Binanalar

Wara-Wiri Indentitas Mahasiswa Ciputat

SUARA 06 Nov 2018 22:45

Wara-Wiri Indentitas Mahasiswa Ciputat

binanalar.com

Binanalar.com - Cinta dan aktivisme dua kata yang barang kali menggambarkan dua hal tentang kecamatan kecil Tangerang Selatan, Ciputat. Menjadi mahasiswa di lingkungan kampus Ciputat banyak menyisakan kesan mendalam. Entah kenapa belakangan seloroh pegiat kampus hampir sama nuansa analisis detail mendalam tentang nuansa problematika bangsa kita tidak tajam lagi. Rasa yang diangkut moderenitas nyatanya banyak menyediakan petualangan rasa yang jauh lebih luas dari pada merinci manuskrip keilmuan dari para intelektual pendahulu.

Cita-cita menjadi aktivis bukan lagi denyutan nadir yang mendalam, ehtah mengapa pengertian aktivis kian mencair dalam menyerap dalam ruang aktifitas praktis di kampus. Wajar jika para mahasiswa baru masuk kampus lebih menitiberatkan harapan menjadi profesional dibandingkan merangkap banyak kerja sosial dan pembangunan.

Jika berangkat dari Karl Popper The History of Property aktivisme memang sebuah laku kesibukan tanpa jam dan keluar menengok kesibukan lain nan beragam. Aktivisme memang kian hari diartikan dari sudut paradok dan lebih dekat dengan sosok demoagog politik yang mengincar kekuasaan. Alhasil phobia rasanya jadi aktivis, lebih enak menjalani kehidupan normal dan tanpa cheos serta menjadi orang optimis dengan segudang impian di sebuah negara dengan sistim dianggapnya serupa nirwana ini.

Sedari awal penulis mengingat masa awal kuliah melihat banyak mahasiswa dengan nomo-karakter, kadangkala solitaritas lebih akrab dijalaninya namun berprinsip kuat dan tidak terjebak subjektivisme. Kini, rasa-rasa kita semua semakin sama terbawa arus globalisasi. Persis apa Herbert Marcuse katakan bagai manusia satu dimensi. Kita kian seragam dalam banyak frasa ucapan, kebiasaan, serta nalar pikiran.

Demonstrasi mahasiswa kian dikutuk dengan seharga upah bayaran. Sudah lusuh dan tidak mewakili gaya muda-mudi masa kini. Celana bolong serupa bukan alat identitas anti fashion dari mode-mode yang ada era ini, bahkan lebih mirip ekpresi junkis metropolitan nir-substansi. Narasi Michel Foucault mungkin luntur jikalau ilmu adalah kekuatan, di saat kurang mandirinya kita dengan nalar kritis. Pengetahuan makin terpusat dalam rangkap media massa. Buku sudah tidak jadi rujukan, hanya sekedar pelepasan kekangan rutinitas dosen malas di kampus. Perpustakaan sepi dari aktivitas dialogis, kaku, dingin, namun dirindukan.

Ciputat lumbung perkaderan dari banyak warna warni organisasi mahasiswa, tetapi juga basis massa murah yang siap saji di televisi swasta, kegiatan partai, LSM sebagai penonton bayaran. Kadang penulis menutup mata dan berdoa agar kamera tak menemukan emblem kampus Ciputat. Nihil harapan itu, semakin hari mahasiswa Ciputat berekpresi ria di sana. Alasannya pun beragam, mulai dari sekedar hanya ingin nongol di kamera, bertemu artis, bahkan mencari pemasukan dana yang defisit untuk agenda kampus.

Memang kata Hobbes kita digiring mengikuti sebuah motif untuk melakukan sesuatu, di sanalah eksistensial itu ada dan berakar. Lalu motif seperti apakah? Ya tentu kita meletakkan koreksi ulang. Apakah jangan-jangan mengaku aktivis di jaman edan sebuah motif yang bertentengan dengan kehendak zaman. Gerakan mahasiswa kampus semakin berwujud perkaderan politik. Menyusun banyak agenda perjuangan struktutral, dengan sederet bongkar pasang di tampuk kepemimpinan kampus. Gaya kekuasaan yang merujuk anak muda 70-an bahwa lewat kekuasaan dapat merubah segalanya.

Organisasi ekstra kampus di Ciputat terus berlomba massa. Amunisi praksis untuk mendulang kepemimpianan. Tak sebanding rasanya jika toko-toko buku yang terus gulung tikar, wahana kajian yang menyusut, belum didaratkan sebagai format utama yang diperhatikan. Belum lagi, ekpresisi responsip lebih terlihat remeh temeh dan masuk dalam tabung budaya massa yang miskin substansi. Evolusi musik, K-POP, Costplay, menyerap makin dalam untuk ditunjukkan sebagai identitas masa kini. Walaupun, ada sedikit gelihat aktifitas kritis yang coba melawan dan menjaga budaya akademis. Sekalipun aromanya makin parau dan tak membuat silau minat mahasiswa.

Penulis berharap kita harus menyudahi simplistis ini, dan coba rekonstruksi ekpresi mahasiswa yang kritis dan progresif. Kita seharusnya banyak mengambil tempat kerja dalam aspek pembangunan masyarakat. Jangan kembali masyarakat dipaksan untuk mengakui kekalahan tanding pongah kuasa negara. Lirih, bahwa aksi massa mengemas agama, partai, partisan pendukung calon presiden jauh lebih perkasa dan menundukkan media massa dan kalangan sadar.

Kita tidak usah memakai mana ideologi kanan kiri jika sejatinya itu berakhir sebagai konsep belaka. Sudahi saja ejakulasi memoria cerita tetua, ketua, senior, yang berimplikasi ketaatan ala feodalisme yang menundukkan pribadi merdeka dalam diri kita. Jangan lagi kita mengulang historikal tetap tak mampu mengulanginya. Lupakan dan rangkai ulang! 

 

Penulis: Bukan Timses Calon Presiden

 



Terkait