Edhi Junaidi DS

(Jurnalis TIMES INDONESIA)



Terkait