Binanalar

Cordoba, Komplek Moderen Abad Ke-7

KRONIK 06 Jun 2018 09:59

Cordoba, Komplek Moderen Abad Ke-7
Salah satu sudut Istana Kejaraan Kordoba kokoh berdiri yang kini warisan duni destinasi pariwisata Internasional.

binanalar.com

Binanalar.com- Apa yang terbayang dalam pikiran kita kala mengdengar kata Codoba. Pikiran kita langsung menjurus ke satu titik, Peradaban Islam. Cordoba merupakan kota dengan relief sejarah penting bagi peradaban Islam sama halnya dengan Granada di Spanyol. Sebagian besar pembangunan kota Cordoba banyak dipengaruhi  Dinasti Bani Umayah abad ke-7. 

Bani Umaiyyah kedua ini bertahan selama hampir 800 tahun (756-1492). Perkembangannya pesat, menyaingi Kerajaan Bani Abassiyah yang berpusat di Baghdad ketika itu. Di masa-masa kejayaannya, Cordoba menjadi bandar terkaya di Eropa. Di masa Khalifah Abdul Rahman I itulah, Masjid Cordoba dibangun dan dilanjutkan oleh penerusnya: Abdulrahman II, Al Hakam, dan Al Mansur.

Pada saat pemerintahan Bani Umayyah, Cordoba menjadi ibu kota Spanyol. Cordoba saat itu juga dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan. Volume kunjungan ke perpustakaan mencapai angka 400.000 kunjungan, sementara volume pengunjung perpustakaan-perpustakaan besar di Eropa lainnya jarang mencapai angka seribu.

mengalami kemajuan yang luar biasa di bidang ekonomi, sains, teknologi, dan budaya yang kelak menjadi cikal bakal bangkitnya Eropa. Pusat peradabannya berada di Cordoba, kota tua yang sangat indah dan megah dari sisi arsitektur. Di situlah kita bisa menyaksikan sebuah masjid megah yang kemudian berubah menjadi gereja setelah Cordoba takluk di tangan Kerajaan Spanyol pada abad ke-13.

Jatuhnya Cordoba menjadi pemicu runtuhnya daerah-daerah lain di kawasan Andalusia. Di antaranya, Seville yang runtuh pada 1248 dan Granada pada 1492. Sejak itu umat Islam di kawasan Andalusia ‘dibersihkan’ penguasa Spanyol sehingga peradaban Islam yang bersinar selama ratusan tahun pun meredup. Kini komunitas muslim di sana tinggal sekitar 2 persen dari populasi alias tidak sampai 1 juta orang.

Masjid Cordoba adalah salah satu saksi sejarah zaman keemasan Islam di Andalusia sekaligus sebagai saksi sejarah runtuhnya kekhalifahan Islam oleh Kerajaan Spanyol. Masjid yang didirikan pada 784 M di zaman Khalifah

 

(salah satu sudut di bagian komplem Cordoba)

 

Abdul Rahman I itu terus mengalami pengembangan pada zaman-zaman khalifah sesudahnya sehingga mencapai luas total hampir 2,5 hektare.​

Dari Mezquita, saya berusaha mencari jejak ilmuwan yang sangat terkenal di zaman keemasan Islam, yakni Averroes. Nama aslinya dalam bahasa Arab adalah Ibnu Rusyd. Dia seorang filsuf sekaligus ilmuwan yang sangat berpengaruh pada zaman itu. Puluhan karyanya diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa Eropa serta menjadi buku-buku referensi bagi ilmuwan-ilmuwan di zaman kebangkitan Eropa modern. Patungnya berada di luar benteng Mezquita.

Averroes (Ibnu Rusyd) lahir di Cordoba pada 1126 dan meninggal di Maroko pada 1198 dalam usia 72 tahun. Sebagai polymath yang menguasai banyak bidang keilmuan, Ibnu Rusyd menghasilkan puluhan karya di bidang matematika, fisika, geografi, kedokteran, psikologi, astronomi, filsafat, politik, bahkan seni musik. Puluhan bukunya yang menghiasi berbagai perpustakaan Eropa setara dengan 20.000 halaman. Itu jauh di atas karya-karya yang telah saya tulis selama sepuluh tahun terakhir, yakni 48 judul buku yang setara dengan sekitar 12.000 halaman.

(Patung Aveoroes atau Ibnu Rusyd simbol peradaban ilmu pengerahuan)

Sejumlah karya Ibnu Rusyd yang fenomenal adalah ensiklopedi kedokteran berjudul Kulliyat yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin menjadi Colliget. Juga, tulisan kritisnya terhadap karya Avicenna (Ibnu Sina) Canon of Medicine (Qanun fit-Tibb) sebagai pakar kedokteran pendahulunya.

Sejarahwan Philip K. Hitti menyebut Qasim Maslamah al-Marjiti mengubah dasar skema itu dari masa Yazdargid hingga periode Islam dan melangkah lebih jauh dengan menggantikan garis bujur arin dengan garis bujur Cordoba. Ia memiliki julukan “sang bijak” atau “sang astronom.” Namun, yang paling terkenal dia dijuluki “al hasib” atau ahli matematika. Ia wafat pada tahun1007 Masehi. [MQ]

 



Terkait