Binanalar

Hak Perempuan dalam Ekspresi Ramadan

SUARA 23 May 2019 15:51

Hak Perempuan dalam Ekspresi Ramadan

binanalar.com

Binanalar.com - Ramadan tiba dan kita merayakannya sebagai bulan ampunan serta waktu untuk muhasabah bersama-sama. Ekspresi Ramadan memang menyajikan suasana yang cukup euforia karena membawa banyak keuntungan serta geliat ekonomi yang luar biasa. Sektor ekonomi menengah kecil serta produk makanan dan sandang adalah dua dari hal yang menjadi ekpresi simbolik di bulan Ramadan.

Komersialisme terbesar justru terjadi pada negara dengan sebagian besar penduduknya adalah muslim. Jalanan di banyak kota di Timur Tengah dan Asia Tenggara dipenuhi dengan papan reklame tentang Ramadan. Salah satu iklan McDonald's di Islamabad Pakistan pun menampilkan sebuah masjid yang memanggil orang-orang untuk "Berbuka Puasa". Lalu apakah Ramadan hanya sebatas demikian dan selesai sebagai perkara iman? Apakah hanya berhenti dengan kata kenyang maupun dahaga?

Melirik Iran misalnya kembali menarik perhatian karena menerapkan sejumlah aturan ketat selama Ramadan, termasuk melarang pria melihat perempuan. Kepolisian moral di Iran juga menyatakan bakal menahan orang yang memutar musik di mobil. Aparat lantas akan menderek mobil itu dan menjatuhkan sanksi besar kepada pengemudinya. Sejumlah pengamat menganggap sikap pemerintah Iran untuk memperketat semua aturan ini sebagai upaya meningkatkan kepatuhan warga. Di Negara Islam khususnya timur tengah masih memperlakukan hokum yang terkadang nir narasi logis skriptual agama sekalipun.

Yang perlu digarisbawahi untuk kasus kawasan Timur Tengah, bukan hanya hak-hak wanita dan peran sosialnya yang dipertanyakan, akan tetapi secara umum seluruh rakyat di kawasan tersebut tidak mempunyai hak untuk berperan dalam kehidupan politik dan sosial kecuali dengan sangat terbatas. Bentuk monarki absolut di kawasan Arablah yang sebenarnya menjadi penghambat bagi wanita dalam menggapai hak-haknya. Namun demikian budaya masyarakat setempat memang seakan membatasi gerak wanita di lingkungan sosial. Atau memang kebanyakan wanita di tanah Arab menyukai peran domestik sebagai warisan leluhurnya.

Memang memprihatinkan nasib wanita di kawasan Timur Tengah, selain mereka secara umum menghadapi tembok absulutisme, di sisi lain, ketika keran kebebasan telah dibuka, sebelum mendapatkan angin kekebasan sebagaimana yang dinikmati oleh kaum Adam, meraka masih menghadapi fase kedua yang datang dari hambatan budaya lokal yang dijustifikasi dengan doktrin-doktrin agama, baik yang bersifat teologis maupun syariat.

Di Negara muslim bagi kalangan perempuan juga merupakan situasi beban ganda makin meningkat karena selain meningktakan ketaqwaan tetapi juga harus konsisten pada tugas lainnya. Bagi kalangan adam bulan puasa lebih memilih waktu luang lebih karena pekerjaan rumah terkadang lebih banyak dibebankan pada kaum perempuan.
Citra perempuan di bulan Ramadan lebih banyak dilihat sebagai narator tumbuhnya produk konsumsi sangdang dan pangan. Jikalau menilik iklan prodak selama bulan Ramadan di Indonesia, posisi lelaki selalu ditonjolkan di ruang public sedangkan perempuan selalu di dapur dan berupaya fokus pada ruang kecil dan menjaga anaknya. Tetapi di sisi lain, wanita diekpresikan sebagai makluk boros dan suka belanja demi mendapatkan diskon sebanyak-banyaknya. Narasi seperti ini sudah biasa ditemukan di banyak iklan di layar kaca kita. Sekalipun ini masih dianggap menguntungkan dari pada kalangan perempuan di wilayah timur tengah.

Cerita lain, Kongsi Konsumsi Muslim Amerika (AMCC) pun merilis sebuah studi mengenai hal tersebut, mereka menemukan sekitar dua miliar muslim seluruh dunia -sembilan juta berada di Amerika Utara dan 60 juta berada di Eropa. Menurut Pendiri AMCC Sabiha Ansari, setidaknya sekitar US$100 miliar kekuatan ekonomi warga muslim di Amerika Serikat. Dia mengatakan, setidaknya ada satu toko Starbucks di AS yang buka lebih telat dibanding waktu biasanya pada Ramadan, untuk pelanggan yang berpuasa pada siang harinya.

Ramadan sebagai bulan yang membebaskan bukan berarti memiliki makna penentangan kepada lokus kerja dengan lelaki. Tetapi lebih kepada bentuk kesadaran murni melihat perempuan juga perlu memilih bentuk kegiatan dan tindakan. Rutinitas kita boleh anggap sebagai mekanisme harian dan bukan sistem menutup ruang. Hak perempuan harus tumbuh mulai dari pembagian jam kerja maupun waktu berkualitas dalam menjalankan sebuah ibadah. Karena tuhan bukan hanya milik kalangan adam saja.

 

Penulis: Estetika Handayani (Direktur Estetika Institute)



Terkait