Binanalar

FIDIKOM UIN Jakarta Telaah Konsep Etnografi Digital Dalam Da’wah Virtual

KABAR 15 May 2020 16:06

FIDIKOM UIN Jakarta Telaah Konsep Etnografi Digital Dalam Da’wah Virtual

binanalar.com

Binanalar.com - Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FIDIKOM) UIN Jakarta serius membedah tema kajian virtual. Dikemas dalam bentuk Webinar berskala nasional cukup memancing para akademisi untuk ikut. Tidak kurang 96 peserta yang rata-rata merupakan pengajar di berbagai kampus ikut meramaikan pertemuan online ini, Selasa (12/5).

Webinar Nasional dengan tema “Dakwah Virtual: Telaah Etnografi Digital” selain mendorong peningkatan pengalaman keilmuan, acara tersebut juga menjadi bagian dari syukuran ulang tahun FIDIKOM UIN Jakarta ke-30. Webinar Nasional ini menghadirkan narasumber seperti Moch Fakhruroji (Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung), Wahyuddin Halim (Fakultas Ushuludin dan Filsafat UIN Alaudin Makassar), Rully Nasrullah (FIDIKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), sebagai moderator Fita Fathurokhmah (FIDIKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).

Wahyuddin Halim selakun pemateri menjelaskan bahwa Etnografi merupakan salah satu metode penelitian kualitatif yang dilakukan dengan cara peneliti berpartisipasi dengan yang sedang diteliti, peneliti terlibat dan mendokumentasikan segala data yang ditemukan dalam penelitian yang pada akhirnya kita dapat memahami fenomena dari mereka dilapangan bukan kita memahami fenomena dari interpretasi peneliti.

“Kalau etnografi internet itu prosedur penelitian kualitatif di internet seperti facebook, instagram, youtube, dll untuk menggambarkan, menganalisis, dan menafsirkan unsur-unsur dari sebuah kelompok budaya seperti pola perilaku, kepercayaan, dan bahasa yang berkembang dari waktu ke waktu. Fokus dari penelitian ini adalah budaya penggunaan media online,” terangnya.

Moch.Fakhruroji menambahkan penjelasan bahwa kajian dakwah virtual tidak hanya dapat digunakan dengan metode etnografi saja, tetapi dapat digunakan juga dengan metode lain. Misalnya metode Netnografi. Persoalan utama yang harus dijawab dan menjadi debatable adalah isi komunikasi virtual itu nyata atau hanya interaksi semua. Virtual reality dijelaskan sebagai substansi bukan pada praktisnya, kita hadir masing-masing ditempat berbeda berkomunikasi secara virtual tetapi makna substansinya itu sama saja dengan berkumpul.

“Komunikasi virtual merupakan komunikasi yaitu proses penyampaian dan penerimaan pesan yang terjadi di cyberspace atau virtual yang bersifat interaktif. Menurutnya akan ada pertarungan atau legalitas dakwah, apakah dakwah itu sebagai lembaga-lembaga otoritatif. Ada banyak istilah digunakan dalam menyebut fenomena munculnya pesan-pesan agama di internet, ada cyber-religion, digital religion yang kemudian dispesifikan menjadi istilah online religion,” tambahnya. [Red]

 

 



Terkait