Binanalar

Dibalik Perayaan Diamond Jubilee dan Kemegahan Britania

SUARA 01 Jan 2019 01:09

Dibalik Perayaan Diamond Jubilee dan Kemegahan Britania

binanalar.com

Binanalar.com -  22 Juni 1897 merupakan peringatan naiknya ratu Victoria ke tahta Britania. Sekitar 400 juta orang hadir dalam agenda perayaan Diamond Jubilee. Acara tersebut dihadiri oleh 11 perdana mentri negara merdeka dibawah persemakmuran Britania, pangeran bangsawan, duta besar, dan utusan dari seluruh penjuru dunia.

Tak hanya itu Diamond Jubilee dirayakan dengan meriah di tiap pelosok Imperium Britania. “di Hyderabad sepersepuluh narapidana dibebaskan, di Ranggon diadakan pesta dansa mewah , Sultan di Zanzibar membuka jamuan makan malam di istana, Hongkong mengadakan Happy Valley  dan pesta Hallelujah Chours dengan hidangan makan besar” James Morris.

Semenjak itu perayaan Diamond Jubille terus dilangsungkan demi memperingati naiknya victoria dari Britania Raya yang memiliki peran dalam ekpansi terbesar dalam sejarah dan memberikan revolusi industri terhadap Amerika.

Hal yang mungkin sering terlupakan bahwa betapa dalam bayangan Imprerium yang dilakukan oleh Britania mencangkup seperempat daratan di muka bumi dan dihuni oleh seperempat dari total populasi global. Jejaring koloni, teritori, pangkalan dan pelabuhan yang dijalankan oleh London terentang di seluruh muka Bumi, sedangkan emperium itu sendiri dilindungi oleh angkatan laut kerajaan, kekuatan maritim paling perkasa sepanjang sejarah.

Saat Diamond Jubilee, 165 kapal yang membawa 40.000 awak dan 3.000 senjata dipamerkan di Portsmouth – armada terbesar yang pernah dikerahkan sepanjang zaman. Bahkan di seperempat abad berikutnya, Imperium Britania dihubungkan oleh kabel bawah laut sepanjang 170.000 mil laut dan kabel udara serta bawah tanah sepanjang 662.000 mil, sedangkan kapal-kapal Britania memfasilitasi pembangunan jaringan komunikasi global yang pertama lewat telegraf. Bakan terhubung juga rel kereta api dan terusan ke daerah Suez yang mempererat hubungan antara Britania dan Suez. Hal demikianlah yang diciptkan oleh Imperium Britania untuk pertama kalinya benar-benar membuat pasar yang benar-benar global.

Ide-ide Amerika pada saat itu digemari oleh Rakyat pada abad ke -19  yang memulai munculnya “kekuatan lunak”. Berkat imperium tersebut, bahasa Inggris menyebar sebagai bahasa global, dipergunakan dari kepulauan Karibia sampai Kairo dan dari Cape Town hingga Kolkata dan sastra Inggris menjadi dikenal luas dimana-mana – shakespeare, Sherloke Holmes, Alice in Wonderland, Tom Brown’s School Days.  

Victoria, yang hampir sepenuhnya berdarah Jerman (kecuali dari leluhurnya Sophia dari Hanover yang merupakan cucu dari garis perempuan dari James I), adalah ratu terakhir dari Dinasti Hanover; penggantinya, Raja Edward VII berasal dari Dinasti Saxe-Coburg dan Gotha. Victoria (lahir Alexandrina Victoria di Istana Kensington, London, Inggris, 24 Mei 1819 – meninggal di Rumah Osborne, Isle of Wight, 22 Januari 1901 pada umur 81 tahun) adalah Ratu dari Britania Raya dan Irlandia dari 20 Juni 1837, dan Maharani India dari 1 Januari 1877, hingga wafatnya pada 1901.

  

Megahnya Britania dan Jangkauannya

Pemerintahan Victoria ditandai oleh ekspansi besar-besaran dari Imperium Britania. Zaman Victoria adalah puncak dari Revolusi Industri, suatu masa perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi yang penting di Britania Raya. Pada masa tersebut, Imperium Britania mencapai puncaknya dan menjadi suatu negara adi kuasa yang digjaya.

Pemerintahannya berlangsung 63 tahun, 216 hari, lebih lama dari raja atau ratu Britania Raya manapun sampai 9 September 2015 yang kemudian digantikan oleh anak sulung cicitnya, Ratu Elizabeth II sebagai penguasa Britania Raya terlama. Victoria berhasil mempertahankan keberadaan sistem monarki di Inggris dan menjadikannya sebagai institusi politik seremonial. Pada masa pemerintahan itula, aksi represi terhadap rakyat di kawasan- kawasan koloni Inggris meningkat secara signifikan.

Sejarawan Claudio Veliz menyoroti kedua imperium terkuat pada masa itu antara Britania dan Spanyol  yang sama-sama berusaha mengekspor pemikiran dan tradisi mereka ke koloni-koloni di Barat. Spanyol melakukannya melalui gerakan Reformasi Katolik yang menyebar di dunia Barat, sedangkan Britania menggunakan kebebasan beragama dan suburnya kapitalisme menjadi model revolusi mereka sehingga ide-ide Britania ternyata terbukti lebih universal dari pada ide-ide Spanyol.

Ide-ide Britania menjadikan konsep kerja dan rekreasi dalam masyarakat moderen dijiwai oleh nilai-nilai bangsa industri pertama di dunia. Tak diragukan lagi Britania merupakan pengekpor budaya paling sukses sepanjang sejarah umat manusia.

Kini sejarahnya diperingati oleh negara Amerika sebagai perayaan internasional yang menandai 60 tahun aksesi masa kepemimpinan Victoria sebagai abad yang di mimpi-mimpikan Amerika sebagai bentuk kekaguman, dan banyak ditiru oleh banyak negara yang lainnya.

Britania telah menjadi negara kaya adan kuat selama berabad-abad, tetapi superoritasnya dibidang ekonomi hanya bertahan satu generasi atau lebih sedikit. Pada saat itu, Britania menyumbang lebih dari 30% dari total PDB global. Konsumsi energinya lima kali lipat dari konsumsi Amerika Serikat serta Prusia dan 155 kali lipat Rusia. Selain itu, seperlima aktivitas perdagangan dan dua perlima manufaktur di dunia melibatkan Britania. Padahal jumlah penduduknya hanya 2% dari populasi dunia.

Kita sering keliru menyoroti peristiwa besar – misalnya Diamond Jubilee, yang saat itu dianggap sebagai keperkasaan hanya dilewati pada tahun antara 1845 sampai 1870., nyatanya pada tahun 1897 masa kemajuan Britania dalam sejarah telah berlalu.

 

Zuyin Arwani (1)



Terkait