Binanalar

Ramadhan dan kemenagan kekemanusiaan?

SUARA 18 Jun 2018 22:03

Ramadhan dan kemenagan kekemanusiaan?
www.sindonews.com

binanalar.com

 

Binanalar.com- Bulan ramadhan adalah bulan suci yangg didalamnya penuh perjuangan menahan hawa nafsu. Ramadhan yang datang setiap tahun sekali selalu disambut dengan suka cita oleh umat islam seluruh dunia, bulan ketika pintu langit dibuka seluas-luasnya, manusia berlomba memohon ampunan dan memperbaiki hubungan horizontalnya sesama manusia maupun secara vertikal dengan penciptanya. Selama kurang lebih tiga puluh hari kesempatan taubat Tuhan berikan kepada umat manusia bahkan hingga detik-detik menjelang hari kemenangan yang fitri tiba. 

Tuhan tidak hanya memberi tempat istimewa bagi mereka yang telah melaksanakan ibadah puasa satu bulan penuh, namun juga bagi mereka yang meski berpuasa satu dua kali selama sebulan. Sebab inti ramadhan adalah ketulusan niat untuk merenungkan kembali tindakan atau sikap yang salah dan ketulusan berjuang merubah diri dan lingkungan dalam arti kebaiki Dari pada sekedar seremonial belaka bahkan terkesan menjadi konsumtif.

Dalam salah satu bait puisi yang berjudul nasehat ramadah, Gus Mus pernha mengkhawatirkan diri memandang ramadhan sebatas memindahkan aktivitas makan dan minum, bukan memanfaatkan sebagai momentum meningkatkan kualitas spiritual dan kesadaran bahwa kandungan bulan ini merupakan refleksi untuk menyadarkan arti penting peduli kepada sesama manusia. Bila sering kali dalam memahami manusia yang kekurangan secara materi dapar kita analisis secara teoritis dann tepat namun tak dikuti dengan tindakan nyata, maka dalm bulan ini secara tidak langsung kita dididik secara konkrit bagaiman rasanya perut panas kelaparan yang akrab dengan manusia dilur sana. 

Kondisi antara orang kaya, miski, pintar, bodoh, brandalan dan yang soleh sama saja, sema-sama kelaparan, bila mereka duduk satu meja dan berdiskusi tentang penderitaan kekurangan makan minum niscaya dapat menemukan solusi bersama, sebab merek akan mudah terhubung secara emosianal dan fikiran atas sitiasi yang dirasakan. Inilah mungkin yang oleh antoni gramci disebut intelektual organik, saat satu sama lain berusaha saling bersinergi mengatasi masalah bersama secara langsung. Akan sangat berbeda apabiala berbicara kondisi masyarakat yang miskin dan melarat dengan perut kenyang mungkin yang terjadi hanya omong kosong atau sebatas tahu secara teoritis tapi tidka menyuguhkan penyelesain. 

Dalam suatu hadits diteragkan bahwa allah baru menerima permintaan maaf seornag manusia setealah manusia tersebut meminta maaf terlebih dahulu kepada manusa yang ia rugikan, tuhan sangat menekankan sekali arti penting memelihara hubungan dengan sesama, baru sesudah hal itu terpenuhi ia dapat menghadap kepada tuhan, merenungkan kembali kesalahannya, melatih  menahan dari perilaku yang merusak dan berserah diri penuh kerendahan hati, inilah kandungan ramdhan secara luas, dan menjadi rasional bahwa bulan suci ini begitu istimewa seperti medan perjuangan membersihka diri dari nafsu yang merugi serta optimailisasi rasa kemanusian dan spiritualitas dalam mmenigkan hubungan dengan penciptanya.

Semoga ramdahan memberi kita beri berkah atas perjuangan melatih diri dan dapat menjadi harapan kebaikin dari niat merubah diri menjad lebih baik lagi, terutama harapan agar segala penjuangan selama bulan suci ini bersifat kontinuitas hanya dengan itu kita benar-benar dapat merayakan kemanangan di hari yang fitri ini. 

 

Penulis: 

Muchlis

(Pimpinan Redaksi Senja)



Terkait