Binanalar

Mahasiswa Jakarta, si Penikmat Sejarah

SUARA 15 Sep 2017 17:33

Mahasiswa Jakarta, si Penikmat Sejarah

binanalar.com

Bismillaahirrohmaanirroohiim..

Hari ini tepat pada hari Jumat, hari suci, penuh berkah, begitu lah iming-iming yang tertera dalam agamaku, Islam. Aah! Bak punya pengetahuan banyak saja aku berbicara agama. Tapi mengapa tidak? Kupikir itu adalah salah satu bukti kerinduanku pada-Nya, Sang Maha Kasih, yang selalu memberi hambanya berulang-kali kesempatan untuk menjemput cintanya. Tentu kukatakan iming-iming agama, karena menurutku, hari apa pun itu adalah hari baik, selama hari-hari itu dihabiskan dengan amal-amal yang akan mengantar kita pulang pada-Nya kelak.

Ya, hari ini, Jumat tanggal 14 September 2018 merupakan hari kesekian kalinya mahasiswa-mahasiswa daerah melakukan aksi dengan membawa pengeras suara, turun ke jalan, bergandengan tangan, beriringan, dan menyanyikan lagu “Inilah kawanku, inilah kawanku, datang untuk orasi…” Itulah sepenggal baris isi lagunya. Beberapa hari yang lalu mahasiswa yang berhimpun pada organisasi Mahasiswa Islam di Sumatera dalam sebuah video juga mengajak seluruh mahasiswa se-Nasional (Indonesia) untuk ikut kembali menjadi penyambung lidah rakyat dengan konkret, turun ke jalan.

Yang pada mulanya sangat hangat ditayangkan dalam vidio lainnya di facebook adalah mahasiswa dari Nusa Tenggara Barat, tepatnya Bima. Serupa dengan yang lain, mereka (mahasiswa Bima) turut aksi untuk melawan rezim hari ini yang belakangan kinerjanya memang mengecewakan dan menyengsarakan rakyat. Lagi lagi rakyat. Penulis sebetulnya seperti meregenerasi ucapan-ucapan orang-tua dulu, yang apa-apa membawa nama rakyat, apa-apa atas nama rakyat, tapi semuanya kan untuk membangun citra alias omong kosong. Tapi, untuk kali ini, ijinkan penulis menyampaikan ketulusan atas nama rakyat. Bukan untuk membangun citra apalagi mengumbar janji-janji palsu seperti kandidat-kandidat legislatif yang sekarang duduk di kursi-kursi elit pemerintahan.

Berulang-kali penulis menyatakan melawan di atas. Pertanyaannya; siapa yang harus dilawan? Mengapa dilawan? Dua hal tersebut semoga bisa mewakili pertanyaan dari pembaca juga. Menurut penulis, yang harus dilawan tentu saja orang-orang yang hari ini menjadi pemegang rezim. Rezim yang menggaungkan Kerja, Kerja, Kerja. Mengapa harus dilawan? Kalau kita melihat barang semenit ke pelajar, katakanlah murid sekolah dasar. Ketika selesai ulangan, murid yang nilainya tidak mencapai standar KKM yang ditetapkan akan segera mengikuti remedial, sehingga pada saat penerimaan rapot, tidak ada nilai berwarna merah, dan orang-tua tidak kecewa.

Begitu pula dengan pemegang rezim hari ini. Sebelum sampai garis finish, banyak kinerja-kinerja yang kontra dengan kebutuhan masyarakat, sehingga banyak perlawanan yang terjadi melalui suara-suara mulia mahasiswa yang masih terketuk hatinya membela bangsa ummatnya. Kalau belajar dari murid sekolah dasar yang harus remedial, artinya si pemegang rezim harus mecoba lagi, menjalankan roda kepemimpinannya di periode yang akan datang, sehingga diharapkan ia (si pemegang rezim) dapat memenuhi standar kesejahteraan rakyatnya. Dengan realita yang terjadi hari ini, seperti TKA yang illegal, harga minyak yang naik sampai produksi premium yang langka, dan klimaksnya nilai Rupiah yang anjlok, apa si pemegang rezim akan diberi kesempatan untuk bisa remedial pada periode selanjutnya? Jawabannya penulis kembalikan kepada perspektif pembaca tentunya.

Berbicara rezim tentu erat kaitannya dengan kekuasaan. Kekuasaan yang ada di Indonesia secara de facto banyak ditempatkan di daerah ibu kota, DKI Jakarta. Pusat dari segala bentuk penanganan kepemerintahan ada di sini, Jakarta. Seharusnya mahasiswa-mahasiswa yang ada di Jakarta bersenang-hati dengan kemudahan itu dapat bersama-sama menyuarakan perlawanan atas kedzaliman si pemegang rezim hari ini. Sayangnya tidak! Ini lah mengganjal dalam hati penulis.

Mahasiswa-mahasiswa DKI Jakarta yang berpotensi menjadi poros pergerakan, nyatanya nihil! Bahkan Cilosari 17, Sekretariat Bersama Himpunan Mahasiswa Islam se-Jakarta yang meng-klaim sebagai Pusat Pergerakan Mahasiswa Jakarta, hari ini terbukti OMONG KOSONG! Mengapa omong kosong? Ya, dengan segala fenomena keruwetan penduduk Jakarta, bahkan se-Indonesia, tidak ada satu pun yang menginisiasi perlawanan atau seruan aksi dari yang katanya pusat pergerakan mahasiswa Jakarta tersebut. Lebih cocoknya, Selamat tinggal Cilosari 17 yang dulunya sebagai motor penggerak mahasiswa! Semuanya tinggal sejarah.

Mengingat perkataan seorang narasumber pada sebuah pelatihan, “Kemana Mahasiswa hari ini?” pertanyaan ini sangat cocok ditujukan kepada mahasiswa Jakarta, dan seluruh ruangan hening, tidak ada jawaban. Ditambah lagi, guru di salah satu Perguruan Tinggi Islam angkat bicara, “Banyak yang bilang, dulu tuh Islam Jaya loh, dulu tuh peradaban Islam paling bagus, tidak ada yang bisa menandingi,” lalu begini kelanjutannya, “Ya itu dulu! Artinya kamu itu masih terlena dengan sejarah!”

Sayangnya yang kau agung-agungkan itu tinggal sejarah, yang bukan terjadi dimasa-mu. Idealnya kan kau harusnya mencipta sejarah baru yang lebih baik, dan minimal meneruskan kebaikan-kebaikan sejarah di masa sekarang. Nyatanya kan tidak! Dengan kata lain, keangkuhan-keangkuhan hari ini pada ummat Islam, atau mahasiswa yang mengaku sebagai poros pergerakan itu adalah akibat ke-terlenaannya pada kejayaan masa lalu.

Faktanya nilai-nilai mulia yang mendekatkan hamba pada Khalik-nya atau kader pada cita-cita agung Organisasinya hanya sebatas teks, tanpa adanya action. Dan itu pula lah yang hari ini terjadi pada Himpunan Mahasiswa Islam yang hari ini sedang mempersiapkan Sekolah Kepemimpinan, Milad Kohati, dan hanya berkutat pada ruang-ruang wacana. Semu!

Tulisan ini adalah bentuk kegelisahan fenomena mahasiswa Jakarta yang bisa dipanggil sleeping beauty, bentuk perlawanan kepada siapa pun pemegang kuasa yang dzalim, dan bentuk ikhtiar sebagai hamba, serta pertanggung-jawaban sebagai kader ummat kader bangsa, Himpunan Mahaiswa Islam, sebagai mahasiswa Jakarta, dan sebagai rakyat Indonesia. Aku MELAWAN!

Oleh: Nurhidayah Rangkuti



Terkait