Binanalar

Hafiz Al-Asad: Konstruksi Ulang Pikiran Kita Dari Sekarang

INSPIRASI 17 Nov 2016 12:36

Hafiz Al-Asad: Konstruksi Ulang Pikiran Kita Dari Sekarang

binanalar.com

binanalar.com - Learn their language, taste their foods and experience their culture begitulah tukasan singkat Hafiz Al-Asad saat ditanya mengenai ketertarikan di dunia Hubungan Internasional yang digelutinya. Lelaki kelahiran pulau garam Maudra tersebut, tak sungkan berbagi suka cita dirinya untuk meraih impian yang selama ini dirinya dambakan untuk bisa bersaing serta berbaur dengan warga dunia. Lewat keterampilan dalam berkomunikasi lewat bahasa asing, membuat Hafiz sapaan akrabnya dapat mendapatkan pengalaman serta bisa membuktikan bahwa kenyataan yang selama ini tentang orang Asia Tenggara tidak fasih dalam berbahasa inggris justeru fakta menunjukkan berbeda.

Dalam petualangan Hafiz saat mengikuti ajang pertemuan Internasional misal Summer School Scholarships on Intercultural Dialogue form United Nations 2012 di Portugal, dia mendapati sejumlah Negara Amerika Latin sangat kesulitan dengan berbahasa Inggris. Justeru negara seperti Filiphina mampu berdialog cukup baik. “Dulu saya berpikir bahwa orang Asia sama, yakni bahasa Inggrisnya kurang lebih seperti kita, sementara orang berkulit putih pintar sekali berbahasa Inggris. Nyatanya tidak demikian,” ujar alumni Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Hobbi nya dalam berkomunikasi antar budaya dan icip-icip makanan khas berbagai negara yang pernah dikunjunginya ini menjadi sisi lain dari keseharian Hafiz di sela-sela kesibukan pekerjaan di badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) United Nation Development Program (UNDP) Jakarta. Ketertarikan pada isu-isu Islam dan Demokrasi di Indonesia membuat dirinya sangat menaruh perhatian pada bidang tersebut. Terbukti berkat perhatian atas karya dan kretifitasnya selama ini mengantarkan dirinya pada banyak pernghargaan diantaranya Juara II National Video Competition on Democracy  2012 dari Kedutaan Besar Amerika Serikat Indonesia serta Maarif Fellowship 2015 for Culture and Humanity dari Maarif Institute.

Hafiz menekankan perlunya mengasah kemampuan dan keberanian guna menghadapi tantangan ke depan. Dirinya melihat, mental kita terlalu memposisikan sebagai inferioritas sehingga memathahkan semangat. Kondisi seperti tersebut menurutnya juga dialami  oleh mahasiswa yang berasal dari kampus Islam. Dalam perngalamanya, dirinya beberapa kali dicecar dengan pertanyaan yang agak mengucilkan dengan merujuk pada institusi kampus di mana dirinya belajar yaitu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.  

Bebepapa pernyataan yang sering diterimanya “Kamu kan anak UIN, memang bisa kuliah ke luar negeri?” dan lain sebagainya. Pertanyaan seperti itu menurutnya tidak hanya datang sekali atau dua kali, tapi berkali-kali. Sehingga kadang Hafiz berkesimpulan, bahwa jika konstruksi berpikir seperti ini yang dipelihara, kapan kita akan majunya?.”Saya seringkali menekankan kepada adek-adek, bahwa di manapun kamu kuliah, apapun jurusan yang kamu ikuti, keinginan untuk terus maju dan berkembang harus tetap ada dalam benak kita. Karena kampus dan jurusan, bukan jaminan kemana langkah kita kedepan akan terpacu,” ujar lulusan Ball State University, Indiana, Amerika Serikat Tersebut.

Peluang bagi mahasiswa dari kampus-kampus islam justeru sangat memungkinkan diperhitungkan. Mengingat sejumlah konflik di Timur Tengah juga harus dicarikan solusi penyelesaiannya. Hafiz menyarankan, Sebagai mahasiswa dari Universitas berbau Islam, mungkin hal lain yang harus kita sikapi dengan arif juga adalah konstelasi di Timur Tengah. Penting untuk melihat kondisi di sana secara jelas dan objektif untuk menghindari hal buruk yang terjadi di kawasan teluk, seperti Syiria, Yaman, dan lain sebagaianya di Indonesia.

Peneliti muda di Maarif Institute tersebut, melihat kesanggupan untuk menjawab tantangan oleh mahasiswa kedepan semakin berat. Jika berkeinginan untuk bersaing dengan mahasiwa di berbagai negara minimal kita dapat melakukan dari keilmuan yang didapat. Sejak tahun 2015 banyak agenda Internasional seperti Asean Free Trade Area hingga Post-2015 Development Goals yang baru akan berakhir hingga tahun 2030 mendatang. Caranya sederhanya tinggal bagaimana mencapai targer-target tersebut. “Jawabannya mengacu kepada goals atau target pencapaian yang sudah dicanangkan tersebut. Kedepan dari sekarang, kehidupan akan semakin dinamis dan kompetitif, masing-masing dari kita harus memiliki keahlian, keahlian apapun itu, baik itu dalam dunia sosial, eksak, berikut turunannya. Jika tidak, kita tidak akan memiliki bargain,

Feel the wind and let it flies your feeling up to the skies, begitulah jawaban kala ditanya motto dirinya yang rasa-rasanya perlahan-lahan menjadi kenyataan. Dalam kenyakinannya, dia merujuk Alquran bahwa Tidak perduli sebesar biji zarrah pun dosa yang kamu lakukan, Allah tidak akan pernah salah dalam menghitungnya maka, ini juga berlaku dalam Impian. Bahwa, sekecil apapun usaha kita, pasti akan dihitung oleh-Nya.”Suatu saat, cerita indah itu pasti akan menjadi cerita tersendiri dalam kehidupan kita,” pungkas penerima Beasiswa Master dari LPDP di Harvard University, Amerika Serikat tersebut.

Penulis : Melqy Mochamad [Frankfurt Studies Tjipoetat]



Terkait