Binanalar

Ramadhan Bulan Kasih Untuk Sesama.

SUARA 23 Apr 2020 06:57

Ramadhan Bulan Kasih Untuk Sesama.
https://www.behance.net/gallery/58034313/Uber-Ramadhan-Campaign

binanalar.com

binanalar.com - Tepatnya pada tanggal 23 April 2020, umat muslim Indonesia dikabarkan dengan kabar bahagia, bahwa esok harinya sudah memasuki bulan Ramadhan. Meski pada Ramadhan kali ini berbeda dengan Ramadhan tahun lalu yang ditandai dengan merebaknya wabah pandemi Covid 19 diseluruh dunia. Meskipun demikian, “tradisi selalu menang atas peraturan”, apa artinya – artinya adalah bahwa semangat perayaan bulan ramadahan tidak kalah dengan tahun sebelumnya dengan tanpa adanya wabah ini.

Ghirah semangat dan gembira dalam memasuki bulan ramadhan adalah merupakan sebuah sunnah yang dianjurkan Nabi Muhammad Saw yang dinukilkan dalam kitab Durratun Nashihin. Bulan Ramadhan disebut dengan berbagai nama salah satunya adalah syahrul rahmah (bulan penuh rahmah).

Rahmah atau dalam bahasa arab Rohmatun disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 145 kali namun  dalam bentuk lainnya disebutkan seperti dalam bentuk fi‘l mâdhi disebut 8 kali, fi‘l mudhâri‘ 15 kali, dan fi‘l amr 5 kali. Menurut Imam Al-Ashfahani menyebutkan bahwa rahmah adalah belas kasih yang menuntut kebaikan kepada yang dirahmati, artinya adanya proses merespon segala sesuatu yang tampak dalam kondisi yang lemah, sehingga mereka (yang dirahmati) perlu diberikan kasih dan sayang atau peduli terhadap mereka.

Kata Rahmat ini kadang-kadang dipakai dengan arti ar-riqqat al-mujarra­dah (الرَّقَّة اْلُمَجَّرَدَةُ = belas kasih semata-mata) dan kadang-kadang dipakai dengan arti al-Ihsân al-mujarrad dûn ar-riqqah (الإِحْسَانُ اْلمُجَرَّدُ دُوْنَ الرِّقَّةِ = kebaikan semata-mata tanpa belas kasih). Misalnya, jika kata rahmah disandarkan kepada Allah, maka arti yang dimaksud tidak lain adalah “kebaikan Allah semata-mata kepada makhluknya.” Sebaliknya, jika disandarkan kepada manusia, maka arti yang dimaksud adalah simpati semata.

Oleh karena itu, lanjut Al-Asfaha­ni, diriwayatkan bahwa rahmah yang datangnya dari Allah adalah in‘âm ( إِنْعَامٌ = karunia atau anugerah), dan ifdhâl (إِفْضَالُ = kelebihan) dan yang datangnya dari manusia adalah riqqah ( رِقَّةٌ = belas kasih). Dalam menyemai makna rahmah sebagai kasih sayang Allah yang diberikan kepada makhluknya, manusia sebagai makhluk yang berkabilah atau bersuku misalnya dalam konsep negara adalah disebut sebagai human society (masyarakat sipil), banyak yang berupaya mewujudkan sifat rahmah tersebut ditengah wabah ini. Misalnya dengan menggalang dana patungan, untuk membantu meringankan bagi masayarakat yang biasa hidup dijalan, membantu pejuang garda terdepan yaitu dokter besarta jajaran untuk memenuhi kebutuhannya seperti alat APD, membantu membantu membuat hand sanitaizer, hingga membuat masker dan dibagikannya dijalan.

Sifat kemanusiaan tersebut muncul disebabkan satu rasa yang sama, sama-sama merasakan akibat dampak musibah ini - mungkin sebagian masih kuat dalam menghadapi ini hingga akhir dari pandemi covid ini dengan persediaan yang mumpuni, nah sebagian orang belum tentu demikian.  Pasalnya orang yang dengan penghasilan harian misalnya tukang bersih dijalan mereka pun dirumahkan karena mengatisipasi penyebaran covid 19 ini, sehingga mereka pun akan terdampak sebagai orang yang dalam al-Qur’an disebut sebagai dhaif karena kondisi dan dalam jama’nya disebut dhuafa (orang-orang yang lemah).

Puasa adalah bulannya latihan, latihan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan saling berlomba-lomba dalam kebaikan. Dalam konsep internalisasi nilai bulan ramadhan, kontruksi sosialnya  Peter L Berger lebih mendominasi untuk penjabarannya dalam realitas yang terjadi. Konstruksi sosial menegaskan bahwa realitas dalam kehidupan sehari-hari memiliki dimensi yang subjektif dan objektif.

Manusia memiliki dua hal yang mempengaruhi pribadinya, sehingga manusia merupakan instrumen dalam menciptakan realitas sosial yang objektif melalui proses eksternalisasi, disisi lainnya manusia juga mampu menciptakan realitas subjektif dimana manusia mempengaruhi dalam proses internalisasi. Ekternalisasi atau (pengaruh dari luar kedalam diri) muncul dan dipengaruhi oleh cadangan pengetahuan (stock of knowledge) yang mana pengetahuan tersebut diperoleh dari akumulasi dari akal yang sehat (common sense knowledge) yang telah difilter apa ini baik bagi dirinya atau tidak, dan biasanya ini muncul dari luar diri manusia yang senantiasa dipengaruhi baik dari lingkungan maupun keluarga sekitar.

Internalisasi justru sebaliknya, ia didapati dari proses dari dalam diri - misalnya motivasi dari diri yang kuat ataupun dari pemahaman akan sesuatu yang menghasilkan tindakan ataupun perbuatan.  Proses internalisasi ini biasanya disandari dengan adanya motif pribadi yang kuat untuk mencapai tujuannya.

Perbedaan antar internalisasi dan eksternalisasi ini dalam segi proses adalah jikalau internalisasi dalam prosesnya dia akan selalu mengidentifikasi diri dengan kondisi sosio-kultural, adapun ekternalisasi dalam segi proses memiliki adaptasi diri dengan kondisi sosio-kultural.

Dalam penerapan nilai-nilai keislaman dalam bulan yang suci ini melalui proses ekternalisasi diwujudkan dalam bentuk kasih sayang, karena cuma dibulan ramadhan ini pahalanya dikali lipatkan berkali lipat, bulan ramadhan ini pula merupakan bulan dimana diturunkannnya AL-Qur’an. Dengan dogma atau persepsi ini seseorang termotivasi dan tergerak untuk melakukan berbagai macam kegiatan yang bermanfaat bukan hanya bagi dirinya juga buat lingkungan sekitarnya.

Ramadhan juga seharusnya menjadi sarana yang sangat efektif menghadirkan internalisasi nilai kebajikan guna menghadapi berbagai tantangan yang muncul di tengah masyarakat. Ramadhan satu bulan penuh, Muslim di-training oleh SuperTrainer-nya, yaitu Allah SWT, Dzat yang Maha segala-galanya. Tentu hasilnya akan juga luar biasa, bila itu dilakukan dengan penuh keseriusan dan mendambakan ridha Allah.

Ramadahan begitu dekat dengan hal-hal kebaikan, bulannya berbagi kasih terhadap sesama. In tansurullah yansuru kum wa yusabit aqda makum (jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu) dalam Hidayatul Insan Bi Tafsiril Qur’an menjelaskan bahwa Allah menjanjikan bagi orang-orang yang beriman akan mampu melewati masalahnya dan mendapatkan kemenangan jika semuanya bersatu sama-sama menolong dalam melewati wabah ini secara bersama.

Semoga kita semua berhasil melawati wabah ini secara bersama-sama. Amiin

Zuyin Arwani (Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)



Terkait