Binanalar

Aliansi Mahasiswa Peduli Penghapusan Kekerasan Seksual : UNEJ Darurat Kekerasan Seksual.

KAMPUS 02 May 2019 17:31

Aliansi Mahasiswa Peduli Penghapusan Kekerasan Seksual : UNEJ Darurat Kekerasan Seksual.

binanalar.com
Kasus kekerasan seksual terjadi di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (FIB Unej). Lembaga Pers
Mahasiswa Ideas memuat dua laporan kasus tersebut, dengan menekankan pada ketiadaan regulasi
penanganan kasus kekerasan di kampus. Aturan yang Unej rujuk untuk menangani kasus kekerasan.
 
Seksual ialah Peraturan Pemerintah (PP) No.53 tahun 2010 tentang disiplin kepagawaian dan undang-
undang (UU) Aparatur Sipil Negara. Kedua aturan tersebut hanya fokus pada pemberian sanksi pada Dosen, tidak spesifik mengatur tentang penanganan kekerasan seksual. Akibatnya, ketika ada kasus
kekerasan seksual, Unej tidak memberi penanganan yang berpihak pada korban.
 
Dalam berita yang berjudul "Universitas Jember Tak Tegas Tangani Kekerasan Seksual, mulai akhir November 2018
sampai 5 Maret 2019, laporan kasus dan surat permohonan pemberhentian dosen terduga pelaku
mandeg." Lima bulan lebih berlalu dan belum ada penanganan atau keterangan jelas dari Unej.

Dalam konsolidasi terbuka pada Selasa, 30 April 2019 Mahasiswa dan beberapa masyarakat yang
resah terhadap kasus ini membentuk Aliansi Mahasiswa Peduli Penghapusan Kekerasan Seksual.
"Kami berdiskusi serta memberi usulan mengenai upaya apa yang bisa dilakukan untuk mencegah dan
menangani kekerasan seksual di kampus. Pengawalan terhadap isu kekerasan seksual membutuhkan dukungan dari banyak pihak. Media perlu kawal isu ini dengan mempertimbangkan hak-hak korban. Mahasiswa juga perlu sadar mengenai kekerasan seksual. Kampus harus memiliki komitmen untuk menjamin keamanan civitas akademika."
Forum konsolidasi tersebut menyepakati adanya aksi turun jalan.
Aliansi Peduli Penghapusan kekerasan seksual mendesak Unej agar membuat prosedur atau mekanisme penanganan kasus kekerasan seksual.
 
Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, pada 2 Mei 2019, Aliansi Mahasiswa
Peduli Penghapusan Kekerasan Seksual mempertanyakan kembali Unej sebagai lembaga pendidikan.
Aksi mulai pukul 09.00 WIB dengan titik kumpul aksi di kantin FIB Unej. Masa aksi akan berjalan
melalui fakultas-fakultas dan berhenti di depan gedung rektorat Unej.
"Kami akan melakukan orasi, aksi tiup pluit, tanda tangan petisi, dan teatrikal. Peluit merupakan simbol seruan atau peringatan terhadap kampus Unej. Melalui aksi ini, kami Aliansi Mahasiswa Peduli Penghapusan Kekerasan Seksual di Kampus menyatakan:
1. Menuntut pihak Unej untuk menindaklanjuti kasus Ruri secara berkeadilan. Meski berkas
laporan kekerasan seksual di FIB Unej sudah sampai di Kementrian Riset Teknologi dan
Pendidikan Tinggi, kami mendesak Unej agar terus megawal dan memastikan laporan tersebut
diproses secara berkeadilan.
2. Menuntut Unej membuat regulasi mengenai prosedur atau mekanisme penanganan
kekerasan seksual, dengan melibatkan civitas akademik dan Aliansi Mahasiswa Peduli
Penghapusan Kekerasan Seksual, selambat-lambatya 20 hari, terhitung setelah pernyataan ini
kami sampaikan.
3. Menuntut pihak Unej untuk menyampaikan secara terbuka kepada publik, mengenai proses
atau tindak lanjut dari poin satu dan dua." [red]


Terkait